Sempat Dipandang Sebelah Mata, Sekarang Masuk Dapur Rekaman

Lebih Dekat dengan Beauty And The Beats, Band Indie Asal Semarang

619
PENUH DEDIKASI : Enam anggota band Indie asal Semarang, Beauty And The Beats Band, yang sabar dan penuh dedikasi (DOK PRIBADI FOR JAWA POS RADAR SEMARANG).
PENUH DEDIKASI : Enam anggota band Indie asal Semarang, Beauty And The Beats Band, yang sabar dan penuh dedikasi (DOK PRIBADI FOR JAWA POS RADAR SEMARANG).

Musik tak pernah mati, selalu berkembang dan diiringi inovasi baru. Adalah Beauty And The Beats, band Indie asal Semarang yang terus bertahan di industri hiburan, meski sempat dipandang sebelah mata. Seperti apa?

ESTIKA WIDA

TAK sengaja bertemu ketika sama-sama mengikuti berbagai festival musik, keenam remaja ini akhirnya memutuskan membuat sebuah grup band. Sengaja memiliki nama Beauty and The Beats, arti bahwa grup band ini akan menciptakan beats-beats yang indah di setiap lagunya.

“Kala itu, ada satu festival musik yang lingkupnya besar, kalau gak salah Dinasty 2015. Nah gara-gara itu, kami coba ikut latihan sekali dua kali, terus audisi. Eh ternyata band kami lolos jadi pengisi acara. Berarti awal terbentuknya 15 Desember 2015,” ujar Muhammad Kholis Nuha yang merupakan drummer band ini.

Dari enam personel grup band ini, memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda-beda dan memiliki keahlian yang berbeda-beda juga. Talitha Helga Safira posisi vokal sekarang kuliah di Fakultas Kedokteran Unissula, Naufalbahir di keyboard sekarang kuliah di Seni Musik Unnes, dan Kholis Nuha sendiri posisi drummer sekarang kuliah di Komunikasi Undip. Sedangkan tiga lainnya sudah lulus kuliah, yakni Moh Azka Syahida di bass, Dixie Amazia di gitar, dan Owen Rahadia main saxophone.

Grub bandnya sempat dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, namun tidak membuat Kholis dan kawan-kawan berkecil hati dan mengurungkan niatnya untuk terus eksis dengan bandnya. “Dulu sempat ada yang bilang, ngapain bikin band indie, mending jadi band biasa, cukup jadi band-band pensi aja. Sedih sebenarnya, tapi ya sudahlah, kami anggap sebagai penyemangat saja,” jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, hambatan demi hambatan banyak ditemui oleh Beauty and The Beats, dimulai dari pelafalan nama yang selalu salah setiap kali dipanggil oleh pihak panitia penyelenggara acara.

“Awal-awal kami sering banget dipanggil Beauty and The Beast, bukan Beauty and The Beats. Kan kesannya gimana gitu kalau dipanggil Beauty and The Beats. Terus kami carilah solusi biar mudah buat disebut kan. Akhirnya kami singkat BATB. Terus setiap diundang, kami kasih tahu panitia, panggil saja kami BATB,” tandasnya.

Tidak hanya itu, ketika nama tidak menjadi masalah, hambatan baru mulai muncul ketika BATB mulai masuk dapur rekaman. Proses rekaman hingga tercipta karya baru memerlukan waktu yang sangat lama.

“Januari 2016, kami masuk dapur rekaman untuk single pertama kami Forever You. Prosesnya dari recording sampai mixing dan siap saja, terhambat hingga 3 bulan. Karena ada revisi materi, terus kami kurang percaya diri sama karya sendiri. Akhirnya kami revisi, terus tanya-tanya selera orang-orang kayak bagaimana. Akhirnya kami perbaiki instrumen dan lirik-liriknya supaya lebih manis dan BATB banget pokoknya. Akhirnya bisa rilis juga,” jelas Kholis.

Membutuhkan waktu satu tahun dari Januari 2016 hingga Februari 2017, single pertama BATB beserta dengan video klipnya resmi dirilis 14 Februari 2017. Usai rilisnya single pertama, kenyataan yang didapat tidak sesuai dengan harapan BATB. Animo masyarakat masih sangat kurang.

“Sudah rilis single pertama, kami mengira nilai jual bakalan tinggi, soalnya sudah punya lagu sendiri. Ternyata 3 bulan pertama, sama sekali gak dapat tawaran manggung. Ternyata gak gampang untuk eksis di dunia hiburan, apalagi di Kota Semarang sendiri. Tapi lama kelamaan, Alhamdulillah ada yang manggil kami untuk mengisi acara dan sampai sekarang ada terus,” ungkapnya.

Selain mengisi acara, untuk terus mempertahankan eksistensi BATB, kerap membuat acara live season di saluran Youtube. Berisikan cover-an lagu-lagu masa kini yang dikemas dengan intrumen berbeda sehingga BATB memiliki ciri khas tersendiri.

“Kami pernah manggung di Dinasty 2015 bareng sama Endank Soekamti sama HIVI juga, terus pensi-pensi dan seminar. Kami tidak pilih-pilih dalam mengisi acara. Asalkan bisa mencangkup semua masyarakat, insyaallah kami bisa mengisi,” jelasnya. (*/ida)