BELUM OPERASIONAL : Bus pariwisata ini masih terparkir di pull Terminal Mangkang Kota Semarang, menunggu dilaunching 27 September mendatang (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG).
BELUM OPERASIONAL : Bus pariwisata ini masih terparkir di pull Terminal Mangkang Kota Semarang, menunggu dilaunching 27 September mendatang (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang telah mensosialisasikan bus wisata bertingkat sejak beberapa minggu lalu. Antusiasme masyarakat Kota Semarang cukup tinggi. Namun rencana peluncuran resminya pada 27 September mendatang.

KISARAN tahun 1980-an, pernah berjaya bus antik bernama Double Decker Bus di Kota Semarang. Orang Semarang kerap menyebutnya bus kawin karena terdiri atas dua lantai yang posisinya bertumpuk atau bertingkat.

Disebut berjaya, karena Double Decker Bus yang dikelola oleh Perusahaan Umum (Perum) Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia (Damri) ini menjadi transportasi masal kebanggaan bagi warga Kota Semarang.

Kemunculan bus tingkat di Indonesia tak terlepas dari peran mantan Presiden Soeharto, pada tahun 1983. Kala itu, Pemerintah Indonesia mendapatkan hibah bus tingkat dari pemerintah Inggris dan Swedia. Ada dua merek yakni Volvo dan Leyland. Semarang mendapat jatah bus tingkat bermerek Leyland Atlanteans with Duple-Metsec Bodies.

Ada kurang lebih 15 unit Double Decker Bus yang jatah untuk Jawa Tengah. Tetapi memasuki era 1990-an, peradaban zaman berubah, bus tingkat ini dipindahkan ke Surakarta. Transportasi umum di Kota Semarang kemudian berjejal taksi, angkot kecil, dan bus kecil yang lebih gesit ketimbang bus tingkat.

Romantisme bus tingkat masa lalu ini akan dihadirkan kembali di Kota Atlas. Saat ini telah siap dioperasionalkan sebuah bus tingkat atau Double Decker berteknologi lebih canggih.

Bus yang dirakit di Karoseri Nusantara Gemilang Kudus ini dijejalkan Mesin Scania, jenis Matic, Chasis Scania Type K310, kurang lebih menghabiskan Rp 3,5 miliar.

Memiliki tinggi normal 4,2 meter, panjang 13,5 meter, dan lebar 2,5 meter. Body bus terbuat dari aluminium, sehingga berat total lebih ringan dibandingkan body dari plat biasa. Dilengkapi berbagai peralatan teknologi digital, termasuk hidrolik untuk menyesuaikan kebutuhan tinggi rendah bus bisa disetel, aksesoris audio, AC, dan Close Circuit Television (CCTV) di ruangan lantai satu dan dua. Mampu menampung sebanyak 70 penumpang.

“Sesuai rencana, bus tingkat ini akan dilaunching pada 27 September 2017 mendatang,” kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang, Muhammad Khadik, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (16/9) kemarin.

Dikatakannya, bus tingkat ini nantinya akan melayani rute antar destinasi wisata di Kota Semarang. Sesuai dengan tulisan di bus “Yuk Muter-muter Semarang” untuk melihat indahnya Kota Semarang.

Mengenai rute, Khadik menjelaskan, bus ini mulai start di Museum Mandala Bhakti Tugu Muda, Jalan Imam Bonjol, Stasiun Poncol, Stasiun Tawang, hingga Kota Lama.

Sesampai di Kota Lama, berhenti kurang lebih 15 menit, kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Jalan Pemuda, melewati depan Balai Kota Semarang, kemudian masuk ke Jalan Pandanaran, memutar Simpang Lima, kembali ke arah Jalan Pandanaran, Jalan Dr Soetomo, Pasar Kembang Kalisari dan berhenti di Kampung Pelangi.

Setelah berhenti sebentar, bus wisata ini akan melanjutkan rute ke arah RSUP dr Kariadi, traffic light ke kanan, masuk daerah Kaligarang, Sam Poo Kong, Jalan Pamularsih, Bundaran Kalibanteng, kemudian masuk ke arah Jalan Jenderal Sudirman, Pasar Karangayu, Banjir Kanal Barat, lewat depan LP Wanita Bulu, Tugu Muda, dan kembali masuk ke Museum Mandala Bhakti.

“Itu rute yang kami rencanakan. Nanti tinggal menunggu apakah Pak Wali Kota menyetujui rute ini atau tidak. Yang jelas, itu sudah kami lakukan ujicoba,” katanya.

Dikatakan Khadik, lintasan jalur yang akan dilewati bus tingkat dengan roda belakang delapan dan dua roda depan ini telah siap. “Jalur yang akan dilewati sudah kami sterilkan bersama dinas atau instansi terkait, misalnya kemungkinan adanya gangguan-gangguan seperti ranting pohon maupun kabel. Mudah-mudahan lancar,” katanya.

