Sempat Dilarang Orang Tua, Kini Kerap Juara

Riska Faihatasya, Pendekar Silat Asal Tambak Mulyo, Tanjung Mas 

487
BELA DIRI: Riska Faihatasya saat menjadi juara lomba pencak silat di USM (DOKUMEN PRIBADI)
BELA DIRI: Riska Faihatasya saat menjadi juara lomba pencak silat di USM (DOKUMEN PRIBADI)

Perempuan identik dengan aktivitas fisik yang ringan. Tapi, Riska Faihatasya R memilih aktivitas yang cukup berat, yakni menjadi atlet pencak silat. Bahkan, pendekar silat perempuan asal Kampung Tambak Mulyo, Tanjung Mas, Semarang Utara ini kerap menjuarai lomba silat.

ABDUL MUGHIS

RISKA Faihatasya R kini berusia 20 tahun. Alumnus SMK Negeri 8 Semarang ini sudah kerap memboyong piala dalam berbagai lomba pencak silat. Bermodal ketekunan, kegigihan dan semangat, Riska menorehkan berbagai prestasi di cabang olahraga bela diri ini.

Ia mengaku tak mengira bila hobi pencak silat itu sekarang justru membawanya meraih prestasi.  “Saya mulai menyukai pencak silat sejak duduk di bangku sekolah dasar,” kata Riska, belum lama ini.

Dikatakan, di awal menekuni kegiatan pencak silat tidak mendapat dukungan dari keluarga. Sebab, pencak silat terkesan ‘menakutkan’ dan memerlukan fisik keras. Ia juga kerap cidera akibat bertarung persahabatan maupun kompetisi.  “Orang tua lebih mengharapkan saya memilih olahraga selain pencak silat. Misalnya, voli atau basket,” ujarnya.

Namun demikian, Riska tetap memilih pencak silat. Pencak silat sebetulnya memuat unsur gerakan tari yang berisi kelembutan. Ia semakin menjadikan pencak silat sebagai ilmu beladiri yang paling digemari. Sejak itu pula dia mulai menekuni dan berusaha untuk tampil sebaik mungkin.

“Saya rasa, semua olahraga memerlukan fisik kuat. Tidak hanya pencak silat, olahraga lain juga memiliki risiko. Hal penting sikap profesional dan fair play,” kata gadis kelahiran 6 Juli 1996 ini.

Keraguan dari keluarga mampu ia jawab dengan rentetan prestasi. Dari situ, orang-orang terdekatnya justru mendukung. Tercatat, sederet prestasi pernah diraih. Pada 2013 lalu, Riska berhasil meraih juara I pada Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) di Semarang. Dua tahun berikutnya dia meraih peringkat III dalam ajang internasional yang diselenggarakan di Bali.

Belum lama ini, dia juga memperoleh predikat sebagai pesilat terbaik dalam kejuaraan Rektor Cup II tingkat Jawa Tengah yang diselenggarakan di UIN Walisongo Semarang.

“Saya juga pernah Juara II pada kejuaraan pencak silat antar pelajar tingkat nasional di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jogjakarta. Lalu, pertandingan Pertamina Cup tingkat nasional di Jakarta, itu juga juara II mewakili Daop 4 Semarang,” ujarnya.

Riska tercatat sebagai anggota Perisai Diri, satu di antara organisasi beladiri yang tergabung dalam Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). IPSI merupakan induk organisasi resmi pencak silat di bawah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

“Saya ingin ke tingkat kejuaraan yang lebih tinggi. Kunci berprestasi giat berlatih aja,” katanya. (*/aro)