SEMARANG – Kekeringan terus melanda sejumlah wilayah di Jateng. Terakhir, sebanyak 112 kecamatan di 23 kabupaten/kota telah mengalami kiris air bersih. Per 14 September 2017, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng mencatat, total ada 2.568 tanki droping air bersih di daerah tersebut.

Jumlah itu meningkat cukup signifikan dari akhir Agustus 2017 lalu. Saat itu, hanya ada 68 kecamatan di 16 kabupaten yang mengalami krisis air bersih. BPBD pun hanya butuh sekitar 470 tanki air bersih untuk mencukupi kebutuhan warga.

Kepala Harian BPBD Jateng, Sarwa Pramana menjelaskan, droping air bersih paling banyak ada di Kabupaten Pemalang. Meski hanya dua kecamatan yang mengalami krisis air, tapi telah menyedot 925 tanki. Rinciannya, 903 tanki dari BPBD kabupaten dan 22 dari corporate social responsibility (CSR).

Dijelaskan, hingga saat ini BPBD Jateng baru mengerahkan lima tanki untuk meng-cover kekeringan di Kabupaten Banjarnegara. Di sana, ada 28 desa di 18 kecamatan yang mengalami kekeringan. “BPBD Banjarnegara sudah melakukan droping 138 tanki. Terus kami kerahkan 5 tanki untuk mencukupi kebutuhan air bersih di sana,” terangnya, Jumat (15/9). Untuk Kota Semarang, baru ada 2 kecamatan yang harus dilakukan droping air bersih. “Hanya butuh 4 tanki saja. Itu pun dari BPBD Kota Semarang semua,” imbuhnya.

Sarwa menuturkan, pihaknya telah menyiapkan total 3 ribu tanki. Tanki itu siap didistribusikan ketika BPBD kabupaten/kota sudah kehabisan stok air bersih. Jika nantinya BPBD Jateng juga kekurangan, Badan Nasional Penanggulangan Daerah (BNPB) juga siap melakukan pengamanan.

Sementara itu, Prakirawan Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jateng, Septima mengaku, bulan September merupakan puncak musim kemarau. Praktis, tidak heran jika bulan ini banyak daerah yang mengalami kekeringan, khususnya di wilayah barat Jateng. “Tapi musim kemarau tahun ini masih tergolong normal. Tidak terlalu panas dan tidak terlalu lama,” terangnya.

Dari pengamatannya, dia memperkirakan kekeringan akan berakhir di akhir September ini. Sebab mulai awal Oktober mendatang sudah memasuki musim hujan. Saat ini saja, di beberapa daerah sudah turun hujan ketika malam hari. “Minggu pertama Oktober, yang masuk musim hujan baru Jateng bagian barat. Dilanjut bagian tengah. Kalau Jateng bagian timur, bisa jadi awal November baru turun hujan,” paparnya. (amh/ric)