Kemarau, Embung Mulai Menyusut

689
AIR MENYUSUT : Budidaya ikan air tawar di embung Sebligo Desa Lerep Kecamatan Ungaran Barat (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
AIR MENYUSUT : Budidaya ikan air tawar di embung Sebligo Desa Lerep Kecamatan Ungaran Barat (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

UNGARAN – Imbas musim kemarau, beberapa embung di Kabupaten Semarang mengalami penyusutan. Seperti halnya yang terjadi di Embung Sebligo Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat.

Kades Lerep Sumaryadi mengatakan penyusutan hingga mencapai 30 persen. Seperti diketahui, embung tersebut juga digunakan warga untuk budidaya 18 ribu ekor ikan air tawar. “Tiga bulan ini air embung menyusut lebih kurang 30 persen. Agar ikan tetap hidup, kami memanfaatkan suplai air sisa sumber yang digunakan masyarakat,” kata Sumaryadi, Rabu (20/9).

Embung ukuran 50 meter x 60 meter tersebut berdiri di lahan milik desa. Dalam kondisi normal, kedalaman air bisa mencapai 4 meter dengan kapasitas tampung air 8.000 meter kubik atau setara 8 juta liter. Untuk memperkecil kebocoran, pemerintah desa setempat sengaja mengaplikasikan konstruksi dinding geomembran. “Ketika ada yang kebocoran, langsung bisa ditambal dengan material yang sudah disiapkan,” jelasnya.

Sumaryadi juga menjelaskan embung yang dibuat 2014 itu, nantinya akan dimanfaatkan untuk menyuplai air kebun durian lokal. Pihaknya merencanakan, ketika masuk musim penghujan, akan ditanam 3.000 bibit durian lokal. Bibit tersebut merupakan hasil penangkaran warga Desa Lerep bekerja sama dengan Yayasan Obor Tani. “Kenapa dipilih durian lokal, alasannya lebih kepada belajar dari pengalaman. Satu pohon durian lokal asli Lerep sudah terbukti menghasilkan Rp 12 juta sekali panen. Bibit yang ditanam dalam waktu 5 tahun sudah bisa panen perdana,” ujarnya.

Karena belum digunakan untuk pengairan kebun durian, potensi air di embung Sebligo sekarang lebih dimanfaatkan untuk wisata air. Pengelolaannya dilakukan oleh BUMDes Gerbang Lentera. (ewb/ton)