PENDAMPING JUGUN IANFU: Dewi Chandraningrum menunjukkan scarf atau kain selendang bergambarkan wajah para penyintas jugun ianfu di acara diskusi yang digelar di John Dijkstra Library Cafe, kemarin (AFIATI TSALATSATI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
PENDAMPING JUGUN IANFU: Dewi Chandraningrum menunjukkan scarf atau kain selendang bergambarkan wajah para penyintas jugun ianfu di acara diskusi yang digelar di John Dijkstra Library Cafe, kemarin (AFIATI TSALATSATI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Sedikit yang tahu kisah kelam di balik zaman Kolonial Jepang saat menduduki Indonesia. Ratusan wanita pribumi diculik pada umur belasan tahun, dipenjara, dan menjadi korban perbudakan seks oleh tentara Jepang.

AFIATI TSALITSATI

KISAH para korban budak seks yang lebih dikenal dengan jugun ianfu ini diangkat dalam sebuah diskusi terbuka Waroeng HAM oleh para aktivis gabungan lembaga pembela hak perempuan di John Dijkstra Library Cafe, Srigunting, Kawasan Kota Lama Semarang, Selasa (26/9).

Pendamping jugun ianfu, Dewi Chandraningrum, yang hadir dalam acara tersebut, mengisahkan bagaimana para korban diculik pada usia 9 hingga 15 tahun dan dipaksa menjadi budak seks yang melayani setidaknya 10 hingga 20 tentara Jepang setiap harinya. Kini, para penyintas jugun ianfu tersebut rata-rata sudah berusia 80-an tahun, dan hidupnya memprihatinkan.

“Mbah Sri Sukanti adalah jugun ianfu termuda, karena pada saat diculik beliau masih berusia 9 tahun. Beliau diperkosa oleh salah seorang jenderal Jepang yang berakibat rahimnya bocor dan tidak bisa punya anak,” ceritanya dengan mimik serius.

Dewi mengatakan, beberapa di antara jugun ianfu yang ditemuinya masih ada yang sehat. Seperti Mbah Sri Sukanti yang masih hidup dan tinggal di belakang kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Salatiga.

Dijelaskan, durasi perbudakan yang dialami para korban mulai 1 hari hingga 3 tahun. Bahkan satu di antara mereka, sempat berpikir untuk bunuh diri hingga akhirnnya ditolong oleh penduduk setempat pada waktu itu.

“Mereka berbeda dengan pekerja seks komersial yang memang datang atau ada di tempat itu, dan menetapkan harga untuk setiap pelayanan. Jugun ianfu ini diculik di bawah umur, lalu dipaksa melayani,” beber Dewi yang juga aktivis Jejer Wadon ini.

Saat ini, pihaknya dibantu dengan beberapa lembaga pembela hak perempuan sedang berjuang untuk memberikan keadilan bagi para jugun ianfu yang pada akhirnya menua dengan berbagai cibiran maupun cap bekas yang menempel pada dirinya.

“Umumnya para penyintas perbudakan ini dibuang dari keluarganya, bahkan diusir dari kampung, karena dianggap sebagai bekas dan tidak suci lantaran zaman dahulu, keperawanan dianggap sebagai tanda kesucian,” jelasnya.

Padahal, lanjut Dewi, saat ini oleh ginekologi disepakati bahwa keperawanan adalah sebuah mitos semata. Namun faktanya, perempuan dijadikan sebagai budak seks masih terus berlangsung hingga saat ini. Hal ini ditengarai pemahaman masyarakat, khususnya laki-laki yang memandang bahwa perempuan adalah properti atau barang.

Ia menegaskan, kasus demikian dapat diminimalisasi, bahkan sampai musnah dengan mengubah pandangan secara radikal, yakni tentang tubuh, bahwa perempuan punya otoritas dengan tubuhnya.

“Radikal yang saya maksud bukan kekerasan dengan membakar atau anarkisme lainnya, tapi perubahan mindset atau pola pikir secara global tentang hakikat perempuan yang dapat merenarasi budaya dalam masyarakat,” tandasnya. (*/aro)