Sulit Bedakan Cinta dan Ketakutan

Jadi Korban Kekerasan, Tetap Pilih Pertahankan Pacar

293
GRAFIS: TIO/JAWA POS RADAR SEMARANG
GRAFIS: TIO/JAWA POS RADAR SEMARANG

Banyak yang sulit melepaskan diri, meski pola berpacarannya sudah diliputi kekerasan. Apakah karena cinta, sudah membutakan segalanya? Ataukah hubungan sudah terlalu dalam, kepalang malu?

MAHASISWI di salah satu perguruan tinggi di Jateng berinisial Asm mengaku dalam hubungan pacarannya ia sering mengalami percekcokan akibat pasangannya yang posesif. Kerap memeriksa handphone, bahkan mencetak catatan pemakaian teleponnya.

Jika pacarnya menemukan ada pesan singkat dari laki-laki, maka pesan tersebut akan langsung dihapus. Jika pacarnya menemukan nomor asing di handphone-nya, ia akan langsung menelepon nomor tersebut.

Sebenarnya remaja tersebut mengaku sangat kesal, namun tidak dapat melawan. Karena pernah suatu waktu dirinya melawan pacarnya, yang terjadi malah dipukul dengan tangan, sampai memar-memar. “Saya pernah meminta putus, tapi dia melakukan tindakan yang di luar batas. Pacar saya malah membanting laptop, handphone, dan memotong semua kabel carger saya, sambil berkata-kata kasar,” ungkapnya sambil meratap.

Kendati begitu, Asm sampai saat ini masih bertahan dengan pacarnya dengan tetap menjaga perilakunya agar tidak salah di depan pacarnya. Hal itu, sebagai salah satu upaya untuk tetap menjaga keamanan dirinya sendiri. Asm sudah tidak bisa membedakan, yang dirasakannya saat ini rasa cinta atau rasa takut. “Pacarnya beralasan bahwa apa yang dilakukannya karena mau berhubungan serius. Apa yang dilakukan sebagai bentuk tanda cinta,” tuturnya.

Sama halnya dengan mahasiswa berinisial Dfy yang memiliki kekasih terlalu berlebihan mengaturnya dan terus mengekang. “Kemana-mana saya selalu dengan kekasih saya. Dia tidak memperbolehkan saya punya teman perempuan, apalagi teman laki-laki. Dirinya seperti itu, takut kalau saya selingkuh,” tuturnya.

Meski begitu, Dfy mengaku sangat mencintai kekasihnya tersebut, sehingga dirinya rela untuk tetap mengikuti keinginan kekasihnya. Dirinya juga terus berusaha membuat kekasihnya nyaman.

Kondisi tersebut selaras dengan data monitoring Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM) Jawa Tengah. Sejak Januari hingga Juni 2017, sudah tercatat 142 kasus kekerasan dengan jumlah korban mencapai 322 perempuan. Dari jumlah tersebut, kasus kekerasan dalam pacaran (KdP) menjadi kasus tertinggi yaitu 50 kasus. Disusul kekerasan dalam rumah tangga (KdRT) yaitu 28 kasus, perkosaan dan perbudakan seksual 18 kasus, prostitusi 14 kasus, dan pelecehan seksual 7 kasus, trafficking 4 kasus dan buruh migran 3 kasus.

Jika dilihat dari bentuk kekerasannya, kekerasan seksual masih mendominasi dengan jumlah 281 perempuan korban, kemudian kekerasan fisik 25 kasus dan psikologis 16 kasus. Adapun urutan tertinggi kekerasan perempuan didominasi oleh Kota Semarang sebanyak 33 kasus, dilanjut Wonogiri 12 kasus, Kendal 10 kasus, Kabupaten Pekalongan 7 kasus, sedangkan lainnya 6 kasus ke bawah.

Kalau dilihat beberapa tahun ke belakang, pada tahun 2014, LRC-KJHAM mencatat 331 kasus kekerasan, 2015 sebanyak 477 kasus dan pada 2016 meningkat menjadi 496 kasus dengan korban sebanyak 871 perempuan. Kekerasan seksual adalah bentuk kekerasan terhadap perempuan yang paling banyak terjadi. Data 2016 menunjukkan dari 871 korban, 700 perempuan di antara menjadi korban kekerasan seksual.

Di tingkat Nasional, data Catahu Komnas Perempuan tahun 2015 terdapat 293.220 kasus dan di tahun 2016 meningkat menjadi 321.752 kasus dan kekerasan seksual menempati peringkat pertama yaitu sebanyak 3.174 kasus.

