33 C
Semarang
Selasa, 7 Juli 2020

Ada yang Rahimnya Bocor, Hingga Hampir Bunuh Diri

Dari Diskusi Jugun Ianfu, Kisah Perempuan Korban Perbudakan Sosial

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Sedikit yang tahu kisah kelam di balik zaman Kolonial Jepang saat menduduki Indonesia. Ratusan wanita pribumi diculik pada umur belasan tahun, dipenjara, dan menjadi korban perbudakan seks oleh tentara Jepang.

AFIATI TSALITSATI

KISAH para korban budak seks yang lebih dikenal dengan jugun ianfu ini diangkat dalam sebuah diskusi terbuka Waroeng HAM oleh para aktivis gabungan lembaga pembela hak perempuan di John Dijkstra Library Cafe, Srigunting, Kawasan Kota Lama Semarang, Selasa (26/9).

Pendamping jugun ianfu, Dewi Chandraningrum, yang hadir dalam acara tersebut, mengisahkan bagaimana para korban diculik pada usia 9 hingga 15 tahun dan dipaksa menjadi budak seks yang melayani setidaknya 10 hingga 20 tentara Jepang setiap harinya. Kini, para penyintas jugun ianfu tersebut rata-rata sudah berusia 80-an tahun, dan hidupnya memprihatinkan.

“Mbah Sri Sukanti adalah jugun ianfu termuda, karena pada saat diculik beliau masih berusia 9 tahun. Beliau diperkosa oleh salah seorang jenderal Jepang yang berakibat rahimnya bocor dan tidak bisa punya anak,” ceritanya dengan mimik serius.

Dewi mengatakan, beberapa di antara jugun ianfu yang ditemuinya masih ada yang sehat. Seperti Mbah Sri Sukanti yang masih hidup dan tinggal di belakang kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Salatiga.

Dijelaskan, durasi perbudakan yang dialami para korban mulai 1 hari hingga 3 tahun. Bahkan satu di antara mereka, sempat berpikir untuk bunuh diri hingga akhirnnya ditolong oleh penduduk setempat pada waktu itu.

“Mereka berbeda dengan pekerja seks komersial yang memang datang atau ada di tempat itu, dan menetapkan harga untuk setiap pelayanan. Jugun ianfu ini diculik di bawah umur, lalu dipaksa melayani,” beber Dewi yang juga aktivis Jejer Wadon ini.

Saat ini, pihaknya dibantu dengan beberapa lembaga pembela hak perempuan sedang berjuang untuk memberikan keadilan bagi para jugun ianfu yang pada akhirnya menua dengan berbagai cibiran maupun cap bekas yang menempel pada dirinya.

“Umumnya para penyintas perbudakan ini dibuang dari keluarganya, bahkan diusir dari kampung, karena dianggap sebagai bekas dan tidak suci lantaran zaman dahulu, keperawanan dianggap sebagai tanda kesucian,” jelasnya.

Padahal, lanjut Dewi, saat ini oleh ginekologi disepakati bahwa keperawanan adalah sebuah mitos semata. Namun faktanya, perempuan dijadikan sebagai budak seks masih terus berlangsung hingga saat ini. Hal ini ditengarai pemahaman masyarakat, khususnya laki-laki yang memandang bahwa perempuan adalah properti atau barang.

Ia menegaskan, kasus demikian dapat diminimalisasi, bahkan sampai musnah dengan mengubah pandangan secara radikal, yakni tentang tubuh, bahwa perempuan punya otoritas dengan tubuhnya.

“Radikal yang saya maksud bukan kekerasan dengan membakar atau anarkisme lainnya, tapi perubahan mindset atau pola pikir secara global tentang hakikat perempuan yang dapat merenarasi budaya dalam masyarakat,” tandasnya. (*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Kapolda dan Pangdam Kunjungi TPS Horor

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Kapolda Jateng, Irjen Pol Condro Kirono bersama Pangdam IV Diponegoro, Mayjen TNI Wuryanto melakukan pantauan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak, Rabu (27/6) kemarin....

Rayakan Cap Go Meh Dengan Kegiatan Sosial

RADARSEMARANG.COM - Desainer Anne Avantie bercengkerama dengan salah seorang penyandang disabilitas usai pembagian kursi roda di gedung Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong, kawasan Pecinan...

Edukasi Keuangan, CIMB Niaga Ajak Siswa SD Tour de Bank

SEMARANG- Untuk membangun Indonesia yang maju, dibutuhkan manusia yang berkualitas bersumber pada pendidikan yang berkelanjutan sejak usia dini. Atas dasar itu, CIMB Niaga ingin...

Perbaiki Komunikasi, Agendakan Simulasi

RADARSEMARANG.COM, JEPARA – Persijap Kartini sukses menempati peringkat ketiga dalam gelaran Bengawan Cup III yang berlangsung 18-22 Desember lalu di Stadion Sriwedari Solo. Meski demikian,...

Dibekuk, Dua Tahun Sodomi Siswa SMA

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN - Perbuatan Triworo Budi Santoso, 27, sungguh bejat. Warga Desa Genting, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang ini nekat menyodomi korban berinisial AK, 17 hampir...

Talud Longsor, Ancam Belasan Rumah Warga

RADARSEMARANG.COM, KENDAL—Akibat curah hujan tinggi sepekan ini, volume air sejumlah sungai di Kendal meluap. Selain mengakibatkan banjir, banyak talud sungai yang longsor. Salah satunya,...