Rukma Setyabudi (Ketua DPRD Jateng).
Rukma Setyabudi (Ketua DPRD Jateng).

SEMARANG-  Semakin maraknya peredaran narkotika menjadi perhatian serius kalangan DPRD Jateng. Apalagi, sekarang sasarannya sudah mulai masuk seluruh generasi muda dan dengan berbagai modus. Dewan meminta agar penegak hukum bisa menggandeng tokoh masyarakat dan orang tua untuk mengantisipasi peredaran narkoba di Jateng.

Biasanya modus paling banyak digunakan pengedar narkoba adalah swallow (dengan cara ditelan), atau dimasukkan lubang dubur. Sedangkan jenis paling banyak masuk Jateng adalah sabu-sabu, kedua mariyuana, ketiga pil ekstasi, lalu psikotropika

Ketua DPRD Jateng, Rukma Setyabudi, mengatakan‌, narkoba telah menjadi masalah bersama. Semua pihak ikut bertanggung jawab, karena persoalan ini sudah sangat serius, dan bahkan Indonesia sudah darurat narkoba. Pemerintah tidak cukup hanya dengan Direktorat Reserse Narkoba, kemudian didirikan BNN (Badan Narkotika Nasional), bahkan tidak hanya di dua lembaga ini.

“Narkoba ini persoalan serius, dan harus menjadi perhatian semua kalangan, apalagi sudah menyasar anak-anak muda,” katanya.

Ia menambahkan, peredaran narkoba terus menjadi momok dan problem serius bangsa yang belum bisa diatasi. Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah mencatat setidaknya ada 2,2 persen dari total populasi orang di Indonesia yang terjerat narkoba.

Dari hasil penelitian terbaru BNN dan Universitas Indonesia (UI), di Jawa Tengah terdapat sekitar 500 ribu penduduk yang terlibat dalam penyalahgunaan obat-obatan terlarang tersebut. Ada sekitar 1,9 persen penduduk Jawa Tengah yang tercatat mengonsumsi narkoba. “Jumlah yang sangat besar dan harus segera diantisipasi. Apalagi sudah menyasar generasi muda,” ujarnya.

Politisi PDIP ini mengaku tidak mudah untuk memberantas peredaran narkotika. Dibutuhkan komitmen seluruh pihak untuk memberantasnya. Karena sangat tidak mungkin permasalahan narkoba selesai dengan satu lembaga. “Nah,‌ kata kunci narkoba adalah keluarga. Paling efektif adalah keluarga dengan sejak dini memantau keluarga kita masing-masing. Visinya Jateng bebas narkoba lewat keluarga,” katanya.

Pelaku pengedar narkoba semakin canggih dan menggunakan berbagai modus untuk mengedarkannya di masyarakat. Pintu masuk narkoba ke Jateng paling banyak melalui jalur darat, baik dari Jakarta maupun Surabaya. Yakni, paling banyak dengan moda kereta api atau pos pengiriman dan bandara.

“Peran serta masyarakat adalah dengan memberikan informasi sekecil apapun apabila menemukan peredaran dan pemakaian. Kita harus berkomitmen memberantas narkotiba jenis apapun itu,” tegasnya.

Peran serta masyarakat dan keluarga sangat dibutuhkan sebagai antisipasi peredaran narkoba di Jateng. Hal itu sangat penting mengingat peredarannya semakin meluas dan dengan menggunakan berbagai modus. “Keluarga harus tanggap dan sebagai benteng agar anak-anak tidak terjerumus mengonsumsi barang haram tersebut,” kata Ketua Komisi A DPRD Jateng, Masruhan Syamsurie.

Orangtua atau masyarakat memiliki peranan penting untuk memutus mata rantai peredaran narkoba. Salah satunya dengan membekali anak atau generasi muda dengan pemahaman agama (Islam) yang kuat. Agama harus benar-benar ditanamkan sebagai benteng agar anak tidak terjerumus dalam  mengonsumsi barang haram tersebut. Sebab, agama mengajarkan agar umat-Nya menjauhi sesuatu yang buruk dan memabukkan.

“Dan narkoba jelas masuk dalam sesuatu yang memabukkan dan membuat orang candu dan sangat membahayakan karena bisa mematikan,” ujarnya. (fth/adv/aro)