Transaksi Offline Turun, Jual Beli Online Meroket

386
Arnaz Agung Adrarasmara (DOKUMEN PRIBADI).
Arnaz Agung Adrarasmara (DOKUMEN PRIBADI).

SEMARANG- Perkembangan teknologi informasi (IT) tergolong cukup pesat. Dari segi bisnis, perkembangan IT sangat membantu pelaku usaha. Lihat saja, saat ini ada perusahaan jasa transportasi tidak punya unit kendaraan sendiri. Perusahaan jasa penginapan tidak punya hotel. Bahkan sistem perbankan pun tak perlu punya bank, cukup dengan e-money. Hal itu diungkapkan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Semarang, Arnaz Agung Adrarasmara dalam FGD bertema ‘Dampak Ekonomi Digital di Era Global’ di Balai Kota Semarang, Selasa (19/9).

Menurutnya, fenomena usaha tanpa perlu ‘modal fisik’ itu menandakan bahwa saat ini telah terjadi revolusi industri yang terus maju. Yang menjadi masalah, kata dia, perkembangan IT di era digital ini bisa jadi dua mata pedang yang bisa jadi hal positif atau negatif. Dia mencontohkan kontroversi perusahaan transportasi berbasis aplikasi online yang pernah bentrok dengan angkutan umum konvensional.

“Di jasa transportasi, ada pro dan kontra. Tapi diakui atau tidak, perkembangan zama yang semua serba digital ini perlu disikapi bijak tanpa harus merugikan pihak lain,” terangnya.

Kontroversi itu, lanjutnya, bisa saja terjadi karena kurangnya sosialisasi mengenai perkembangan IT. Dia mencontohkan, sistem e-toll yang dinilai belum berhasil. Sebab, ini merupakan transisi kebiasaan masyarakat untuk hijrah. “Dari kebiasaan menggunakan tunai, jadi elektronik,” katanya.

Arnaz juga mengkritisi mengenai ‘vonis’ daya beli masyarakat yang saat ini terus menurun. Mungkin, saat ini transaksi offline atau konvensional memang sedang sepi. Mal atau tempat perbelanjaan sudah jarang didatangi masyarakat. Tapi tidak dipungkiri bahwa sebenarnya masyarakat sudah beralih pada tren jual beli online. Keberadaan online shop pun kini mulai menjamur.

“Orang tinggal duduk di rumah, cara barang di online shop, nanti barangnya diantar sampai rumah. Ke depan, kami juga akan bekerjasama dengan BPS (Badan Pusat Statistik) untuk menghitung juga daya beli masyarakat di online,” terangnya.

Pulung Nurtantio Andono dari Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, menjelaskan, sadar atau tidak, perkembangan teknologi tidak bisa ditolak. Artinya, semua orang harus ikut arus pesatnya perkembangan IT agar bisa terus esksis.

Dia mencontohkan, tidak sedikit pengusaha yang pernah berjaya, terpaksa gulung tikar gara-gara ‘dicaplok’ kompetitor yang telah merambah IT. “Ini merupakan bukti bahwa era digital itu memang harus diikuti,” katanya. (amh/aro)