Tergolek Sakit di Ranjang, Dikunjungi Staf Presiden

Sri Sukanti, Mantan Jugun Ianfu di Salatiga yang Hidupnya Mengenaskan

548
TERLUNTA-LUNTA: Mbah Sri Sukanti didampingi Sidik Tonis di ruang isolasi Flamboyan lantai 3 RSUD Salatiga, kemarin sore. (kanan) Imam Prasodjo saat mendatangi rumah Mbah Sri Sukanti (ISTIMEWA/JAWA POS RADAR SEMARANG).
TERLUNTA-LUNTA: Mbah Sri Sukanti didampingi Sidik Tonis di ruang isolasi Flamboyan lantai 3 RSUD Salatiga, kemarin sore. (kanan) Imam Prasodjo saat mendatangi rumah Mbah Sri Sukanti (ISTIMEWA/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Ny Sri Sukanti, 81, mendadak mencuri perhatian warga Salatiga. Lansia itu rumahnya dikunjungi pejabat Kantor Staf Kepresidenan (KSP) yakni Imam Prasodjo dan Jaleswari Pramodharwardani, tiga hari lalu. Belakangan diketahui jika yang bersangkutan adalah mantan jugun ianfu termuda di zaman penjajahan Jepang.

DHINAR SASONGKO, Salatiga

KONDISI Sri Sukanti sangat memprihatinkan. Ia terbaring lemah di ranjang tidur di rumah sederhana miliknya di Kelurahan Gendongan RT 3 RW 2, tepatnya di belakang kantor Kejaksaan Salatiga. Selepas mengikuti seminar “Mengarus-utamaan Nilai-Nilai Kebangsaan di Kalangan Generasi Muda” di Kampus IAIN Salatiga, Imam Prasodjo dan rekannya Jaleswari Pramodharwardani dari KSP mendatangi rumah Sri Sukanti.

DOK Kantor Staf Kepresidenan
DOK Kantor Staf Kepresidenan

Sosiolog Imam Prasodjo menggambarkan rumah Mbah Sri yang tampak begitu sempit, kumuh, penuh dengan barang berdebu tak terawat. Meja dan kursi tua memenuhi ruangan menyulitkan langkah siapapun yang akan masuk ruangan rumah.

Menurut keterangan Sidik Tonis, Sri Sukanti lahir di Desa Gundih, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan. Semasa kecil, ia sudah harus menahan derita menjadi korban pemuas seks (jugun ianfu) tentara Jepang. Hingga usai kemerdekaan, ia masih juga menderita karena kemiskinan hingga masa tuanya.

Kini, di usia senjanya, ia selalu didampingi oleh Sidik Tonis yang sudah enam bulan merawat Mbah Sri. Selama ini, keduanya tidak memiliki penghasilan tetap. Sidik hanya bekerja di proyek menjadi kuli bangunan. Jika tidak ada proyek, ia pun bekerja serabutan. Hingga akhirnya Sidik berhenti bekerja karena mbah Sri hanya tergolek lemah di ranjang rumahnya.

Hingga kemudian dari KSP datang dan berhasil meminta mbah Sri untuk dirawat di RSUD Kota Selatiga karena kondisinya yang sakit. Di ruang isolasi gedung Flamboyan lantai 3, Sidik terus menunggu perawatan. “Selama ini sebelum di RSUD, kami hanya nunggu bantuan untuk makan. Itu pun jika ada yang memberi. Ataupun jika ada yang memberikan pekerjaan serabutan,” terang Sidik.

Ia menceritakan, saat Sri Sukanti masih muda, diambil paksa dari keluarganya oleh tentara Jepang. Kemudian ia dimasukkan ke asrama dan menjadi pemuas nafsu mereka. “Jepang itu jahat dan merusak perempuan, khususnya yang di bawah umur. Mereka melalui antek – anteknya memaksa dan menolak sama dengan mati,” papar Sidik.

Hingga akhirnya, Jepang kalah pada tahun 1945, para jugun ianfu yang disekap di asrama bisa melarikan diri. Termasuk Sri Sukanti yang lari ke Salatiga dan akhirnya bertemu dengan Sidik.

Imam Prasodjo usai mengunjungi Sri Sukanti memaparkan dalam akun jejaring sosialnya, jika Mbah Sri selalu menyebut jika di antara tujuh saudara sekandung perempuan dan empat saudara laki-laki, dialah yang paling nakal. Kata-kata itu diucapkan berulang-ulang diperkirakan sebagai dampak psikologis derita itu? Pasalnya banyak penelitian yang menemukan bahwa perempuan korban pemerkosaan sering cenderung menyalahkan dirinya sendiri daripada menyalahkan pihak pemerkosa.(*/aro)