Oleh: Ahmad Rofiq
Oleh: Ahmad Rofiq

SELAMAT datang tahun baru Islam 1439 H. Tidak terasa satu tahun perjalanan kita di tahun 1438 H berakhir kemarin. Hari ini kita mengawali tahun baru, dengan spirit, niat, komitmen, dan motivasi baru, agar di dalam menjalani sisa umur kita di tahun 1439 H ini, diberi kemudahan, keberkahan, dan keridlaan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Hidup kita ini punya misi. Kita diciptakan oleh Allah, bersama dengan jin, adalah untuk beribadah, mengabdi kepada-Nya (QS. Al-Dzariyat: 56). Ibadah ritual (mahdlah) kita seperti salat, puasa, haji, hanya akan bermakna manakala kita buktikan dalam bentuk ibadah sosial. Kesalehan individu hanya akan meninggalkan bekas (atsar) fisik dan “kulit luar” saja, jika tidak dibuktikan dengan ibadah sosial, berupa menebar kasih sayang, dermawan dengan memberi makan orang yang membutuhkan, amal sosial kebendaan lainnya, rajin bersilaturrahim, agar tercipta suasana yang kondusif dan harmonis, kesatuan dalam keragaman.

Meminjam bahasa khas kita, kita ber-Bhinneka akan tetapi tetap Tunggal Ika, agar hidup kita ini harmoni laksana sebuah orkestra, yang indah dinikmati, dari perpaduan berbagai alat musik yang masing-masing berbeda. Dengan konduktor yang bertalenta, pemusik yang masing-masing rendah hati dan profesional, hingga mampu menghasilkan musik yang luar biasa.

Allah ‘Azza wa Jalla, Tuhan Yang Maha Kuasa,  masih memberi umur panjang dan kesehatan fisik, akal, dan hati kita, mari kita manfaatkan sisa umur kita ini dengan sebaik-baiknya.
Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa hari ini lebih baik dari hari kemarinnya, maka ia adalah orang yang beruntung, barang siapa hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia adalah orang yang tertipu, dan barang siapa hari ini lebih buruk dari hari kemarin. Maka ia adalah orang yang terlaknat” (Riwayat Ath-Thabrani).

Mari kita buka mata hati, pikiran, dan perasaan kita, agar nurani kita mampu kembali bercahaya,  siap menerima siraman nur dan cahaya petunjuk Ilahi. Mari kita hapus dan sucikan dosa kita sebersih-bersihnya, dengan taubatan nashuha, kita buka lembaran baru, kita torehkan tinta mas, untuk menghiasi dan merenda masa depan kita, guna meraih kehidupan yang bermakna di bawah lindungan payung hidayah, inayah, dan keberkahan dari Allah ‘Azza wa Jalla. Selagi kita masih dikaruniai sisa umur di dunia ini.

Bertambahnya deret waktu bagi kita, berarti makin dekat diri kita ke alam barzah. Kita tidak ada tahu, kapan kita hidup di dunia ini, karena umur adalah rahasia-Nya. Banyak saudara-saudara kita telah mendahului sebelum menikmati jamuan Allah, semoga mereka husnul khatimah. Ada juga saudara kita yang sedang berasyik ma’syuq dalam bermunajat kepada-Nya, di saat itu juga malaikat Izrail menjemputnya secara husnul khatimah.

Alangkah indah dan nikmatnya, di sisa umur kita, Allah senantiasa melimpahi kebahagiaan duniawi dan kesejahteraan ukhrawi, berbalut maghfirah dan kasih sayang-Nya. Alangkah memesonanya, jika di sisa hidup kita ini, makin membara cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Betapa romantisnya, sekiranya kita dapat menjadi hamba Allah yang senantiasa pandai bersyukur, bermanja melalui tahajjud dan qiyamullail di pangkuan-Nya, seperti Rasulullah Muhammad saw yang selalu mengisi sepertiga malamnya bersama para malaikat pembawa rahmat dan kasih sayang.

