Oleh: Erna Setyawati SS MPd
Oleh: Erna Setyawati SS MPd

BELAJAR Bahasa Inggris merupakan momok bagi peserta didik. Pada saat ini bahasa Inggris sudah diperkenalkan sejak dini, terutama di lembaga-lembaga pendidikan swasta atau International School. Tetapi masih banyak anak-anak yang enggan dalam mempelajarinya. Kemudian apa yang harus dilakukan guru, agar peserta didik mau belajar bahasa Inggris atas kemauannya sendiri dan dengan senang hati? Ini adalah sebuah permasalahan yang pelik bagi seorang guru, terutama guru bahasa Inggris. Seorang guru harus menemukan cara yang paling efektif dalam mengajar.

Berikut ini adalah salah satu cara jitu mengajar bahasa Inggris agar lebih menarik, yakni dengan cara bermain peran atau role play, dengan cara ini peserta didik merasa langsung terlibat dalam situasi dan kondisi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka menjadi lebih menikmati pada saat pembelajaran di kelas, bermain peran termasuk kegiatan yang menarik dan menjadi lebih gampang diingat khususnya dalam menguasai sebuah materi, karena mereka mengaplikasikannya dalam setiap kehidupan mereka.

Dengan bermain peran, peserta didik memerankan tokoh-tokoh atau benda-benda sekitar anak sehingga dapat mengembangkan daya khayal (imajinasi) dan penghayatan terhadap bahan kegiatan yang dilaksanakan. Dan tentu saja sebagai imbasnya, membuat kelas menjadi fun, meningkatkan perkembangan kognitif anak dan juga bermanfaat untuk mempermudah penguasaan dan kefasihan berbahasa Inggris peserta didik, selain itu bermain peran atau role play juga dapat memberikan tambahan vocabulary serta sentence baru bagi peserta didik.

Dalam kehidupan sehari-hari anak membutuhkan pelepasan dari kekangan yang timbul dari lingkungannya. Sehingga pembelajaran dengan bermain peran merupakan kesempatan bagi anak untuk mengungkapkan emosinya secara wajar, dengan bermain adalah berbuat sesuatu untuk menyenangkan hati (dengan alat tertentu atau tidak). Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan oleh setiap anak, bahkan dikatakan anak mengisi sebagian besar dari kehidupannya dengan bermain.

Dunia Bermain

Menurut pendapat ahli Suyadi (2009:17), dunia anak adalah dunia bermain. Belajarnya anak sebagian besar melalui permainan yang mereka lakukan. Sehingga jika memisahkan bermain dan belajar sama halnya dengan memisahkan anak dari dunianya sendiri. Untuk itu, melalui bermain peran inilah menjadi salah satu cara yang apik dalam mengemas sebuah pembelajaran bahasa Inggris.

Intoducing someone to someone else merupakan materi pembelajaran Bahasa Inggris wajib untuk peserta didik kelas X, dalam hal ini anak dalam satu kelas dibagi menjadi 7 kelompok, dan masing-masing kelompok terdiri atas 5-6 orang, dengan tema yang berbeda. Misalnya, “Introducing new friends to their parents”, “Intoducing parents to their teacher”, “Introducing his girl friend to their friends”, “Introducing new teacher to her grandmother and parents”, dan lain-lain.

Dalam hal ini, peserta didik diminta untuk memerankan sebuah dialog secara berkelompok dari tema yang sudah ditentukan dari hasil undian yang mereka dapat.

Dilihat dari proses pembelajaran di kelas, peserta didik sangat antusias, dan senang, sehingga secara tidak langsung mereka mampu membentuk kalimat dalam bahasa Inggris. Mereka banyak bertanya tentang vocabulary  yang berhubungan dengan Intoducing someone to someone else, sehingga dari kegiatan ini, mereka sudah belajar banyak kosakata dengan tema yang terkait tanpa mereka sadari. Dilihat dari riuh tawa dan sorak sorai peserta didik saat maju memainkan peran mereka masing-masing, menandakan bahwa metode ini dapat dipakai menjadi sebuah media  pembelajaran yang efektif. Mereka ada yang nge-dance,  ada yang bernyanyi, ada yang menjadi orang tua, ada yang menjadi anak, ada yang menjadi guru, ada yang menjadi nenek, dan sangat bervariasi. Dalam bermain peran anak dapat mengganti, merubah, menambah, dan mencipta sesuatu.

Pendapat salah seorang peserta didik kelas X IPS 4 (SMA Negeri 11 Semarang) bernama Sarah. “Saya senang bu Belajar Bahasa Inggris dengan bermain peran atau role play, seru dan santai, jadi materi pelajaran masuk ke dalam memori kita.”

Begitu juga dengan Putri setelah ditanya apa pendapatnya dengan belajar Bahasa Inggris menggunakan metode bermain peran. “Enak Bu, asyik, tidak tegang, lucu, dan nyaman, saya menjadi lebih menyukai belajar bahasa Inggris sekarang”. Itulah sekelumit pendapat peserta didik tentang kegiatan mereka di kelas.

Untuk itu, dengan bermain peran memungkinkan anak mempraktikan kompetensi-kompetensi dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan dengan cara yang santai dan menyenangkan, dan juga merupakan suatu setting yang sangat bagus bagi perkembangan kognitif, tidak mempunyai tujuan ekstrinsik, dan mempunyai nilai positif  untuk mengembangkan karakter peserta didik di era serba digital ini. Sehingga tercapailah tujuan pembelajaran Bahasa Inggris yang asyik.(*/aro)