Kuasa Hukum Pertanyakan Tidak Hadirnya Petugas Lapas

240

SEMARANG – Kuasa hukum terdakwa Dicky Abednego alias Ciduk, Andi Dwi Oktavian sesalkan ketidakhadiran pihak pegawai Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II Nusakambangan, Cilacap yang sudah dijadwalkan akan memberikan kesaksian dalam sidang perkara kliennya di Pengadilan Negeri (PN) Semarang.

Bahkan undangannya sudah diberikan jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejati Jateng Setiono hingga tiga kali, namun pihak Lapas selalu tidak bisa hadir. Padahal ia menganggap, kehadiran pihak lapas sangat penting, karena menjadi saksi kunci dalam pemeriksaan kliennya.

“Saksi dari lapas ini merupakan saksi kunci klien kami. Apalagi, handphone yang dimiliki terdakwa ini tidak ada komunikasi langsung untuk pembelian sabu itu,” kata kuasa hukum terdakwa, Andi Dwi Oktavian kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (24/9).

Menurutnya, dalam kasus tersebut kliennya, hanya berperan sebagai perantara, bukan pemilik sabu. Sebab, terdakwa ini hanya dimintai tolong oleh DT, tersangka lain yang sudah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). “Kalau saksi kunci (pihak Lapas, red) tak bisa dihadirkan jaksa. Maka patut diduga ada apa, dengan perlakuan special pihak lapas,”sebutnya.

Menanggapi kasus itu, Ketua IV Lingkar Merah Putih Nasional (LMPN) Jateng, Mardha Ferry Yanwar menilai ada yang tidak wajar apabila jaksa tidak bisa menghadirkan saksi kunci. Pihaknya juga kecewa petugas Lapas yang merupakan bagian dari pegawai pemerintahan tidak bisa dihadirkan di persidangan, sehingga seolah dalam kasus tersebut ada perlakuan istimewa. Pihaknya meminta jaksa segera memanggil paksa petugas lapas tersebut.

“Jangan sampai kalau masyarakat sipil selalu diwajibkan hadir di persidangan, tapi kalau dari petugas Lapas tidak bisa dihadirkan, jaksa ini seolah ndak punya ketegasan dan syarat kepentingan, jangan sampai masyarakat memberikan praduga atas kasus ini,” tandasnya.

Sebelumnya, saksi yang dihadirkan jaksa adalah petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng Andi Setiawan. Dalam keterangannya Andi menyebutkan, pengungkapan terdakwa dalam kepemilikan sabu seberat 462,38 gram ini merupakan hasil pengembangan dari Aprianto Bagus Candra Dewa, terdakwa lain dalam berkas terpisah.

Ia menyampaikan, Aprianto diamankan saat turun dari bus didepan kios fotokopi Handoyo, Jalal Sumpah Pemuda, Jebres, Kota Surakarta, Sabtu (13/5). Petugas BNNP Jateng setelah mendapatkan informasi masyarakat dan mencurigainya segera memintanya membuka isi tas punggung warna hitam.

Dari barang tersebut, ditemukan sabu dalam lima bungkus plastik klip berisi serbuk kristal dengan berat 92,146 gram, 92,485 gram, 92,455 gram, 92,725 gram, dan 92,570 gram. “Saat diperiksa Aprianto mengaku hanya diperintah terdakwa Dicky selaku pemilik sabu tersebut,” ujarnya.

Kemudian giliran terdakwa Dicky diperiksa dihadapan majelis hakim yang dipimpin Ari Widodo. Dicky menyatakan, sabu yang diamankan petugas BNNP dari Aprianto itu bukan miliknya.

Oleh JPU, Dicky didakwa jaksa Setiono melakukan perbuatan sesuai pasal 132 ayat 1 juncto pasal 114 ayat 2 Undang-Undang (UU) RI Nomor 35/ 2009 tentang Narkotika. Dakwaan subsidairnya pasal 132 ayat 1 juncto pasal 112 ayat 2 UU Narkotika. (jks/bas)