Oleh: Dra Ernawati Nadhifah
Oleh: Dra Ernawati Nadhifah

Bimbingan belajar atau Bimbel, termasuk salah satu dari berbagai jenis lembaga kursus pelatihan (LKP) sebagaimana disebutkan dalam UU Sisdiknas 2003. Sesuai undang-undang tersebut, LKP bertujuan memberikan bekal pengetahuan dan sikap untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi kepada masyarakat yang membutuhkan, yakni para siswa SD, SMP, dan SMA. Bimbel bagian dari lembaga Pendidikan Non Formal (PNF) yang keberadaannya diakui oleh pemerintah. UU No 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 62 disebutkan pendirian satuan pendidikan formal dan non formal wajib memperoleh izin pemerintah atau pemerintah daerah.

Mengapa Bimbel menjamur? Bimbel memang menyediakan semua serba manis dan enak. Bagai restoran siap saji yang menyajikan berbagai menu dan rasa tergantung dari selera dan kantong kita. Fasilitas ruangan, tenaga pengajar dan kebutuhan belajar. Fasilitas ruangan ber-AC ,mentor dengan wajah sumringah dan berpenampilan parlente yang selalu siap menjawab dan memberikan solusi segenap kesulitan siswa dalam hal pelajaran.

Di Bimbel, siswa bisa wajar berinteraksi dengan mentor tanpa perlu basa basi dan sangsi. Bau wangi yang ditebar para mentor, suara lunak yang bersahabat, seakan memberikan relaksasi tersendiri bagi para siswa setelah seharian berkutat dengan kegiatan yang ada di sekolah. Mengikuti Bimbel berarti punya kesempatan belajar lebih lama, dengan risiko lebih capek dan orangtua harus mengeluarkan “uang ekstra” yang lebih besar dibanding dengan biaya pendidikan di sekolah formal, karena memang Bimbel adalah suatu bentuk industri jasa pendidikan yang berorientasi mencari keuntungan (profit).

Target Nilai

Memang, ketika sekolah tak lagi bisa menyediakan segala yang diperlukan siswa, Bimbel menjadi sebuah harapan. Sekolah kini boleh jadi adalah tempat kedua setelah Bimbel. Di sekolah siswa sering mengapresiasi guru sebagai sosok yang angker yang sulit diajak bercanda sembari memecahkan soal-soal pelajaran yang acapkali belum mereka pahami. Di sekolah jarang sekali menerapkan sistem target bagi siswanya, sedangkan di Bimbel pasti setiap siswanya diberikan target nilai sesuai dengan kemampuannya. Sehingga siswa terpacu untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Di sekolah, pembelajaran cenderung lama dan bertele-tele, sebaliknya di Bimbel waktu belajar sangat cepat dan berbobot, disampaikan kiat-kiat belajar efektif, sehingga siswa tidak harus menghabiskan banyak waktu untuk menguasai beberapa materi pelajaran. Bahkan banyak Bimbel yang menggaransikan kemampuan siswa untuk menapak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi yang sesuai dengan selera dan harapan hati.

Menjamurnya Bimbel dan semakin banyak peminat untuk ikut Bimbel, faktor dominannya adalah orangtua anak itu sendiri. Orang tua zaman sekarang semakin banyak yang memanjakan anaknya. Banyak anak yang meminta orangtua mereka untuk ikut dalam Bimbel karena kemalasan dalam diri anak untuk mengerjakan tugas yang diberikan guru di sekolah. Akibatnya, para mentor yang seharusnya memberikan penjelasan mata pelajaran berubah fungsi menjadi sosok yang bisa mengerjakan tugas mereka untuk diserahkan kepada guru di sekolah. Para orangtua sekarang enggan mendampingi anaknya untuk belajar mandiri,apalagi membantu mengajari atau mengulang kembali materi pelajaran yang diberikan guru di sekolah.

Jika kondisi seperti ini, maka Bimbel bisa menjadi suatu solusi untuk menunjang keberhasilan pendidikan formal anak. Ketika sekolah dirasa penuh dengan tekanan, dan anak-anak butuh menyalurkan segala beban, maka Bimbel adalah wadahnya. Bimbel tidak lagi bisa dianggap sebagai kudapan, tetapi kini dia kebagian peran menjadi makanan pendamping dari  makanan utama yang tidak bisa dinomorduakan. Rasanya makan tanpa Bimbel jadi tak mantap , tak sedap, tak nikmat dan selalu siap saji kapan saja siswa membutuhkan. (*/aro)