Oleh : Agustina Eko Pujianti, S.P
Oleh : Agustina Eko Pujianti, S.P

AKHIR-akhir ini sering kali kita disajikan berita tentang tindakan diskriminatif  yang didapatkan oleh golongan tertentu atas tindakan golongan tertentu. Berita itu tersaji melalui media cetak ataupun media elektronik, di mana setiap lapisan masyarakat dapat meng-input-nya ataupun menerima berita tersebut.

Hati nurani kita tercabik-cabik dan sedih dengan maraknya berita di layar kaca akan aksi kekerasan dan kebrutalan yang berkedok agama. Sebagian golongan merasa paling benar dari golongan lainnya, bahkan mereka beranggapan golongan lain adalah golongan yang tidak pantas hidup di bumi Indonesia. Oleh karenanya aksi barbar dan premanisme yang tampak di layar kaca merupakan ungkapan diskriminatif  terhadap golongan tertentu yang tidak layak diikuti oleh generasi muda Indonesia.

Hal-hal seperti di atas tentunya bertentangan dengan semboyan kita Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan semboyan bagi masyarakat yang majemuk. Sakralitas semboyan itu terasa mulai luntur. sikap toleransi yang indah dan biasa kita laksanakan mulai rapuh. Yang akhirnya dapat membahayakan proses persatuan dan kesatuan di negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai. Sebagai pendidik tentunya hal-hal itu merupakan suatu keprihatinan yang perlu kita atasi.

Negara Majemuk

Indonesia merupakan negara majemuk yang terdiri atas berbagai suku, bangsa, agama, adat istiadat dan lain-lain. Hal itu terlihat dalam kehidupan sehari-hari di sekitar lingkungan kita, baik di lingkungan masyarakat ataupun lingkungan sekolah. Di lingkungan sekolah nasional, kita menjumpai beragam agama ataupun suku ataupun adat istiadatnya. Ini membuktikan bahwa bangsa ini memang merupakan bangsa yang majemuk dan harus kita junjung keberagaman yang ada dengan jiwa toleransi.

Pendidik sebagai bagian dari anggota lingkungan sekolah sangat berperan penting dalam menanam, menumbuhkan, dan melestarikan keberagaman itu dengan selalu mengingatkan jiwa toleransi dan menghindari sikap diskriminatif. Melalui berbagai pendekatan dan model pembelajaran yang asyik, peserta didik perlu diajak berdiskusi, berdialog, bahkan bersimulasi bagaimana cara hidup saling menghormati dengan tulus dan toleran terhadap keberagaman agama dan budaya yang ada di tengah-tengah masyarakat yang plural.

Peserta didik diajak berdialog untuk menimbulkan kepekaan terhadap aksi-aksi kekerasan yang ada, sehingga dapat menjadi feedback bagi sekolah untuk proses pembelajaran pendidikan multikultural. Juga sekolah perlu mendesain pendidikan multikultural ini agar tidak menjadi tanggungjawab guru mata pelajaran tertentu, tetapi harus terintegrasi dengan semua komponen mata pelajaran. Desain ini diharapkan dapat menjadi wadah praktik atau simulasi siswa bahkan guru ditengah kehidupan yang plural.

Pendidik sebagai fasilitator dan mediator dalam proses pendidikan multikultural harus memberikan penguatan, penegasan, dan motivasi agar menjadi suatu proses yang melekat dan tertanam kuat dalam pribadi siswa, sehingga bisa dikontruksikan menjadi pengalaman dan pengetahuan  yang baru tentang nilai-nilai multikultural. Sadar keberagaman di tengah pluralitas yang dilandasi jiwa toleransi yang kuat, jujur, ikhlas, dan menghargai orang lain atau kelompok lain, akan menjadikan benih yang indah dalam perkembangan kehidupan berbanga dan bernegara.

Selain itu, guru sebagai pribadi yang dilihat dan dicontoh oleh anak didik, tentunya juga harus memiliki karakter yang kuat dalam membangun sikap multikultural di tengah-tengah pergaulannya. Guru harus memiliki loyalitas yang tinggi terhadap Pancasila, UUD 1945, dan NKRI yang mengakui keberagaman atau kemajemukan di Indonesia. Alangkah bahayanya jika seorang guru justru mencederai semangat pluralitas.

Paradigma pendidikan multikulturalisme ini tentunya sangat bermanfaat dalam menjalin persatuan dan kesatuan bangsa di bawah sayap Pancasila sebagai idelogi bangsa yang diikat oleh semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Apakah kita sebagai pendidik tega dan rela jika sikap kebencian dan diskriminatif  hidup merajalela di tengah pluralitas kita? (*/aro)