PREMIUM : Bahan yang masih harus diimpor membuat harga raw denim mahal (istimewa).
PREMIUM : Bahan yang masih harus diimpor membuat harga raw denim mahal (istimewa).

Sempat berjaya di masa lalu, raw denim kini kembali menjadi favorit di kalangan pecinta jeans. Lipatan, tanda pudar hingga robek yang terbentuk karena kebiasaan sehari-hari si pemakai menjadi keunikan tersendiri dari denim yang belum melewati proses pematangan ini.

Salah satu produsen premium raw denim, Yaenal Arifin mengungkapkan, jeans jenis ini memiliki ciri diantaranya bermaterial kaku dengan warna-warna indigo atau biru pekat. Material masih terasa sangat kaku ketika dikenakan karena belum memasuki fase pencucian maupun beberapa fase lain dalam industri garmen modern. “Karena itu disebut raw denim,” ujarnya.

BUTUH PERLAKUAN KHUSUS : Guna mendapatkan warna dan efek yang bagus, raw denim sebaiknya tak dicuci selama 6 bulan (ISTIMEWA).
BUTUH PERLAKUAN KHUSUS : Guna mendapatkan warna dan efek yang bagus, raw denim sebaiknya tak dicuci selama 6 bulan (ISTIMEWA).

Saat dikenakan, jeans akan berevolusi secara alami. Warna indigo perlahan akan memudar khususnya pada bagian-bagian yang saling bergesekan, membentuk pola berupa lipatan-lipatan sesuai dengan bentuk tubuh si pemakai.

Warna dari lipatan-lipatan tersebut akan semakin kontras saat denim dicuci setelah pemakaian berulang-ulang. Bahkan, terkadang juga muncul sobekan pada sejumlah bagian, di lutut dan saku belakang, misalnya.

Personalisasi atau pembentukan pola-pola lipatan dan fading sesuai dengan bentuk tubuh si pemakai ini hanya bisa didapatkan melalui raw denim. Memang sekarang diproduksi juga jeans yang kesannya lusuh, belel secara instan, tapi polanya satu dengan yang lain akan sama. “Kalau raw denim tiap orang hasilnya akan berbeda. Ini salah satu keistimewaannya,” ujarnya.

Untuk mendapatkan efek belel yang maksimal, lanjutnya, disarankan jeans dikenakan selama enam bulan tanpa dicuci. Selama masa tersebut ada beberapa trik yang bisa digunakan dalam membersihkan jeans. Mulai dari diangin-anginkan, dimasukkan dalam freezer hingga disemprot bahan kimia khusus.

“Bagusnya sih memang pakai dulu enam bulan baru dicuci. Tapi tergantung pemakaian juga, kalau sudah terasa kotor dan tercium bau tidak enak ya baiknya dicuci,” ujarnya.

Pemilik label Eugene Denim ini juga tidak setengah-setengah saat menghidupkan kembali konsep vintage clothing melalui raw denim. Mulai dari material, proses penjahitan hingga finishing pada bagian tepi yang menggunakan mesin shuttle looms.

Shuttle looms ini merupakan mesin tenun tradisional untuk menganyam tepian kain. Hasilnya juga sangat khas macam jeans-jeans kuno zaman dulu,” ujar pria yang sudah menekuni bisnis ini sejak 2013 lalu.

Sejauh ini, produk yang ia pasarkan melalui store dan media sosial @eugenedenim diakuinya belum ada hambatan yang berarti. Hanya saja, material yang masih harus impor dari Jepang dan Tiongkok menjadikan harga lebih tinggi dibanding denim pabrikan. “Tapi karena kami sudah memiliki mesin produksi, maka biaya bisa dipangkas. Sehingga harga masih bisa bersaing,” ujar alumnus jurusan Ekonomi Pembangunan Unnes ini.

Selain itu lanjutnya, meski harga tergolong sedikit lebih mahal, denim jenis ini juga telah memiliki pasar yang cukup potensial untuk dikembangkan. “Untuk dalam negeri pasar terbanyak kami kirim ke Jakarta. Sedangkan untuk luar negeri sudah ke Hongkong, Italia, Swiss dan Jerman,” ujarnya. (dna/ric)