Alangkah harum dan wanginya lisan kita, jika kita mampu menghiasinya dengan alunan dzikir, tasbih, tahmid, dan tahlil, memuji keagungan-Nya.

Alangkah bahagianya kita, manakala para malaikat menjemput kita nanti, ketika kita terjaga dalam kesucian wudlu, betapa membuncahnya kebahagiaan kita, ketika cucuran air mata kita membasahi pipi dan sajadah kita, karena merindukan Allah Sang Maha Pencipta. Alangkah beruntungnya kita, ketika dalam “kepulangan” kita nanti telah kecukupan perbekalan taqwa kita kepada-Nya.

Alangkah nikmat dan bahagianya kita, manakala di akhirat kelak, kita dapat disapa dan dipanggil oleh Allah bersama dengan para Rasul, Syuhada’, dan kekasih-kekasih Allah yang shalih-shalihah. Alangkah damainya hati kita ketika di surga-Nya nanti, kita dipertemukan dengan hamba Allah yang menjadi kekasih dan utusannya Rasulullah Muhammad saw.

Mari kita senantiasa memohon kepada Allah, agar jangan sampai kita menyesali diri kita di kala kita sudah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berbuat kebajikan. Allah SWT mengingatkan kita:  “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)-ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh? Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematian ya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Munafiqun: 10-11).

Mari kita mulai dari diri kita, tidak banyak manfaatnya, kita berwacana tanpa keberanian dan tekad untuk memulainya hari ini juga. Allah berjanji pada kita akan membukakan jalan petunjuknya, bagi hamba-hamba-Nya bersungguh-sungguh. “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di (jalan) Kami, maka sungguh Kami akan menunjukkan jalan Kami, dan sesungguhnya Allah menyertai orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-‘Ankabut: 69).

Manusia akan dapat memperoleh kemajuan, keberuntungan, dan kebahagiaan sejati, manakala ia bekerja keras untuk memulai dan mendapatkan hasilnya. Sebaliknya, orang yang malas, dijamin tidak akan dapat menikmati kebahagiaan hidupnya. Firman Allah swt: “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah (keadaan) suatu kaum sehingga mereka merubah diri  mereka sendiri” (Q.S. ar-Ra’du: 11).

Rumus hidup dan kehidupan ini, adalah seperti peribahasa orang-orang tua leluhur kita. Rajin pangkal pandai. Hemat pangkal kaya. Kerja keras pangkal bahagia. Barang siapa bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkannya. “Man jadda wajada”  artinya “barangsiapa bersungguh-sungguh maka akan terwujud (keinginannya)”. Itulah hukum alam,  natural law, atau sunnatullah.

Dalam rangka menyambut tahun baru 1439 H, kita wajib dan harus bekerja keras. Tanpa bekerja keras mustahil kita akan mendapatkan kemajuan dan kebahagiaan. Kita mulai dari diri kita, sekarang juga. Kemajuan butuh keseriusan, kesungguhan, dan juga sikap rendah hati dan tawakkal kepada Allah. Manusia hanyalah perencana dan pekerja, tetapi Allah jua yang akan mengabulkan dan menolong perwujudannya.

Mengakhiri  renungan pagi ini, mari kita simak seksama perintah Allah. “Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS. At-Taubah: 105).

Semoga di tahun baru 1439 H, usaha dan kerja kita, diberi kemudahan oleh Allah, bermanfaat bagi masyarakat, kita makin hati-hati dan waspada pada kehidupan dunia yang cenderung materialistik-hedonis, agar kita tidak kehilangan kesempatan untuk berbuat baik dan yang terbaik. Insya’ Allah keberuntungan, keberkahan, dan ridla Allah akan meringankan beban dan tugas hidup kita sebagai khalifah-Nya. Amin. Allah a’lam bi sh-shawab. (*/aro)