BERSAMA TERASA NIKMAT: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi bersama Wawali Hevearita Gunaryanti Rahayu saat memotong tumpeng. (kanan) Warga menikmati tumpengan masal Kembul Bujono (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).
BERSAMA TERASA NIKMAT: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi bersama Wawali Hevearita Gunaryanti Rahayu saat memotong tumpeng. (kanan) Warga menikmati tumpengan masal Kembul Bujono (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Ratusan warga Kota Semarang memadati halaman Balai Kota Semarang, Rabu (20/9) tadi malam. Mereka tampak menikmati tumpengan masal menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1439 H atau malam 1 Sura.

ABDUL MUGHIS

TADI malam, halaman Balai Kota Semarang tampak meriah. Ratusan warga dari berbagai kalangan duduk lesehan di atas karpet merah. Mereka berbaur tanpa sekat. Sesuai dengan tema ‘Tumpengan Masal dari Rakyat untuk Rakyat’, sejumlah warga datang dengan membawa beraneka tumpeng untuk disantap bersama-sama.

NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG
NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG

Sebelum menikmati nasi tumpeng, warga dengan khusyuk mengikuti  istighotsah dan doa awal Tahun Baru 1439 H.  Istighotsah dipimpin oleh KH Fahrurozi. Usai doa bersama, dilanjutkan kegiatan tumpengan masal atau Kembul Bujono dengan menyediakan 100 buah tumpeng untuk disantap secara gratis oleh warga yang hadir dalam acara tersebut.

Prosesi Kembul Bujono diawali dengan pemotongan tumpeng oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi didampingi Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu.

Hendi — sapaan akrab Hendrar Prihadi– kemudian menyerahkan kepada salah satu warga yang hadir dalam kesempatan tersebut. Terpilih salah seorang warga, Achmad Fuad,  Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) yang dinilai memiliki andil besar dalam kegiatan kemasyarakatan.

“Tahun baru hijriyah memiliki pesan yang patut diteladani, yakni pada saat itu Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekah ke Madinah. Ada semangat perbaikan, pembaharuan, pantang menyerah, saat itu Nabi Muhammad SAW rela meninggalkan saudara di Mekah untuk membangun,” kata Hendi.

Maka seluruh warga Kota Semarang perlu memperbarui semangat, berkorban, dan pantang menyerah.

“Tidak berbicara kepentingan sendiri, tetapi membangun bersama-sama. Membangun Semarang perlu banyak tangan. Bukan hanya pemerintah saja. Bukan hanya got rusak pemerintah, jalan rusak pemerintah, anak nggak bisa sekolah pemerintah, dan seterusnya. Tetapi diperlukan peran serta masyarakat bersama-sama untuk membangun,” ujarnya.

Dikatakan, bukan berarti pemerintah lepas tangan atas setiap permasalahan, tetapi apabila warga tidak bersama-sama, maka berbicara kemajuan akan sangat membutuhkan waktu sangat lama.

Pada peringatan malam 1 Sura itu juga dimeriahkan pergelaran wayang kulit semalam suntuk bertajuk “Anoman Maneges” dengan dalang Ki Anom Dwijo Kangko  dan hiburan lawak Marwoto.

Menurut Hendi, lakon  ‘Anoman Maneges’  itu kurang lebih bercerita  tentang kejahatan dan kebatilan akan berkembang apabila orang baik diam.  Karena itu, Hendi mengajak masyarakat memerangi kebatilan dan kejahatan yang kerap datang dari mana saja. Misalnya, di era sekarang, banyak orang di media sosial menyebatkan fitnah dan berita hoax. “Mari kita buktikan, kita warga Kota Semarang adalah keluarga besar yang siap memerangi kejahatan dan kebatilan,” katanya.

Kebersamaan, lanjut Hendi, dalam prosesi tumpengan masal ini menggunakan istilah ‘Kembul Bujono’. “Ada sebuah momen yang menarik. Tumpeng-tumpeng ini bukan hanya dari pemerintah. Tetapi dari masyarakat Kota Semarang,” ujarnya.

Kembul Bujono, terang Hendi, hendak menyampaikan pesan bahwa dalam membangun Kota Semarang perlu melepaskan sekat yang ada. Perbedaan warna, keyakinan, agama dan seterusnya, harus tetap menjaga persatuan.

“Tidak kemudian, yang klambi abang dolane hanya sama klambi abang. Konsep Kembul Bujono adalah membaur tanpa melihat pangkat diri masing-masing. Berkah di tahun baru ini, semoga menjadikan Kota Semarang lebih baik,” harapnya.

Sementara itu, bulan Sura menjadi berkah bagi Ndaru Handoko Aji. Ia kebanjiran penjamasan keris.  Pria 47 tahun ini sejak kecil sudah membantu ayahnya menjamas keris. Setelah ayahnya meninggal pada 2005, Ndaru melanjutkan profesi menjamas keris di rumahnya Jalan Batan Timur Raya No 44, Semarang.

Di bulan Sura ini, ia kebanjiran order. Jika di bulan lain rata-rata sebulan hanya 30-an keris, di bulan ini bisa sampai 500 keris. Padahal Ndaru bukan satu-satunya penjamas keris di Semarang. Ndaru sendiri mematok biaya penjamasan paling murah Rp 50 ribu.

“Setiap keris itu tidak ada yang sama, maka perlakuannya harus baik, dan dengan tata cara yang khusus, seperti berpuasa, tirakat, memilih hari yang baik, dan diperlukan sesajen” ujar Ndaru

Dirinya mengaku dalam menjamas keris harus hati-hati. Keris yang dicuci pun beraneka ragam, dari yang buatan empu  hingga buatan orang biasa. (mg46/mg47/aro)