Film Baru untuk Persatuan Bangsa

Must Read

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau...

SEMARANG—Presiden Joko Widodo telah menggulirkan wacana untuk membuat film baru sejarah peristiwa 30 September 1965 terkait pro dan kontra penutaran kembali film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S/PKI. Perlu mengintegrasikan narasi-narasi baru untuk membuat film yang menyelesaikan masalah-masalah masa lalu demi menatap masa depan bangsa.

“Karena film itu sendiri (Penumpasan Pengkhianatan G 30 S/PKI, red) kan dibuat tahun 1984, sudah lama sekali. Sudah ada bukti-bukti baru, temuan-temuan cerita yang selama ini tak pernah didengar, ini mesti diintegrasikan,” tutur Ketua Umum Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Hilmar Farid usai melantik pengurus MSI Cabang Jawa Tengah Periode 2017-2022 di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Rabu (20/9).

Farid sepakat dengan wacana presiden Jokowi untuk membuat film baru tentang G 30 S. Tapi yang perlu ditekankan adalah tujuan dari pembuatan film tersebut. “Arahnya kalau menurut saya, (untuk) persatuan (bangsa). Kita ingin menyelesaikan warisan masa lalu. Semangatnya ini. Kita ingin menyelesaikan masa lalu agar bisa melangkah ke depan,” tutur pria yang juga Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini.

Mengintegrasikan berbagai narasi tentang peristiwa G 30 S sangat perlu dilakukan karena hasilnya nanti akan dipaparkan pada generasi yang sama sekali tak punya kaitan dengan salah satu periode sejarah Indonesia tersebut. Pemerintah, menurutnya, mampu melaksanakan tersebut. Sebab pemerintah memiliki akses penuh pada arsip-arsip yang ada. Dan yang tak kalah penting, pembuat film merupakan orang-orang yang punya kompetensi di perfilman.

Perlu ada upaya bersama untuk mengumpulkan narasi yang ada dengan satu tujuan, persatuan bangsa. Agar tak ada lagi dendam-dendam sejarah dan tak ada persoalan yang belum selesai di antara unsur-unsur masyarakat.

“Yang terjadi sekarang kita hanya buang waktu terlalu banyak. Kalau lihat komentar-komentar itu, seperti orang yang tidak baca apa yang sudah dihasilkan selama 30 tahun terakhir,” kata Farid. (ton)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini hadir dengan keunggulan internal memori...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau SARS 18 tahun lalu. SARS: yang...

Wajah Baru Warnai Ofisial Tim PSIS

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – PSIS Semarang resmi memperkenalkan ofisial tim musim depan. Terdapat beberapa nama baru yang akan bahu-membahu membantu pelatih Dragan Djukanovic mengarsiteki Mahesa Jenar...

Lomba Cepat

Berita buruknya: korban virus Wuhan bertambah terus. Sampai kemarin sudah 106 yang meninggal. Hampir semuanya di Kota Wuhan --ibu kota Provinsi Hubei.Berita baiknya: yang...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -