BANYAKNYA kasus kekerasan dalam pacaran, merupakan fenomena yang terjadi karena faktor individunya sendiri. Sedangkan wanita cenderung menjadi korban, karena disebabkan karena adanya sejumlah faktor. “Salah satunya adalah perasaan ingin memiliki. Jadi seperti Saya sudah terlanjur memberi, saya mbok diberi sesuatu,” kata Psikolog Universitas Diponegoro (Undip), dr Dra Hastaning Sakti menanggapi banyaknya kasus kekerasan dalam pacaran.

Sebenarnya, lanjut Hasta, perempuan bisa saja menyudahi hubungan yang dirasa terdapat kekerasan di dalamnya. Namun, hal ini bergantung dengan nyali atau keberanian yang dimiliki oleh si perempuan sebagai korban. Biasanya, keberanian itu tertutup oleh perasaannya sendiri atau merasa lemah dan tingkatannya di bawah laki-laki.

Di sisi lain, sikap berusaha mempertahankan hubungan, justru menjadi senjata makan tuan yang membuatnya menjadi tidak menghargai diri sendiri. Ketika suatu waktu pasangan sudah putus, akhirnya bersama lagi dan seterusnya.

Faktor lain yang disebutkan oleh Hasta adalah perasaan takut kehilangan. Namun didalam rasa takut kehilangan tersebut, muncul sebuah pemikiran nantinya hubungan yang diakhiri akan berdampak pada hubungan yang selanjutnya. “Jadi dia merasa menjadi bekasan, nanti bagaimana kalau putus, terus sama yang lain. Gimana kalau orang lain itu tahu kalau aku bekasnya orang itu,” jelasnya.

Tidak hanya pemikiran pesimistis, menurut Hasta, ada juga pemikiran bahwa si korban ingin nggondeli si pelaku kekerasan, supaya tetap ada di dalam tanggung jawabnya sehingga ia merasa tidak masalah dikasari.

“Tetapi di dalam hatinya pun ia berontak. Tiba-tiba nalarnya muncul dan kembali berpikir kalau diputus, dia terus gimana, padahal dia yang aku harapkan,” jelasnya.

Sebab, hubungan berpacaran diawali dengan kecocokan hati. Padahal tidak tahu sikap yang sebenarnya dari pasangan. Ia pun memandang, dari sisi psikologi, hal semacam ini belum ada ilmu yang tepat untuk menjelaskan. Namun ia mengartikan, bahwa orang-orang seperti ini adalah mereka yang membutuhkan pendampingan. “Untuk menguatkan dan memberikan support realitas. Mungkin orang kayak gitu tidak dalam realita sesungguhnya. Dia dibalut rasa sayang, cinta, jadi merasa tidak masalah ketika disakiti,” ujarnya.

Hasta pun mengaku dirinya banyak menangani kasus serupa selama menjadi psikolog. Rata-rata, pasangan yang mengalami kekerasan di dalamnya dilatarbelakangi kebiasaan melakukan hubungan seksual yang terlanjur dalam, sehingga mereka sulit melepaskan dan berpikir negatif (bekasan). “Tidak semua yang sulit melepaskan, bisa dipastikan sudah terkait seks. Hanya saja, yang saya tahu, kok mesti begitu. Tidak di Jateng saja ya ini,” tambahnya.

Ia menegaskan kepada mereka yang mengalami kekerasan dalam pacaran untuk mengingat bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan YME untuk berkembang dan mencari kebahagiaan sesuai yang diinginkan. Jangan terus menerus bertahan dan melecehkan diri sendiri.

“Wanita punya nilai, tapi malah merusak nilainya sendiri. Cari yang lainnya saja, yang lebih baik banyak kok. Itu juga yang selalu saya tegaskan kepada bimbingan saya,” tegasnya.

Namun, ia juga menjelaskan ada beberapa hal yang harus diingat jika mendapati kondisi seperti ini terjadi di sekitar kita. Bisa jadi, sikap diam yang dilakukan oleh korban itu dikarenakan dirinya sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu (kekerasan, red) dan menganggap hal yang dialaminya adalah satu hal biasa.

“Ada juga yang merasa bertanggung jawab bahwa dia akan berusaha ndandani pasangannya, tapi kemudian kesabarannya habis. Kemudian dia timbul rasa harga dirinya diinjak-injak, barulah bisa meninggalkan,” bebernya.

Hasta meminta kepada seluruh masyarakat, upaya belajar untuk lebih positif, jangan tinggal diam dan laporkan. Sebab, orang-orang seperti mereka butuh lingkungan yang peduli dan mendukungnya, support realita.

“Karena ini sangat berdampak kepada psikis, terparah kehilangan kepercayaan diri hingga menututp diri. Bahkan, kehilangan kewarasan bisa terjadi jika sudah parah banget,” tandasnya. (tsa/ida)