Usul Bela Negara Masuk Materi Kuliah

536
SEMINAR: Seorang taruni Akmil bertanya dalam dalam seminar nasional tentang pertahanan di Gedung Lily Rochli komplek Lembah Tidar Akmil, Rabu (20/9) (DOK PENHUMAS AKADEMI MILITER).
SEMINAR: Seorang taruni Akmil bertanya dalam dalam seminar nasional tentang pertahanan di Gedung Lily Rochli komplek Lembah Tidar Akmil, Rabu (20/9) (DOK PENHUMAS AKADEMI MILITER).

MAGELANG– Bela negara bukan militerisisasi, juga bukan hanya milik militer. Namun, bela negara merupakan kebutuhan semua warga bangsa. Bela negara sesungguhnya untuk menumbuhkan rasa cinta Tanah Air warga kepada bangsanya.

“Bela negara merupakan aktualisasi dari Pancasila, UU 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ucap Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Dr Purnomo Yusgiantoro saat menyampaikan pidato kunci dalam seminar nasional tentang pertahanan kerjasama Akademi Militer (Akmil) dengan Universitas Negeri Semarang (Unnes) di Gedung Lily Rochli kompleks Lembah Tidar Akmil, Rabu (20/9) kemarin.

Mantan Menteri Pertahanan (Menhan) RI era SBY itu menuturkan, meski program bela negara belum diundangkan atau masuk UU, namun program bela negara saat ini sudah mulai berjalan. Menurut Purnomo, adanya UU Bela Negara akan mewajibkan warga bangsa untuk melakukan bela negara.

“UU Bela Negara itu penting. Meski belum ada UU Bela Negara, jangan jadi kendala untuk menjalankan program bela negara. Saya berharap, berprofesi apapun, misal dokter, insinyur, dan profesi lain, harus punya semangat bela negara.”

Purnomo membeber, di Indonesia, sudah ada tiga kampus yang membuka Program Studi Bela Negara. Yakni, UPN Veteran Jakarta, UPN Veteran Jogyakarta, dan UPN Veteran Surabaya. “Saya juga usul, ke depan bela negara bisa masuk kurikulum di semua kampus atau perguruan tinggi, masuk sistem kredit semester (SKS).”

Dikatakan, adanya gerakan terorisme di Indonesia saat ini, karena tidak adanya pemahaman bela negara. “Kita telah melakukan penelitian, penyebab terjadinya terorisme, di antaranya kurangnya pemahaman bela negara, pengaruh dari luar, faktor kemiskinan dan lainnya.” (san/isk)