Upaya Pemkab Demak Gali Potensi Kelautan dan Perikanan di Pesisir

Program Unggulan, Asuransikan Nelayan, Genjot Produksi Ikan

146
TINJAU PAMERAN : Bupati Demak HM Natsir melihat hasil olahan ikan laut yang dikemas dalam pameran perikanan dan kelautan di Morodemak Bonang (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
TINJAU PAMERAN : Bupati Demak HM Natsir melihat hasil olahan ikan laut yang dikemas dalam pameran perikanan dan kelautan di Morodemak Bonang (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Potensi kelautan di wilayah pesisir Demak cukup menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemkab Demak pun berupaya untuk menggali potensi tersebut dengan melakukan berbagai terobosan. Selain menggenjot produksi ikan juga mengasuransikan nelayan. Seperti apa?

WAHIB PRIBADI, Demak

MENINGKATKAN kedaulatan pangan dan ekonomi kerakyatan berbasis potensi lokal serta mengurangi pengangguran menjadi tugas negara. Ini pula yang mendasari Pemkab Demak untuk menggali berbagai potensi yang ada, termasuk potensi kelautan.

Bupati Demak HM Natsir mengatakan, potensi kelautan di Demak menjadi salah satu unggulan 4 program utama selain pertanian, UMKM dan pariwisata. “Karena itu, kita terus maksimalkan potensi ini agar tujuan pemerintah dalam mewujudkan visi misinya mensejahterakan masyarakat dapat tercapai,” katanya dalam berbagai kesempatan.

Seperti diketahui, panjang pantai pesisir Demak 34,10 km dengan panjang garis pantai 72,14 km. Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) setempat, ada dua pelabuhan pelelangan ikan yang menjadi pusat pendaratan ikan. Yaitu, pelabuhan Morodemak dan Wedung.

Untuk menunjang melaut, armada kapal bermotor jumlahnya tercatat 3.591 unit dengan jumlah nelayan 15.319 orang serta jumlah alat tangkap 8.185 unit. Adapun, untuk melancarkan melaut ini, setidaknya ada 5 stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN) di Bonang dan Wedung. Pada 2016, produksi perikanan tangkap mencapai 4.219,69 ton dengan nilai produksi sebesar Rp 48,5 miliar.

Secara terperinci, produksi ikan laut yang dijalankan di tempat pelelangan ikan (TPI) Morodemak sebanyak 1.889.774 kg dengan nilai produksi Rp 22,7 miliar. Kemudian di TPI Wedung dengan produksi 46.384 kg nilai produksinya mencapai Rp 477,4 juta per tahun. Adapun, produksi di luar TPI, tercatat 484.039,5 kg dengan nilai produksi mencapai Rp 5,8 miliar. Total ada 2.420.197,5 kg dan nilai produksi Rp 29 miliar. Sedangkan, untuk produksi perairan umum sebanyak 1.799.507,485 kg dengan nilai produksi Rp 19,5 triliun.

Potensi kelautan yang lain berupa mangrove seluas 2.849 hektare kondisinya baik. Sedangkan, 1.196 hektare kondisinya sedang serta 1.162 hektare keadaannya rusak. Adapun, tingkat abrasi merusak 495, 80 hektare lahan dan muncul akresi (tanah timbul) seluas 309,08 hektare di pesisir laut Demak.

Kepala DKP Pemkab Demak, Ir Hari Adi Susilo mengatakan bahwa potensi budidaya perikanan produksinya mencapai 33.246.950 ton dengan nilai produksi perikanan budidaya Rp 598 miliar. Budidaya perikanan ini berada di tambak seluas 8.698, 97 hektare dan luas kolam air tawar 83,03 hektare. Adapun, jumlah kelompok pembudidaya kolam ada 118 kelompok dan pembudidaya tambak ada 44 kelompok. Budidaya ini didukung 1 unit balai benih ikan dan 25 unit perbenihan rakyat (UPR). Hingga kini, jumlah petani tambak atau rumah tangga perikanan mencapai 4.040 orang dan jumlah petani kolam ada 1.899 orang. “Jadi, potensi perikanan laut dan budidaya ini memang cukup besar,” katanya.

Dilihat dari produksi tambak, jenis produksi beranekaragam. Untuk jenis udang vaname bisa menghasilkan 454.293,877 kg dengan nilai Rp 20.7 miliar. Kemudian, udang windu dengan produksi 85.593,091 nilainya mencapai Rp 8,4 miliar. Ikan bandeng 350.258,152 kg dengan nilai Rp 191,7 miliar serta rucah dengan 350.258,152 kg bernilai Rp 3,4 miliar. Total ada 11.089.289,848 kg dengan total nilai Rp 224, 5 miliar.

Untuk produksi kolam, ada beberapa jenis ikan budidaya. Yaitu, nila dengan produksi per tahun mencapai 950.807, 254 dengan nilai produksi Rp 20,6 miiiar. Ikan lele tercatat 21.042.894, 577 kg dengan nilai Rp 348,5 miliar, ikan mas 49.420, 325 kg dengan nilai Rp 854 juta serta ikan gurame dengan produksi 114.574, 699 kg dengan nilai Rp 3,5 miliar. Total produksi 22.157.696, 855 dengan nilai Rp 373.4 miliar. “Untuk meningkatkan produksi ikan ini, dilakukan diversifikasi usaha pembudidaya ikan,” katanya.

Di antaranya mengembangkan komoditas perikanan bernilai jual tinggi dengan tingkat risiko rendah. Selain itu, dengan penerapan teknologi terapan adaptif dan revitalisasi tambak. “Untuk menambah penghasilan nelayan dan keluarganya, maka diberi bantuan demplot kolam atau tambak, pelatihan pengolahan dan bantuan perahu,” ujar Hari Adi.

Agar kinerja nelayan melaut terlindungi, kata dia, pemerintah juga memberikan asuransi nelayan. Menurutnya, risiko nelayan sangat tinggi karena mempertaruhkan nyawa di lautan demi mencari nafkah untuk keluarganya. “Ini sebagai upaya menyadarkan nelayan, betapa pentingnya jaminan sosial dalam pekerjaan,” kata dia. (*/adv/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here