JALAN HIDUP : Joko Suratno beraktivitas di kantornya, Ataya Tour. Merintis usaha di bidang perjalanan wisata sudah menjadi keinginannya sejak dulu (Nurchamim/jawa pos radar semarang).
JALAN HIDUP : Joko Suratno beraktivitas di kantornya, Ataya Tour. Merintis usaha di bidang perjalanan wisata sudah menjadi keinginannya sejak dulu (Nurchamim/jawa pos radar semarang).

Bagi Joko Suratno, pariwisata merupakan sebagian dari nafasnya. Bagaimana tidak, selain sebagai pengusaha tour and travel di Semarang dan Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia yang dalam Bahasa Inggris juga dikenal dengan Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Jawa Tengah, sejak kecil Joko memang mencintai dan ingin terjun sebagai pelaku wisata.

Kepada Jawa Pos Radar Semarang, pria kelahiran Cilacap, 27 Februari tahun 1971 ini mengaku jika awalnya ia terjun dan mulai menggeluti dunia wisata usai lulus dari SMAN 1 Cilacap. Ketika itu dia berpikir jika menggeluti dunia wisata sangat menyenangkan karena bisa jalan-jalan ke objek wisata yang ada di Indonesia. “Dulu awalnya coba-coba, malah sekarang sampai ketagihan bahkan menggeluti dunia wisata hingga mendirikan usaha tour and travel,” kata pemilik Ataya Tour ini.

TRAVELING BARENG : Joko Suratno saat berwisata bersama keluarganya.
TRAVELING BARENG : Joko Suratno saat berwisata bersama keluarganya.

Menurut Joko, bicara tentang pariwisata bukan hanya tentang objek wisata saja. Di dalamnya ada beberapa industri usaha sebagai penyokong majunya pariwisata yang ada di suatu kota. Misalnya saja hotel, restoran, travel agent, tempat hiburan hingga pemerintah daerah. Ilmu itu ia pelajari ketika ia mulai menginjak bangku perkuliahan, tepatnya di Akademi Pariwisata Semarang yang kini berubah nama sebagai Stiepari Semarang pada tahun 1990-an lalu. “Saya mulai sangat mencintai pariwisata dari dasar cinta saya terhadap alam,” tandasnya.

Saat kuliah, ia pun mencoba terjun langung di dunia tersebut. Jatuh bangun dan berbagai pengalaman ia lalui, hingga akhirnya memiliki bisnis biro perjalanan wisata sendiri. Bahkan dari pengalamannya itulah, Joko dipasrahi menjadi Ketua Asita Jawa Tengah. Menurut Joko potensi pariwisata di Jawa Tengah cukup mumpuni untuk dijual ke  wisatawan asing maupun lokal. “Kalau dibilang mumpuni dan punya potensi jelas. Namun harus ada perbaikan dari segi sarana dan prasarana dulu. Konten yang dikemas pun harus menarik bagi wisatawan untuk datang,” tambah suami Tri Mukti Rahayu ini.

Sebagai pelaku usaha bisnis tour and travel, dia mencontohkan peningkatan sumber daya manusia menjadi hal yang paling utama selain sarana dan prasarana sebuah daerah bisa mendatangkan wisatawan.

Selain itu, promosi keluar negeri hingga membuat paket wisata yang menarik dilakukan dengan rutin mengikuti roadshow ke luar negeri hingga mengundang wisatawan asing melalui perwakilan kedutaan besar yang ada di Indonesia untuk melakukan fam trip di Jawa Tengah. “Namun kembali lagi, objek wisata di Jawa Tegah saat ini belum punya sarana dan prasarana yang mendukung, contohnya saja akses menuju ke objek wisata,” paparnya.

Dia mencontohkan, wisatawan yang akan menuju ke Karimunjawa masih harus terkendala berbagai permasalahan. Seperti kapal yang belum bisa berangkat setiap hari, fasilitas di Karimunjawa yang masih kurang, hingga masih minimnya akses penerbangan internasional yang tiba atau berangakat dari bandara besar yang ada di Jawa Tengah.

“Walaupun begitu usaha pemerintah cukup bagus, dengan mengadakan banyak event di Jawa Tengah. Misalnya Dieng Culture Festival, Borobudur Marathon dan lain sebagainya,” ujarnya.

Namun lanjutnya, hal itu harus diperbanyak dan menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah hingga pelaku usaha yang ada di dalamnya. Mereka harus mengemas event yang menarik di objek wisata lainnya.

Menurut dia harus ada kerjasama antara pemerintah dan pelaku wisata dalam membangun dan menjual pariwisata. Salah satunya dengan cara mempromosikan wisata di Jawa Tengah di dunia internasional dengan melakukan direct promotion di tempat keramaian yang ada di luar negeri dan bekerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). “Memang butuh dana yang cukup besar, saat kita menjual di luar negeri untuk menarik wisatawan bisa dilakukan dengan pendekatan budaya dan produk UMKM di dalamnya. Apalagi seni dan budaya di Jawa Tengah sangat baragam dan bisa menjadi magnet tersendiri,” pungkasnya. (adennyar wycaksono/ric)