Ribuan Warga Lakoni Tradisi Perang Lumpur

430
POPOKAN : Ribuan warga Desa Sendang Kecamatan Bringin terlibat tradisi Popokan yang digelar setiap tahun, kemarin (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
POPOKAN : Ribuan warga Desa Sendang Kecamatan Bringin terlibat tradisi Popokan yang digelar setiap tahun, kemarin (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

UNGARAN–Ribuan warga Desa Sendang Kecamatan Bringin terlibat perang lumpur, Jumat (22/9) kemarin. Tradisi tahunan yang bernama Popokan tersebut dilakukan di persawahan dan jalan-jalan desa tersebut.

Kepala Desa Sendang Syamsudin menjelaskan aksi tersebut terjadi bukan karena sebuah permusuhan, namun tradisi luapan kegembiraan setelah masa panen. “Pada tradisi ini, semua warga yang merantau keluar daerah, pasti kembali untuk berkumpul melakukan tradisi ini,” ujar Syamsudin.

Tradisi diawali dengan ziarah di makam pendiri desa. Selanjutnya kerja bakti bergiliran membersihkan mata air, sumur, serta kolam air di rumah-rumah warga. Kemudian dilakukan arak-arakan budaya mengelilingi desa.

Setiap RT, dalam kesempatan tersebut menampilkan kreativitas mereka. Mulai dari berdandan ala wayang, hingga menampilkan kesenian drumblek. Ribuan warga melakukan arak-arakan budaya mengelilingi jalan-jalan desa dan berakhir di balai desa setempat.

Setelah berkumpul, gunungan berisi buah-buahan yang sudah disiapkan oleh panitia di balai desa menjadi sasaran warga. Mereka berebut buah-buahan dan makanan seperti ayam bakar yang sudah di baluri doa-doa oleh sesepuh desa setempat.

“Warga disini beranggapan jika makan dari makanan yang diarak keliling desa dan didoakan akan mendapatkan berkah, makannya mereka pada berebut,” katanya.

Tidak hanya itu, warga juga saling bertukar makanan ketupat. Ketupat dipercaya warga setempat sebagai simbol dari permintaan maaf yang tulus antar warga. Puncak acara yaitu popokan, dimana semua warga di desa tersebut mencari lumpur di sawah untuk dilempar ke warga lain. Tidak ada satupun warga yang tersinggung ketika terkena lemparan lumpur. “Mereka senang, karena percaya lumpur tersebut juga membawa berkah,” ujarnya.

Dijelaskan Syamsudin, tradisi Popokan sudah dilakukan oleh warga setempat selama ratusan tahun. Tradisi popokan tersebut juga dilakukan untuk mengenang perjuangan pendiri Desa Sendang yang saat itu sering diserang kawanan hewan buas. “Popokan ini, berasal dari kata popok yang artinya melempar dengan lumpur. Dengan cara dilempar hewan buas akan lari,” katanya.

Wakil Bupati Semarang, Ngesti Nugraha mengatakan banyak nilai sosial yang diwariskan para leluhur melalui tradisi tersebut. “Mempererat silahturahmi, sebab dalam kegiatan tersebut tidak membeda-bedakan antar warga. Selain itu juga menjadi tempat nguri-uri atau melestarikan budaya yang ada,” kata Ngesti.

Dalam tradisi tersebut, semua kalangan baik itu tua maupun muda juga ikut melakukan perang lumpur. Anak-anak juga terlihat ikut serta dalam perang lumpur tersebut. Salahsatu warga setempat, Ardianto, 24, mengatakan, meski terkesan urakan namun semenjak diadakan pertama kali tradisi itu tidak pernah menimbulkan persilisihan maupun permusuhan di akhir acara. “Justru tradisi ini dinanti-nanti banyak warga. Bahkan tidak hanya warga biasa,aparatur desa juga ikut perang lumpur,” ujarnya. (ewb/ida)