Kepala Divisi Informasi dan Dokumentasi LRC-KJHAM Jawa Tengah, Witi Muntari menyebutkan, kekerasan terhadap perempuan merupakan kejahatan terhadap HAM yang jumlah kasusnya meningkat setiap tahun.

Sedangkan terkait kekerasan dalam pacaran (KdP) dikatakannya, modus yang sering digunakan oleh pelaku biasanya janji akan dinikahi. Hal itu apabila korban ingin diajak berhubungan seksual atau korban yang mengalami kekerasan seksual. Selain itu, modus lain akibat kebutuhan hidup, hanya saja jarang, ada juga untuk kesembuhan penyakit, akan tetapi kasuistik.

“Untuk langkah-langkah pendampingan yang kami berikan sesuai dengan kebutuhan korban. Misalnya, korban membutuhkan layanan untuk pemulihan psikologis maupun medis, akan kami rujukkan ke layanan tersebut,” kata Witi kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (22/9) kemarin.

Menurutnya hal utama adalah mengidentifikasi layanan yang dibutuhkan korban pada saat melakukan konseling. Hanya saja, ia menyampaikan semua pilihan dan keputusan di tangan korban.

“Alasan korban bisa mengalami kekerasan pacaran, kami sendiri tidak pernah menanyakannya. Karena kebanyakan korban, justru tidak tahu atau belum mendapatkan informasi bahwa yang dialaminya adalah tindak kekerasan,” sebutnya.

Bahkan, lanjut Wati, ada juga yang sudah menjadi korban kekerasan, namun merasa bahwa yang dilakukan pelaku terhadap korban bukan jenis kekerasan. “Tingginya jumlah kasus kekerasan seksual terhadap perempuan, sangat disayangkan. Karena pemerintah tidak mengiringi status pemenuhan hak perempuan korban,” tuturnya.

Ia menyampaikan, dengan situasi kekerasan seksual yang dialami perempuan korban tidak sebanding dengan perlindungan hukum yang ada di Indonesia. Perempuan korban kekerasan seksual masih mengalami banyak hambatan dan tantangan dalam mendapatkan hak-haknya. Hal ini dikarenakan tidak adanya undang-undang khusus yang melindungi perempuan korban kekerasan seksual.

“Maka dari itu, kami mendesak pemerintah dan DPR RI untuk segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Penghapusan Kekerasan Seksual,”sebutnya.

Direktur LRC-KJHAM Jateng, Dian Puspitasari menambahkan, kekerasan seksual memiliki kecenderungan semakin sadis dengan beragam modus yang dilakukan oleh pelaku. Dan pelaku kekerasan, paling banyak berada di rentang usia dewasa.

“Data tahun 2016 menunjukkan bahwa karakteristik pelaku paling banyak adalah individu sebanyak 553 orang. Ironisnya Negara sebagai pelaku, menunjukkan angka yang cukup tinggi yaitu sebanyak 25 orang,” imbuhnya.

Terpisah, Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kesehatan pada Lingkar Merah Putih Nasional (LMPN) Jateng, Sasetya Bayu Efendi mengatakan bahwa banyak terjadi kekerasan dalam pacaran. Namun, saat seseorang berpacaran, kebanyakan hanya tertutup dengan perasaan bahagia. Bahkan, salah satu pasangan memaksa melakukan hubungan seksual yang tidak diinginkan. “Jika hubungan pacaran seperti ini, tentu saja tidak membuat bahagia, justru membuat ketakutan dan tidak berdaya,” ujarnya.

Namun demikian, kata Bayu, secara umum laki-laki lebih sering melakukan kekerasan, dibandingkan perempuan. Hanya saja, kenyataannya perempuan juga bisa menjadi pelaku. “Karena itu, kekerasan dalam berpacaran memang perlu mendapatkan perhatian, khususnya bagi remaja yang mulai berpacaran,” tuturnya.

Bayu menyebutkan, dampak dari pacaran yang paling mudah terlihat adalah dampak fisik berupa memar atau luka ringan hingga yang paling parah adalah kematian. Selain itu, dampak yang bisa dialami adalah dampak psikologis.

“Dampak psikologis ini bermacam-macam, mulai dari turunnya kepercayaan diri kita, gangguan dalam emosi, depresi, hingga mengalami reaksi stres pascatrauma. Makanya kekerasan dalam hubungan pacaran harus dihindari,” jelasnya. (mg46/jks/ida)