Abdul Wachid Bantu Air Bersih di Demak

286
KEKERINGAN: Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Abdul Wachid, saat membantu air bersih warga Desa Ngeluh Kulon, Kecamatan Mijen, Demak, kemarin (JPG).
KEKERINGAN: Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Abdul Wachid, saat membantu air bersih warga Desa Ngeluh Kulon, Kecamatan Mijen, Demak, kemarin (JPG).

DEMAK – Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Abdul Wachid, tahun ini kembali mengirim air bersih ke beberapa desa yang mengalami kekeringan. Abdul Wachid secara langsung menyalurkan air bersih ke salah satu desa di Desa Ngeluh Kulon, Kecamatan Mijen, Demak. Sekitar 3 ribu liter air dikirim ke desa yang dihuni sekitar 1.500 jiwa itu.

Abdul Wachid sendiri yang mengalirkan air ke jerigen warga. Warga Desa Ngeluh Kulon cukup tertib antre untuk mendapatkan air. Karena banyaknya warga yang meminta air bersih, dalam waktu setengah jam bantuan air dari Abdul Wachid itu langsung ludes.

”Kami setiap tahun melakukan pengiriman air ke desa-desa di Jepara maupun Demak yang mengalami kekeringan. Kebetulan belum lama ini, saya dapat telepon dari salah satu warga di Desa Ngeluh Kulon, Mijen, Demak. Bahwa di desanya mengalami kekeringan. Saya kemudian intruksikan agar segera dikirim air bersih ke desa tersebut,” katanya.

Pengiriman ini, lanjut Abdul Wachid, akan dilanjutkan ke beberapa desa di Kecamatan Mijen, Demak, dan Kecamatan Kedung, Jepara.

”Secara khusus saya akan mengirim tangki air bersih untuk distribusikan air. Mulai besok, kami kembali kirim air bersih,” tandasnya.

Abdul Wachid mendorong agar pemerintah daerah maupun pemerintah pusat segera menyediakan instalasi air bersih ke desa-desa di Kecamatan Demak. Juga instalasi desa yang mengalami kekeringan.  ”Karena air di beberapa Kecamatan Mijen tidak bisa dikonsumsi. Jenis airnya payau. Sehingga warga memilih beli air,” katanya.

Kepala Desa Ngeluh Kulon, Mat Yasir, menjelaskan, warga desanya selalu beli air. Harganya Rp 2.500 per jerigen besar. Air itu dibeli dari sekitar Jepara. Ketika musim kemaru, harga air bersih naik menjadi Rp 6 ribu per jerigen. ”Tapi sekarang dari Jepara sudah dilarang untuk jual ke Demak. Selama 20 hari kami krisis air bersih. Warga beli air galon,” paparnya.

Warganya tidak ambil air dari Demak kota, karena kualitas airnya kurang baik dibandingkan dari Jepara. ”Kalau air di desa kami rasanya payau. Hanya untuk mandi dan nyuci. Kalau minum, airnya kami beli,” ungkapnya. (zen/bis/aro)