Minta Identitas Advokat Dirahasiakan

729
Theodorus Yosep Parera (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Theodorus Yosep Parera (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG-Dua aturan yang diterapkan Pengadilan Agama (PA) di wilayah Jawa Tengah untuk para adovokat atau pengacara yang sedang menangani perkara, Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Semarang Raya ajukan permohonan audiensi, agar aturan tersebut nantinya bisa diganti.

Aturan tersebut ditempel dalam sejumlah papan pengumuman di setiap PA di wilayah Jateng, diantaranya seorang advokat diwajibkan mencantumkan alamat rumah, tempat tinggal, foto copy KTP dalam surat kuasa, gugatan maupun jawaban. Selain itu, kewajiban bagi advokat mengenakan dasi pada baju yang dikenakan saat bersidang.

Ketua DPC Peradi Semarang Raya, Theodorus Yosep Parera mengaku, sejumlah advokat telah mengadukan masalah tersebut ke organisasi, karena mengalami masalah saat berpraktek di PA di wilayah Jateng. Menurutnya kebijakan pencantuman identitas secara lengkap tersebut, nantinya bisa mengakibatkan para pihak yang bersengketa mengetahui tempat tinggal dan domisili seorang advokat dimana hal ini berdampak adanya terror maupun lobi.

“Tentunya bisa saja terjadi intimidasi terhadap keluarga dari advokat maupun advokat itu sendiri, yang mengakibatkan bisa terganggunya penanganan perkara yang didampingi seorang advokat,” kata Yosep saat menanggapi pengaduan itu, Senin (19/9).

Sedangkan terkait aturan menggunakan dasi, menurutnya di dalam praktek sidang tidak semua advokat mengenakan kemeja biasa, karena ada juga yang menggunakan batik. Padahal, lanjut Yosep, batik sebagai ciri khas kultur budaya atau manifestasi kebudayaan di Indonesia khususnya budaya Jawa, sehingga kalau mengenakan batik dipadukan dasi, maka jelas mencederai dimensi adat istiadat dan kultural batik sebagai manifestasi kebudayaan masyarakat.

“Agar bisa mencapai proses persidangan yang baik di PA yang ada di seluruh Jateng, Peradi bermaksud meminta waktu ke PA Jateng melakukan audiensi guna menemukan langkah terbaik dalam menyelesaikan persoalan itu,”jelasnya.

Sekretaris DPC Peradi Semarang Raya, Deni Septiviant menambahkan, untuk menghindari kesalahan persepsi maupun mencederai adat istiadat atau kebudayaan setempat, khususnya batik yang sudah ditonjolkan Presiden Jokowi untuk membangkitkan rasa kebangsaan dan nasionalisme terhadap produk maupun negara Indonesia.

“Makanya sekarang pakaian adat sering digunakan dalam acara-acara resmi, tanpa diwajibkan lagi untuk menggunakan dasi, saat menggunakan pakaian adat tersebut,” imbuhnya. (jks/zal)