Tingkatkan Literasi, Dorong Guru Bersemangat Menulis

448
SEMANGAT MENULIS : Para guru yang tergabung dalam MGMP Bahasa Jawa Kota Semarang foto bareng seusai mengikuti Pelatihan Menulis Artikel Populer di kantor Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (16/9) kemarin (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG).
SEMANGAT MENULIS : Para guru yang tergabung dalam MGMP Bahasa Jawa Kota Semarang foto bareng seusai mengikuti Pelatihan Menulis Artikel Populer di kantor Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (16/9) kemarin (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG–Sebanyak 38 guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa Kota Semarang, serius menyimak penjelasan dari dua narasumber yakni Pemimpin Redaksi (Pemred) Jawa Pos Radar Semarang, Arif Riyanto dan Redaktur Pelaksana (Redpel), Ida N Layla, saat acara pelatihan penulisan artikel dan opini yang digelar atas kerjasama Jawa Pos Radar Semarang dengan MGPM yang didukung oleh Air Mineral Sanford, di Kantor Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (16/9) kemarin.

Ketua MGMP Bahasa Jawa, Tukijo mengatakan bahwa digelarnya pelatihan tersebut, demi menggerakkan literasi guru dan membangun budaya menulis di kalangan para guru di Kota Semarang. Dengan gerakan literasi tersebut, nantinya para guru bisa menjawab tantangan pemerintah atas dana sertifikasi yang telah diberikan agar para guru bisa mengembangkan profesi gurunya secara lebih maksimal. “Selain itu, untuk menggerakkan budaya agar berani menulis atau menyampaikan gagasan, ide, bahkan opini tentang temuan, penelitian yang bermanfaat bagi dunia pendidikan,” katanya kemarin.

Kendala para guru untuk menulis, lanjut dia, adalah terbatasnya waktu untuk menulis dan masih belum adanya literasi, serta acuan untuk menuangkan gagasan, opini bahkan ide yang ada. Sehingga dengan adanya pelatihan tersebut, dirinya berharap para guru bisa memiliki kemampuan untuk menulis ide atau bahkan opini terkait proses belajar mengajar. “Goalnya agar mereka mau menulis gagasan, ide dan opini agar bermanfaat bagi khalayak luas,” tambahnya.

Melihat peserta pelatihan yang hadir dari berbagai daerah di Jawa Tengah, Tukijo mengaku sangat senang dan menganggap animo seperti ini sangat positif. Berarti sudah ada kesadaran bagi para guru untuk berliterasi. “Pelatihan ini melibatkan guru yang mencakup daerah berbagai daerah di wilayah Provinsi Jawa Tengah. Peserta yang hadir, mulai dari daerah Brebes, Banyumas, Batang, Pati, hingga dari dalam Kota Semarang,” ucapnya.

Diharapkan, setelah acara ini berlangsung, guru dapat menulis publikasi ilmiah di media massa sebagai salah satu syarat untuk kenaikan pangkat. Meski, menurut Tukijo, tanggung jawab sebagai seorang guru yang harus melakukan banyak tugas rutin, namun keselarasan dengan menulis publikasi ilmiah tidak boleh berhenti. “Untuk goals-nya, karya mereka (guru) bisa dimuat kemudian untuk follow up lagi untuk kami bukukan. Cetak terbit penerbit dan mendapat ISBN,” pungkas Tukijo.

Materi pelatihan yang diberikan dibagi menjadi dua yaitu prosedur pengiriman tulisan kepada media massa dan teori tentang penulisan artikel itu sendiri, seperti jenis-jenis tulisan dan karakteristiknya. Kedua materi tersebut disampaikan oleh Ida Nor Layla dan Arif Riyanto. Di tengah-tengah penyampaian materi, narasumber tanpa lelah memberikan dorongan bagi para guru yang hadir untuk secara aktif melakukan kegiatan menulis. “Karena tulisan itu sifatnya abadi. Kalau kita menulis, akan menjadi bagian dalam menorehkan sejarah bangsa. Kelak, meski sudah tutup usia, tulisan ini masih bisa menjadi warisan yang dapat dibaca oleh generasi berikutnya,” tutur Ida.

Dani salah satu peserta dari SMA Sokaraja Banyumas menyatakan termotivasi untuk menulis, setelah mengikuti acara tersebut. “Karena saya terakhir menulis itu sebelum jadi guru. Kebetulan kesukaan saya menulis sastra seperti cerpen, jadi belum mencoba untuk di-publish juga,” timpalnya.

Semangat para guru pun terasa saat dibuka sesi tanya jawab. Para guru melakukan diskusi interaktif dengan narasumber terkait menulis artikel ilmiah untuk media massa. “Nantinya sepulang dari sini, saya ingin menularkan budaya menulis ini kepada para siswa. Supaya mereka juga memiliki keinginan untuk menulis,” ungkap Pudji Slamet, guru SMPN 32 Semarang. (den/mg43/mg46/ida)