33 C
Semarang
Kamis, 28 Mei 2020

Sudah Berhubungan Seks, Biasanya Sulit Lepaskan Diri

Another

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi,...

Karya Didi Kempot: Ditulis Sekarang, Terkenal Puluhan Tahun Kemudian (5)

Manisnya karir tak didapat Didi Kempot begitu saja. Ada perjuangan berat yang dilalui. Kuncinya adalah terus berjalan di jalur...

BANYAKNYA kasus kekerasan dalam pacaran, merupakan fenomena yang terjadi karena faktor individunya sendiri. Sedangkan wanita cenderung menjadi korban, karena disebabkan karena adanya sejumlah faktor. “Salah satunya adalah perasaan ingin memiliki. Jadi seperti Saya sudah terlanjur memberi, saya mbok diberi sesuatu,” kata Psikolog Universitas Diponegoro (Undip), dr Dra Hastaning Sakti menanggapi banyaknya kasus kekerasan dalam pacaran.

Sebenarnya, lanjut Hasta, perempuan bisa saja menyudahi hubungan yang dirasa terdapat kekerasan di dalamnya. Namun, hal ini bergantung dengan nyali atau keberanian yang dimiliki oleh si perempuan sebagai korban. Biasanya, keberanian itu tertutup oleh perasaannya sendiri atau merasa lemah dan tingkatannya di bawah laki-laki.

Di sisi lain, sikap berusaha mempertahankan hubungan, justru menjadi senjata makan tuan yang membuatnya menjadi tidak menghargai diri sendiri. Ketika suatu waktu pasangan sudah putus, akhirnya bersama lagi dan seterusnya.

Faktor lain yang disebutkan oleh Hasta adalah perasaan takut kehilangan. Namun didalam rasa takut kehilangan tersebut, muncul sebuah pemikiran nantinya hubungan yang diakhiri akan berdampak pada hubungan yang selanjutnya. “Jadi dia merasa menjadi bekasan, nanti bagaimana kalau putus, terus sama yang lain. Gimana kalau orang lain itu tahu kalau aku bekasnya orang itu,” jelasnya.

Tidak hanya pemikiran pesimistis, menurut Hasta, ada juga pemikiran bahwa si korban ingin nggondeli si pelaku kekerasan, supaya tetap ada di dalam tanggung jawabnya sehingga ia merasa tidak masalah dikasari.

“Tetapi di dalam hatinya pun ia berontak. Tiba-tiba nalarnya muncul dan kembali berpikir kalau diputus, dia terus gimana, padahal dia yang aku harapkan,” jelasnya.

Sebab, hubungan berpacaran diawali dengan kecocokan hati. Padahal tidak tahu sikap yang sebenarnya dari pasangan. Ia pun memandang, dari sisi psikologi, hal semacam ini belum ada ilmu yang tepat untuk menjelaskan. Namun ia mengartikan, bahwa orang-orang seperti ini adalah mereka yang membutuhkan pendampingan. “Untuk menguatkan dan memberikan support realitas. Mungkin orang kayak gitu tidak dalam realita sesungguhnya. Dia dibalut rasa sayang, cinta, jadi merasa tidak masalah ketika disakiti,” ujarnya.

Hasta pun mengaku dirinya banyak menangani kasus serupa selama menjadi psikolog. Rata-rata, pasangan yang mengalami kekerasan di dalamnya dilatarbelakangi kebiasaan melakukan hubungan seksual yang terlanjur dalam, sehingga mereka sulit melepaskan dan berpikir negatif (bekasan). “Tidak semua yang sulit melepaskan, bisa dipastikan sudah terkait seks. Hanya saja, yang saya tahu, kok mesti begitu. Tidak di Jateng saja ya ini,” tambahnya.

Ia menegaskan kepada mereka yang mengalami kekerasan dalam pacaran untuk mengingat bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan YME untuk berkembang dan mencari kebahagiaan sesuai yang diinginkan. Jangan terus menerus bertahan dan melecehkan diri sendiri.

“Wanita punya nilai, tapi malah merusak nilainya sendiri. Cari yang lainnya saja, yang lebih baik banyak kok. Itu juga yang selalu saya tegaskan kepada bimbingan saya,” tegasnya.

Namun, ia juga menjelaskan ada beberapa hal yang harus diingat jika mendapati kondisi seperti ini terjadi di sekitar kita. Bisa jadi, sikap diam yang dilakukan oleh korban itu dikarenakan dirinya sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu (kekerasan, red) dan menganggap hal yang dialaminya adalah satu hal biasa.

“Ada juga yang merasa bertanggung jawab bahwa dia akan berusaha ndandani pasangannya, tapi kemudian kesabarannya habis. Kemudian dia timbul rasa harga dirinya diinjak-injak, barulah bisa meninggalkan,” bebernya.

Hasta meminta kepada seluruh masyarakat, upaya belajar untuk lebih positif, jangan tinggal diam dan laporkan. Sebab, orang-orang seperti mereka butuh lingkungan yang peduli dan mendukungnya, support realita.

“Karena ini sangat berdampak kepada psikis, terparah kehilangan kepercayaan diri hingga menututp diri. Bahkan, kehilangan kewarasan bisa terjadi jika sudah parah banget,” tandasnya. (tsa/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos — KATA sang kakak, ”Pas kecil...

Karya Didi Kempot: Ditulis Sekarang, Terkenal Puluhan Tahun Kemudian (5)

Manisnya karir tak didapat Didi Kempot begitu saja. Ada perjuangan berat yang dilalui. Kuncinya adalah terus berjalan di jalur yang diyakini. Tak berhenti meski...

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi sering sungkan minta sangu kepada...

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa (3)

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya yang merdu dan karakternya yang...

More Articles Like This

Must Read

Nikmatnya Berbuka dengan Nasi Kebuli

SEMARANG - Hotel Novotel Semarang menyajikan menu berbuka puasa tahun ini dengan cara live cooking. Menu yang menjadi andalan adalah nasi kebuli. Executive Chef Hotel...

Ratusan Koperasi Tidak Sehat

Kutipan: Indikator sehat atau tidak, bisa dilihat dari sisi manajemennya, permodalannya seperti apa, juga SDM seperti apa. Dan banyak sekali saya lihat di antara...

Peserta Binlat Polri Ikuti Tes Kesehatan

RADARSEMARANG.COM, PEKALONGAN – Polres Pekalongan menggelar Binlat Pemeriksaan Kesehatan tahap II dan Pengecekan Kesehatan Jiwa dalam rangka Seleksi Penerimaan Anggota Polri TA 2018, Sabtu...

Jelang Debat Pilgub, Ganjar Gelar Open House

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Jelang debat terakhir, calon gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menggelar open house di rumah kontrakannya di Tengger Timur nomor 1 Kelurahan Gajahmungkur Semarang, Kamis...

Penghasil Samier Enak, Terkendala Pemasaran

SUMOWONO – Desa Ngadikerso, Kecamatan Sumowono, memiliki produk makanan khas berupa samier. Produk makanan sejenis kerupuk yang dibuat menggunakan bahan dasar ketela pohon. Sekretaris Desa Ngadikerso,...

Mayat Perempuan, Terjepit Ranting, Wajah Rusak

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Warga sekitar Hutan Lindung Tinjomoyo digegerkan temuan mayat tanpa identitas di tepi Sungai Trangkil Kecamatan Gunungpati, Sabtu (17/3) sekitar pukul 15.30. Belum...