MENGHINA PRESIDEN: Tersangka Slamet Wibowo saat diinterogasi petugas (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
MENGHINA PRESIDEN: Tersangka Slamet Wibowo saat diinterogasi petugas (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANGSlamet Wibowo, 29, warga Cangkiran RT 04 RW 04 Kecamatan Mijen terpaksa diringkus petugas Tim Cyber Subdit II Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng. Pasalnya, laki-laki pengangguran ini diduga melakukan pelanggaran atas kasus Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Pelaku yang telah ditetapkan sebagai tersangka ini diduga melakukan penghinaan terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui kata-kata yang diunggah di media sosial Facebook. Selain itu, tersangka juga menyebarkan ujaran kebencian yang mengarah konten suku, ras, dan agama (SARA) di akun Facebook-nya.

Kasubdit II Ditreskrimsus Polda Jateng, AKBP Teddy Fanani, mengatakan, awal pengungkapan ini bermula ketika mendapat limpahan informasi dari Cyber Patroli Bareskrim Mabes Polri terkait hal ini. Kemudian pihaknya menindaklanjuti melakukan penyelidikan terhadap pemilik akun tersebut. “Kami menindaklanjuti, melakukan patroli cyber, termasuk mengambil postingan-postingan tersebut,” jelasnya.

Pada kasus ini, akun Facebook tersangka tidak menggunakan nama aslinya Slamet Wibowo. Dia memakai nama samaran, Rio Wibowo. Nama samaran untuk mengelabuhi supaya tidak terlacak.

“Modus operandi yang dilakukan tersangka dengan memposting kata-kata melalui media sosial Facebook. Dia melakukan penghinaan, ujaran kebencian, dan mengarah pada konten SARA,” bebernya.

Dari hasil penyelidikan, tersangka melakukan perbuatan kurang lebih hampir selama satu tahun. Yakni, sejak pertengahan 2016 hingga 2017.  “Postingan ini dilakukan kurang lebih sudah satu tahun sejak Juli 2016 hingga Agustus 2017. Total ada enam postingan,” jelasnya.

Setelah mengantongi akun tersangka, petugas melakukan penyamaran dengan nama samaran seorang wanita bernama Dea. Selanjutnya, terjadi komunikasi dan berlanjut menggunakan WhatsApp. Hingga akhirnya upaya ini berhasil meringkus tersangka tanpa perlawanan di daerah Mijen, pada 19 September 2017 sekitar pukul 17.00.

“Tersangka ini tertarik, dan kita melakukan pertemuan. Pada saat pertemuan itulah, kita melakukan penangkapan,” katanya.

Selanjutnya tersangka digelandang ke Mako Ditreskrimsus Polda Jateng yang berlokasi di Kecamatan Banyumanik. Selain menangkap tersangka, petugas menyita barang bukti dari tangan tersangka. “Untuk barang bukti yang sudah kita sita satu handphone, KTP milik tersangka dan screenshot-screenshot postingan yang dilakukan oleh tersangka,” ujarnya.

Teddy menegaskan, dari hasil pemeriksaan terhadap tersangka hingga saat ini belum ada kaitannya dengan akun sarachen. Ujaran kebencian tersebut dilakukan atas dasar inisiatifnya sendiri, dengan motif dendam pribadi. “Akan kita dalami untuk dikembangkan, apabila ada orang lain atau kelompok yang bersangkutan dengan kasus ini,” terangnya.

Saat ini, tersangka telah ditahan dan masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Pada kasus ini, tersangka dijerat dengan pasal 45A ayat 2 jo pasal 28 ayat 2 UU No 8 Tahun 2011 serta perubahannya pasal UU No 19 Tahun 2016 tentang ITE.

“Tersangka diancam hukuman maksimal 6 tahun penjara. Memang postingan lebih ke arah SARA, ini yang memberatkan perbuatan bersangkutan,” imbuh Ditreskrimsus Polda Jateng Kombes Pol Lukas Akbar Abriari.

Tersangka mengaku nekat melakukan perbuatan tersebut sekadar mencari pembelaan. Sehingga ungkapan kata yang diunggah di akun Facebook-nya bernama Rio Wibowo bisa dibaca masyarakat. “Saya mencari pembelaan tidak bisa ya saya posting melalui Facebook. Supaya masyarakat tahu, karena saya ditindas. Saya posting di Facebook melalui HP” katanya.

Pria pengangguran ini menegaskan melakukan ini atas inisiatifnya sendiri. Menurutnya, hal itu adalah dendam pribadinya yang kurang menyukai dengan sosok kepemimpinan Presiden Joko Widodo. “Dari pihak agama maupun Jokowi. Tidak ada yang menyuruh. Awalnya hanya dendam pribadi saja,” akunya. (mha/aro)