TRADISI ULAMBANA: Tiga biksu asal Tiongkok saat membagikan paket sembako kepada para siswa SD dan SMP Kuncup Melati dan warga sekitar Kelenteng Tay Kak Sie, (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).
TRADISI ULAMBANA: Tiga biksu asal Tiongkok saat membagikan paket sembako kepada para siswa SD dan SMP Kuncup Melati dan warga sekitar Kelenteng Tay Kak Sie, (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG-Ritual sembahyang arwah atau King Hoo Ping digelar Yayasan Tjie Lam Tjay Jalan Gang Lombok Semarang. Ritual King Hoo Ping atau Ulambana tersebut dipimpin oleh  9 biksu  dari  Sangha Teravada Tiongkok diikuti ratusan siswa SD dan SMP Kuncul Melati serta warga sekitar. Upacara ditandai dengan sembahyang pembukaan pintu akhirat yang merupakan sembahyang mengawali pelaksanaan bulan Ulambana atas Pattumodana  yang jatuh pada bulan tujuh (lunar).

Berkaitan dengan sembahyang tersebut, juga dilaksanakan sembahyang “mencangkul bumi“ atau yang disebut dengan  Jit Gwee Phoa, yang merupakan tanda dimulainya pendirian panggung  sembahyang, dan dilanjutkan dengan sembahyang Pang  Tjwie  Ting atau sembahyang melepas pelita teratai  di air yang mengalir  yang ditujukan bagi arwah  yang wafatnya di air, seperti tenggelam.

Esok harinya dilanjutkan dengan  sembahyangan Fang Shen, yakni sembahyang melepaskan  mkahluk hidup, seperti ikan  atau burung  ke alam bebas. Puncaknya adalah sembahyang Ulambana (Phu tu ) atau King Hoo Ping yang merupakan sembahyang rebutan.

“Dalam sembahyang tersebut para biksu baik dari sangha Teravada maupun  sangha Mahayana bersama mendoakan para arwah leluhur, baik yang  tidak memiliki ahli waris   maupun yang memiliki ahli waris,” ungkap Humas Yayasana Tjie Lam Tjay, Wigianto T kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Wigianto mengatakan, sesuai ajaran Tee Cong Ong Poo Sat yang merupakan Boddhisatva  yang membimbing dan menyadarkan para arwah, maka setiap tahun tepatnya antara bulan Agustus  hingga September memandang perlu melakukan sembahyang Ulambana (Phut Tu ) maupun Pattumodana  (Chau Tu). “Biasanya  setiap tahun selalu membagikan paket sembako kepada warga sekitar yayasan terutama yang kurang mampu,” katanya.

Sedangkan upacara Ulambana itu merupakan upaya membalas budi kepada leluhur yang telah meninggal dunia. Selain itu, menjalankan cinta kasih dan kasih sayang Sang Budha untuk menolong para makhluk. “Tidak hanya itu, juga memberikan dana puja atau Kathina kepada biksu serta membagikan sedekah kepada warga yang kurang mampu,” ujarnya. (hid/aro)