Pembicaraan Tragedi 65, Sarat Politik

247
BAHAS TRAGEDI 65 : Tokoh Gusdurian, Alissa Wahid dalam diskusi Sembilan Pemikiran Gus Dur di Gedung Pelayanan Pastoral St Ignatius Kota Magelang, Rabu (20/9) kemarin (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu).
BAHAS TRAGEDI 65 : Tokoh Gusdurian, Alissa Wahid dalam diskusi Sembilan Pemikiran Gus Dur di Gedung Pelayanan Pastoral St Ignatius Kota Magelang, Rabu (20/9) kemarin (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu).

MAGELANG – Tokoh Gusdurian, Alissa Wahid menilai saat ini ketika membicarakan tragedi 65 (kasus G30S/PKI) di Indonesia sarat dengan sentimen politik. Pasalnya, pembahasan tentang kasus tahun 1965 tersebut dekat dengan prosesi politik di Indonesia. Meski demikian, Alissa Wahid menghormati masyarakat yang mau belajar sejarah melalui film atau pun sumber sejarah lainnya.

“Menghormati hak warga negara yang menonton, mengkritisi maupun mengkritisi yang menonton itu hak warga negara,” kata Alissa Wahid usai menjadi pembicara dalam diskusi Sembilan Pemikiran Gus Dur di gedung Pelayanan Pastoral St Ignatius Kota Magelang, Rabu (20/9) kemarin.

Puteri mendiang Presiden Abdurrahman Wahid itu mengatakan, pada zaman Orde Baru sendiri, saat itu dilakukan sebagai propaganda setiap tanggal 30 September warga wajib menonton film G30S/PKI. “Namun kemudian, Film itu pada zaman Gus Dur tidak diwajibkan, tetapi juga tidak dilarang, ya biasa juga,” kata Alissa.

Menurut dia, pada masa awal-awal reformasi menyadari betul adanya belokan-belokan sejarah yang belum terang, situasi seperti apa dan diterima dengan baik. Alternatif pemahaman sejarahnya kemudian berkembang dengan pesat. “Sekarang persoalannya karena ada sentimen-sentimen politik yang dilekatkan pada itu. Kalau Gusdurian mau memutar itu (film G30S/PKI), saya tidak terlalu khawatir justru pasti akan mengkritisi film itu. Pasti akan mengkritisi, pasti akan dengan sejarah,” papar Alissa.

Gus Dur sendiri dalam melihat persoalan 65, menurut Alissa, bahasa Gus Dur seperti setiap bangsa akan menjalani sejarahnya dan ada belokan-belokan. “Belokan ini kadang-kadang salah. Nah 65 itu belokan yang salah bagi bangsa Indonesia. Karena itu Gus Dur mendorong rekonsiliasi. Rekonsiliasi kultural mencari kejelasan dan saling memaafkan,” ujarnya.

Untuk itu, menurut Alissa, upaya yang tepat saat ini adalah upaya rekonsiliasi sejarah yang sesuai. “Yang terpenting, jadikan peristiwa sejarah yang kelam menjadi bagian dari sejarah bangsa ini dengan saling menjaga agar peristiwa kelam tak lagi terulang,” pesan Alissa. (cr3/lis)