PEMBANGUNAN AIR MANCUR : Warga melintas di sekitar lokasi pembangunan air mancur menari (dancing fountain) di area Alun-alun Kota Magelang. Pembangunan ini menuai kritik karena anggarannya sangat fantastis 9AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU).
PEMBANGUNAN AIR MANCUR : Warga melintas di sekitar lokasi pembangunan air mancur menari (dancing fountain) di area Alun-alun Kota Magelang. Pembangunan ini menuai kritik karena anggarannya sangat fantastis 9AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU).

MAGELANG–Rencana pembangunan air mancur menari (dancing fountain) yang dilakukan oleh Pemkot Magelang di area Alun-alun Kota Magelang dikritik, karena anggarannya super fantastis. Salah satu pengusaha, sekaligus mantan anggota DPRD Kota Magelang, Edi Sutrisno, menganggap anggaran pembangunan air mancur menari tidak rasional.

“Dulu, waktu saya menjabat sebagai anggota DPRD, Pemkot mengajukan pembangunan air mancur tahun 2013-2014 namun tidak disetujui. Waktu itu, anggaran yang diajukan sekitar Rp 1,5-1,8 miliar. Nah kok bisa sekarang bisa lolos dan bahkan anggaran mencapai Rp 4,9 miliar? Jumlah ini sungguh tidak rasional!” sentil Edi.

Edi menegaskan, pembangunan air mancur yang dilakukan Pemkot, dengan anggaran sangat besar, patut dipertanyakan. Sebab, lanjut Edi, saat ini industri atau usaha pembuatan air mancur menari harga alatnya cukup murah, yaitu Rp 500 juta hingga termahal Rp 1 miliar.

“Sebagai contoh air mancur menari di Kaliurang Yogyakarta, itu pembangunan dan alatnya tidak sampai Rp 1 miliar. Itu alat pengatur air mancur menari buatan Tiongkok, harganya di kisaran Rp 500 juta. Nah, di Kota Magelang anggaran kok sampai Rp. 4,9 miliar? Apa nanti ada bangunan di atasnya dan ada emasnya?” sentil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Magelang tersebut. Selain mengkritik anggaran yang sangat fantastis, Edi menilai, pembangunan air mancur yang berada persis di depan Masjid Agung, tidak memperhatikan perspektif estetika dan etika.

Sebab, lanjut Edi, letaknya yang tepat berada di depan Masjid Agung, akan mengganggu aktivitas ibadah. “Kita lihat saat salat Idul Fitri maupun Idul Adha, di mana didepan area masjid hingga naik ke Alun-Alun digunakan untuk salat. Mana mungkin salat di belakang air mancur? Dan, apa nanti juga tidak basah?” ucap Edi.

Edi mengatakan, jika memang harus dan perlu dibangun air mancur menari dengan alasan menarik wisatawan dan sebagai ikon Kota Magelang, maka lokasinya bisa dibangun di bekas videotron. “Jika memang perlu dibangun, maka anggarannya tidak perlu sampai Rp 4,9 miliar, cukup Rp 1,5 miliar. Ini juga sebagai kritik kepada DPRD, kenapa bisa lolos anggaran sebesar itu?” tegas Edi.

Terpisah, Ketua Fraksi Demokrat DPRD Kota Magelang, Waluyo, saat diminta tanggapan terkait pembangunan air mancur menari, enggan berkomentar banyak. “Maaf Mas, itu ranah di Komisi C. Sebagai anggota DPRD saya tidak bisa berbicara banyak, ” kata Waluyo, singkat. (cr3/isk)