Sudah 275 Kecamatan Kekeringan

470
DERITA KEKERINGAN : Tiga santri dari Ponpes Rahmat Tilah mengambil air bersih di Sungai Mluweh, Desa Mluweh, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Kamis (21/9). Mereka harus berjalan kaki sejauh 2 kilometer dari ponpes menuju sungai Mluweh, demi mendapatkan air bersih (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).
DERITA KEKERINGAN : Tiga santri dari Ponpes Rahmat Tilah mengambil air bersih di Sungai Mluweh, Desa Mluweh, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Kamis (21/9). Mereka harus berjalan kaki sejauh 2 kilometer dari ponpes menuju sungai Mluweh, demi mendapatkan air bersih (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG – Kekeringan telah meluas hingga 275 kecamatan di 30 kabupaten/kota di Jateng. Pemprov Jateng pun telah menyiapkan 2.000 tangki air bersih untuk menyuplai daerah-daerah yang kini kesulitan air. Seperti di Wonogiri, Banjarnegara, Banyumas dan Kebumen.

Kepala Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, Sarwa Pramana menjelaskan, total ada 1.254 desa yang telah mengalami kekeringan. Total ada 1,4 juta jiwa atau 404.201 KK yang terdampak. Jumlah KK yang terkena dampak kekeringan sebanyak 404.201 KK atau 1,4 juta jiwa.

Sejauh ini, kekeringan terbanyak untuk tingkat kecamatan di Kabupaten Banyumas, dan untuk tingkat desa paling banyak di Kabupaten Kebumen. “Sebenanya kami sudah siaga sejak Juni lalu. Kalau ada daerah yang sampai sekarang butuh droping air bersih, bisa menghubungi kami (BPBD Jateng),” terangnya, Kamis (21/9).

Melihat fenomena kekeringan yang terus meluas, Pakar Agraria dari Undip Semarang, Widhi Handoko menilai, Pemprov Jateng perlu menggalakkan pembangunan embung. Meski terbilang terlambat, setidaknya bisa mengatisipasi terjadinya kekeringan tahun depan. “Kalau droping air itu kan sifatnya bantuan mendesak. Bukan solusi mengatasi kekeringan,” terang bakal calon wakil gubernur (bacawagub) lewat PDIP ini.

Menurutnya, program sejuta embung perlu diterapkan. Tak hanya ‘mengamankan’ debit air bersih saja, air untuk kebutuhan lahan pertanian, perkebunan, peternakan, hingga industri pun akan tercukupi. Nantinya, setiap satu kecamatan, setidaknya punya satu embung. Bisa lebih, sesuai kebutuhan dan proporsional wilayah.

“Sejuta embung akan efektifitas dan efisiensi terhadap kebutuhan air bersih, sehingga standar air bersih benar-benar dapat dipenuhi. Selama ini standar air yang ada di Jateng dan Indonesia belum memenuhi standar air minum,” katanya. (amh/ric)