Implementasi Pendidikan Kecakapan Hidup ABK

492
Oleh: Yani Saptiani SPd
Oleh: Yani Saptiani SPd

ADANYA Undang Undang yang menaungi ABK atau Anak Berkebutuhan Khusus dalam hal pemenuhan hak ataupun kesempatan untuk memperoleh pendidikan dan  pekerjaan di tengah-tengah masyarakat patut disambut dengan suka cita. Undang Undang Nomor 8 Tahun 2016  tentang Penyandang Disabilitas erat hubungannya dengan layanan pendidikan kecakapan hidup atau life skills. Pendidikan kecakapan hidup diartikan sebagai interaksi berbagai ilmu pengetahuan dan kecakapan yang sangat penting untuk dimiliki oleh seseorang, sehingga nantinya dapat hidup mandiri.

Sehubungan dengan hal  tersebut perlu dipersiapkan suatu program yang nantinya dapat mencetak ABK untuk dapat bekerja  dan diterima di masyarakat. Sekolah Luar Biasa (SLB) dalam hal ini sebagai lembaga penyelenggara pendidikan bagi ABK perlu mengembangkan alternatif layanan program pendidikan yang mampu memberikan kecakapan hidup untuk siswanya.

Implementasi program Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) di SLB ini dapat disesuaikan dengan kondisi  fisik serta kemampuan anak didik. Penguatan program ini dapat dilakukan melalui pengembangan muatan lokal yang diarahkan menjadi pendidikan pra vocational (keterampilan). Semua anak didik diperlakukan sesuai dengan ketunaan/kelainan  serta dioptimalkan sesuai kemampuan yang dipunya. Mengingat pada SLB yang di dalamnya terdapat satuan pendidikan dari TKLB, SDLB, SLTPLB, SMLB maka pola PKH harus disesuaikan dengan program pembelajaran masing-masing pada satuan pendidikannya.

Pola pelaksanaan PKH di SLB dapat ditempuh melalui  pengembangan empat aspek,yakni:

 Pertama, aspek pengembangan budaya sekolah. Budaya sekolah sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak didik. Karena itu, dalam pengembangan pendidikan kecakapan hidup, budaya sekolah harus senantiasa dibina. Pembinaan ini berhubungan dengan aspek sikap dan perilaku siswa yang menjadi tuntutan di dunia kerja. Pembinaan ini mencakup aspek disiplin diri, sikap tanggung jawab, kerja keras, semangat untuk belajar, toleransi ataupun kerja sama. Sehingga hal tersebut nantinya dapat teraplikasikan dalam sendi kehidupan kaum difabel  untuk menyongsong masa depan.

Kedua, aspek manajemen sekolah. Dalam hal peningkatan manajemen sekolah prinsip kemandirian, kerja sama, keterbukaan, dan akuntabilitas  juga harus dikembangkan. Seperti halnya sekolah pada umumnya ,manajemen di SLB harus membangun kesamaan pemahaman tentang program kecakapan hidup, kemudian secara bersama-sama menyusun program dan melaksanakan program tersebut dengan sebaik-baiknya. Selanjutnya perlu adanya evaluasi secara periodik guna mengetahui kendala yang terjadi dan mengatasi serta menemukan solusinya. Sekolah juga harus mampu menciptakan iklim wirausaha  yang nantinya juga akan menumbuhkan sikap positif bagi anak didiknya.

Ketiga,  aspek  reorientasi pembelajaran. Pelaksanaan pendidikan di sekolah luar biasa hendaknya diorientasikan kepada kecakapan hidup, oleh karena itu secara konseptual mata pelajaran yang mengacu kepada bidang ilmu seperti Metematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, PKn, dan sebagainya diharapkan mampu menumbuhkan aspek kecakapan hidup peserta didik. Hal ini bukan berarti anak tidak diajarkan menulis pada pelajaran  Bahasa Indonesia, ataupun menghitung dalam pelajaran Matematika, tetapi diharapkan kesemuanya itu dapat diintregasikan ke dalam tema yang nantinya akan berpengaruh  untuk  kehidupannya.

Potensi Diri

Dalam cakupan reorientasi pembelajaran ada empat hal yang perlu dikembangkan, meliputi a) Kecakapan personal (self awareness ), kecakapan ini berorientasi pada kesadaran diri yang harus dimiliki oleh peserta didik untuk  mengenali  siapa dirinya ,kesadaran akan potensi diri yang masih  dimilki untuk   menolong diri sendiri dalam kegiatan keseharian ,ataupun belajar menumbuhkan percaya diri.

  1. b) Kecakapan sosial (social skill ), kecakapan ini berorientasi pada pengembangan komunikasi dan kemampuan bekerja sama  dalam lingkungan.ataupun kerja kelompok. Contoh sederhana yakni kerja gotong royong membersihkan kelas.
  2. c) Kecakapan pra vokasional (pre vocational skill), kecakapan ini mengarah kepada penguasaan keterampilan ataupun pemberian latihan sebelum anak memasuki dunia kerja. d) Kecakapan hidup bekerja (occupational skill), kecakapan ini mengarah pada  penguasaan keterampilan, penguasaan kompetensi sesuai kemampuan dan bakat yang dimiliki atau juga sampai pada tarap menghasilkan produk barang ataupun jasa.

Materi  paket keterampilan meliputi  beberapa program pilihan seperti pertanian, kerumahtanggaan, usaha dan perkantoran, keterampilan jahit/sulam, usaha pertokoan, peternakan, cuci motor,  ataupun kesenian. Selain itu ada juga pelajaran khusus yang disiapkan  untuk mengatasi masalah utama anak di sesuaikan dengan ketunaan yang dialami. Yakni Orientasi mobilitas (termasuk juga bina diri ) untuk  Tuna Netra, bina persepsi bunyi dan irama untuk Tuna Rungu Wicara, bina diri  (kemampuan merawat diri ) untuk Tuna Grahita, bina gerak untuk  Tuna Daksa, dan bina pribadi dan sosial untuk  Tuna Laras.

Dengan reorientasi pembelajara ini anak didik diharapkan dapat berkembang maksimal menuju kecakapan hidupnya. Anak diharapkan mampu menguasai keterampilan atau kecakapan tertentu bagi kehidupannya.

Keempat, aspek hubungan sinergis masyarakat. Hubungan sinergis antara sekolah, orang tua dan masyarakat sangat penting dalam mendukung implementasi  PKH. Keterlibatan orang tua dan masyarakat dapat dijadikan kesempatan untuk menentukan arah pengembangan program sekolah. Sejalan dengan dibentuknya komite  yang merupakan patner sekolah dalam menyusun kebijakan dan menyukseskan program sekolah, maka  peran dan fungsi komite sekolah  adalah sebagai badan yang mewadai peran serta masyarakat dalam  meningkatkan mutu ,pemerataan, dan pengelolaan pendidikan di satuan lembaga pendidikan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing masing.

Dengan demikian, sekolah pada tataran teknis perlu menganalisis biaya sekolah yang berkorelasi signifikan terhadap mutu pendidikan yang nantinya diperoleh, serta mampu meyakinkan bahwa kebijakan  program yang diambil dapat membawa kemanfaatan bagi anak didiknya.

Melalui pengembangan di setiap aspek diharapkan program PKH dapat terimplementasikan secara baik dan benar, sehingga akan menghantarkan kaum difabel menjadi insan yang berguna dengan penguasaan kecakapan yang dimiliki, serta dapat bekerja dan benar -benar diterima  di tengah-tengah masyarakat. (*/aro)