Mengenai jam operasional, lanjut Khadik, sesuai rencana untuk hari Senin hingga Jumat ada empat trip setiap harinya. “Kemudian untuk Sabtu-Minggu kemungkinan estimasi kami akan lebih banyak permintaan. Mungkin akan ditambah menjadi lima trip. Untuk jadwal masing-masing trip ini masih kami susun lebih lanjut. Ini juga akan disusun dengan disesuaikan masukan dan minat masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut, Khadik menerangkan, berdasar kapasitas bus ini mampu memuat 70 penumpang, yakni lantai satu dan dua. “Warga bisa naik di setiap pangkalan. Di titik pertama yakni di Museum Mandala Bhakti, kami sudah lobi dengan pengelola museum Mandala Bhakti dan Kota Lama. Mengenai persyaratan warga untuk bisa naik bus wisata, apakah dengan menunjukkan KTP atau kartu identitas masih diatur lebih lanjut. Itu persoalan teknis masih akan kami atur lebih lanjut. Yang jelas, bus ini untuk melayani masyarakat, sementara ini gratis,” katanya.

Bus ini termasuk bus yang terbilang canggih karena didesain khusus dengan dilengkapi berbagai teknologi. “Ini bus Scania, semua perangkat serba digital dilengkapi dengan tombol. Kalau Bahasa Jawanya, bisa ‘diceperke’ karena menggunakan teknologi hidrolis. Misalnya kondisi lapangan membutuhkan badan bus untuk naik, badan bus ini juga bisa dinaikkan ketinggiannya secara otomatis,” katanya.

Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu mengatakan Bus Wisata tersebut diharapkan tidak kosong. Artinya, tidak boleh hanya muncul karena euforia belaka. “Misalnya, setelah diresmikan selesai begitu saja. Tetapi agar bagaimana memanfaatkan dan mengoptimalkan bus wisata tersebut. Sehingga perlu terus dilakukan kegiatan-kegiatan untuk mendukung program Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang. Terutama dalam pariwisata,” katanya.

Dikatakannya, misalnya di Kota Lama ada event yang diisi berbagai acara, fashion show, musik dan lain-lain. Nah, bus wisata tersebut bisa juga dimanfaatkan untuk muter-muter di Kota Lama. “Sebenarnya masih banyak hal untuk bisa dikembangkan. Tidak melulu hanya berada di jalur yang sudah ditentukan,” katanya.

Mengenai kesiapan operasional, kata Ita sapaan Hevearita, kalau secara fisik bus wisata ini masih baru. Sehingga kondisinya terbilang baik, karena dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang aman dan nyaman. “AC-nya masih dingin dan seterusnya. Justru yang menjadi penekanan saya mengenai infrastruktur seperti kondisi jalur yang banyak pohon maupun kabel, ini perlu diantisipasi. Kan sayang misalnya kaca bus nabrak ranting pohon, atau kabel. Itu harus dioptimalkan. Tapi sudah dilakukan uji coba kok. Jalur yang akan dilewati sudah siap,” katanya.

Untuk sementara ini, bus wisata ini belum bisa menjangkau ke lokasi wisata seperti Pantai Marina, Taman Marga Satwa Mangkang, Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), maupun Waduk Jatibarang atau Goa Kreo. “Sementara belum bisa menjangkau hingga Goa Kreo. Berangkatnya dari Museum Mandala Bhakti, ada transit di depan Taman Srigunting Kota Lama atau di depan Oudetrap, nanti di situ kan ada Tourism Information Center (TIC), ruang foto-foto, di belakang ada museum, arena teater. Dijadwalkan Desember sudah selesai. Ini nanti juga menjadi salah satu unggulan,” terangnya.

Ita menambahkan, pastinya bus wisata ini masih akan terus dilakukan evaluasi. Apabila hasil evaluasi memang bagus, maka ke depan pasti ada rencana untuk penambahan jumlah armada bus. “Termasuk jangkauan rute akan lebih jauh lagi. Untuk sementara ini, masih ada kendala kabel dan pohon. Kalau untuk rute Kota Lama, sudah tidak ada masalah, tapi yang cukup susah itu untuk menuju ke MAJT,” katanya.

Sementara itu, salah seorang warga, Dewi Nur Fatmawati, 24, saat dimintai komentar mengenai rencana Pemkot Semarang yang akan mengoperasionalkan bus tingkat antar wisata ini mengaku senang. “Saya penasaran ingin naik bus baru itu. Asyik kayaknya, jeng-jeng naik bus tingkat muter-muter Semarang. Yang menarik, ini gratis alias tanpa dipungut biaya,” katanya.

Namun demikian, ia memertanyakan mengapa pemerintah terkesan tanggung dalam mengeluarkan inovasi seperti ini. “Harusnya jangan tanggung-tanggung, pengadaan busnya ya dalam jumlah banyak, 10 unit kek. Lha ini cuma satu. Kalau perlu BRT (Bus Rapid Transit) diganti bus yang besar seperti ini, warga pasti lebih senang untuk menggunakan transportasi masal,” katanya. (amu/ida)