September Ini, 34 Peristiwa Kebakaran

416

UNGARAN–Hingga September, sebanyak 34 peristiwa kebakaran sudah terjadi di Kabupaten Semarang. Data BPBD Kabupaten Semarang menjelaskan jika dari jumlah total kejadian tersebut, 70 persen masuk dalam kategori sedang hingga berat.

Kepala BPBD Kabupaten Semarang, Heru Subroto mengungkapkan bahwa dari jumlah total kejadian kebakaran, sebagian besar diakibatkan korsleting listrik dan kelalaian korban. “Korsleting listrik itu hampir 80 persen, sisanya memang kelalaian dari korban,” kata Heru, Kamis (21/9) kemarin.

Ia mencontohkan, kelalaian dari korban seperti peristiwa kebakaran yang terjadi di Desa Penawangan Kecamatan Pringapus. Karena disebabkan sang pemilik rumah yang lupa mematikan api di dalam tungku, api menyebar hingga melalap 10 rumah sekaligus.

Dijelaskan Heru, kepada para korban kebakaran tersebut sudah diserahkan Bantuan Sosial (Bansos). Pemberian Bansos berdasarkan Peraturan Bupati (Perbup) nomor 466.1/0336/2017 tentang penetapan penerima dan besaran bantuan sosial kepada masyarakat yang terkena bencana.

Dimana dalam Perbup tersebut diatur pemberian Bansos dikategorikan menjadi tiga yaitu ringan, sedang, dan berat. Untuk kategori kebakaran ringan, maka korban akan memperoleh Bansos sebesar Rp 3 juta.

Untuk kategori sedang, korban kebakaran akan memperoleh bansos sebesar Rp 5 juta. Sementara untuk kebakaran kategori berat korban akan memperoleh Bansos sebesar Rp 10 juta. “Rp 3 juta, kalau kerusakannya sampai dengan 30 persen, Rp 5 juta apabila sampai 60 persen, dan lebih dari itu Rp 10 juta. Untuk kategori saat ini, kebanyakan sedang dan berat,” katanya.

Dikatakan Heru, untuk wilayah yang terbanyak terjadi bencana kebakaran yaitu Kecamatan Pringapus. Namun Heru tidak menyebutkan secara rinci berapa jumlah bencana kebakaran di wilayah tersebut dari catata BPBD Kabupaten Semarang.

Diakui Heru, pendistribusian Bansos juga mengalami kendala yaitu sistem pelaporan kejadian oleh korban. Dimana banyak Pemerintah Desa (Pemdes) yang melaporkan terjadinya bencana kebakaran usai kebakaran tersebut terjadi setelah beberapa hari.

“Kadang ada desa yang melaporkan adanya kebakaran malah sesudah kebakaran tersebut terjadi. Mungki hanya ditangani desa yang bersangkutan sehingga bisa mempengaruhi teknis pengajuan Bansos,” ujarnya.

Adapun teknis pengajuan Bansos korban bencana kebakaran yaitu sesuai dengan Perbup ada laporan kronologis kejadian yang dibuatkan berita acara oleh camat. Kemudian dilaporkan ke Bupati Semarang melalui BPBD Kabupaten Semarang.

Data yang harus disiapkan korban yaitu foto kopi KTP, KK, nomor rekening tabungan. Bantuan tersebut akan ditransfer melalui rekening korban. “Yang melakukan transfer dari BKUD ke rekening korban. Ada kalanya korban mengalami kehilangan dokumen karena ikut terbakar, hanya disertai surat pernyataan dari desa,” ujarnya.

Bansos diserahkan secara tunai apabila korban tidak sanggup menunjukkan buku rekening tabungan. Sehingga penyerahan akan diberikan secara tunai disaksikan oleh pihak kecamatan.

Sementara itu, Wakil Bupati Semarang, Ngesti Nugraha mengimbau jika memasuki musim kemarau masyarakat harus lebih berhati-hati. “Apabila ada yang terbakar segera dimatikan apinya, karena mudah meluas dan warga memang harus hati-hati,” ujar Ngesti. (ewb/ida)