SATLANTAS Polrestabes Semarang akan segera menerapkan e-tilang melalui CCTV. Rencananya, e-tilang CCTV akan dimulai Senin (25/9) mendatang. Namun, banyak pertanyaan yang timbul di masyarakat mengenai pemberlakuan e-tilang CCTV ini. Sebab, penindakan pelanggaran berdasarkan bukti pelat nomor kendaraan. Artinya, sasaran dari e-tilang akan langsung kepada pemilik kendaraan.

“Prinsipnya untuk e-tilang ini adalah hanya cara penindakannya saja yang berbeda. Jadi, untuk mekanismenya kita akan melakukan identifikasi pelanggar dari pelat nomor kendaraan, maka yang akan kita sasar adalah pemilik kendaraan,” ungkap Kasat Lantas Polrestabes Semarang, AKBP Yuswanto Ardhi, ketika dihubungi Jawa Pos Radar Semarang, Selasa 19/9).

Ardhi memahami kebingungan masyarakat yang bertanya jika pada saat pelanggaran terjadi, pelaku pelanggaran bukanlah pemilik kendaraan tersebut. Ia pun menjelaskan bahwa pihaknya pasti akan memberikan ruang kepada pemilik untuk melakukan konfirmasi.

Dikatakan, CCTV digunakan sebagai alat bukti jika terjadi pelanggaran, sedangkan proses penindakannya masih manual. Berbeda dengan negara maju yang dendanya akan dijadikan satu bersama dengan pajak kendaraan bermotor (PKB) setiap tahun. Namun pihaknya menyadari bahwa data kendaraan masih banyak yang belum valid.

“E-tilang CCTV itu terminologinya tidak bisa dijadikan satu. E-tilang sendiri, CCTV sendiri. Nah CCTV hanya salah satu cara penindakan,” jelasnya.

Ardhi menegaskan, CCTV hanya digunakan untuk menggantikan situasi di mana para petugas tidak bertemu langsung dengan pelanggar. Hal itu didasari karena kurangnya personel yang dimiliki oleh satuannya. Nantinya ada 35 titik jalan protokol yang sudah terfasilitasi dengan CCTV. Setelah dilakukan penindakan melalui CCTV dengan peneguran, selanjutnya akan didata oleh petugas. Berikutnya, petugas akan mendatangi ke rumah pemilik kendaraan yang terduga pelanggar.

“Istilahnya, kita takar bobot pelanggarannya. Kalau masih bisa diingatkan, dan pengendara mematuhi peringatan itu (di jalan), ya kita tidak lakukan pencatatan untuk tindakan tilang,” katanya.

Ia menegaskan, e-tilang CCTV bukan satu-satunya tindakan yang dilakukan oleh Satlantas dalam penegakan hukum dengan tilang. Namun kegiatan seperti operasi dan penindakan langsung oleh petugas masih tetap dilaksanakan. Dalam artian, CCTV ini salah satu penambahan metoda penindakan.

“E-eilang itu untuk lebih memudahkan masyarakat dengan membayarkan jumlah denda tertentu langsung ke bank tanpa melalui proses persidangan. Tapi, opsi sidang juga bisa dipilih kalau mereka merasa tidak bersalah, dan ingin berargumentasi, CCTV sebagai alat buktinya,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, penerapan penindakan menggunakan CCTV ini merupakan hal yang biasa, namun memang memiliki perbedaan yang signifikan. Sebab, jika penindakan langsung oleh petugas, maka yang terkena adalah pengendaranya. Namun melalui CCTV, maka diberikan kepada pemilik kendaraan.

“Dari sini, kita harapkan kepada masyarakat lebih aware (memperhatikan, Red) lagi terhadap kepemilikan kendaraan. Artinya, kalau sudah pindah tangan atau dijual, segeralah melapor ke Samsat supaya data itu diubah, sehingga penindakan melalui CCTV ini tidak mengalami kendala,” katanya.

Ia menegaskan, kepada masyarakat yang dalam kategori warga tertib berlalu lintas, maka tidak perlu khawatir. Sebab, jika sudah tertib maka dalam berlalulintas juga akan aman dari penilangan. (tsa/aro)