PROMOSI KULINER: Adyanisa Septya Yuslandari saat menjadi food-grammer produk es krim (DOKUMEN PRIBADI).
PROMOSI KULINER: Adyanisa Septya Yuslandari saat menjadi food-grammer produk es krim (DOKUMEN PRIBADI).

Adyanisa Septia membantu para pecinta kuliner menemukan tempat makan yang enak lewat akun Instagram-nya. Ya, sudah dua tahun ini, ia menjadi food-grammer kuliner Kota Semarang. Seperti apa?

ESTIKA  WIDA

FOOD-grammer, sebenarnya adalah istilah tidak resmi yang muncul sejak maraknya budaya posting foto makanan ke media sosial, khususnya Instagram. Bisa dibilang mungkin disamakan dengan istilah food-blogger, penulis yang secara khusus mengulas makanan di blog-nya. Food-grammer juga tidak jauh beda dengan food-blogger.  Hanya bedanya, food-grammer mem-post foto makanannya di akun Instagram.

Adyanisa Septia adalah salah satu food-gramer di Kota Semarang. Lewat akun instagram Culinary Semarang, ia membagikan pengalamannya berwisata kuliner lewat foto-foto di akun Instagram  tersebut. Ia mengulas makanan-makanan yang telah dicicipi, dengan menambahkan keterangan harga, lokasi, serta kelebihan, dan kekurangan pada makanan.

“Aku mulai jadi food-grammer tahun 2015, dulu belum banyak yang punya akun makanan gitu, terus istilah food-grammer belum sefamiliar sekarang,” ujar gadis yang kerap disapa Ica ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pada awalnya, dara kelahiran Semarang, 8 September 1996 ini mengaku hanya iseng saja menjadi food blogger lantaran dirinya mempunyai hobi makan. Berawal dari keisengannya, ia mulai membuat Instagram yang berisi ulasan-ulasan makanan yang telah dicicipi.

“Awalnya iseng doang kok, kayak mau share doang makanan-makanan yang aku makan hari ini apa aja, terus harga dan tempatnya di mana?  Pokoknya iseng doang deh haha,” papar Ica.

Untuk menarik perhatian para pengguna Instagram, Ica menyertakan hashtag-hashtag mengenai kuliner yang dimakan, sehingga memudahkan para pengguna Instagram untuk mencari info mengenai makanan tersebut. Dengan menggunakan hashtag-hashtag Instagram yang mulanya hanya memiliki nol pengikut, sekarang bertambah hingga 32 ribu pengikut di Instagram.

Iya, dulu dari nol banget. Followers nol terus naik-naik sampai sekarang kalau gak salah sudha 32 ribu. Alhamdulillah deh. Antusiasnya makin tinggi kan orang-orang kadang kalau nongkrong bingung di mana? Jadi mungkin mereka cari referensi, makanya aku tambahin hashtag-hashtag aja biar gampang orang carinya,” tambah Ica.

Hal ini tentu saja memberikan keuntungan bagi putri sulung dari tiga bersaudara ini. Ia kerap diundang beberapa rumah makan dan bisnis kuliner lainnya yang meminta untuk dipromosikan lewat akun Instagram-nya. Selain bisa mencicipi makanan secara gratis, tak jarang ia juga dibayar karena telah mempromosikan produk makanan tersebut.

“Tarif yang aku kasih itu macam-macam. Kalau makanan diantar ke rumah, tarifnya Rp 50 ribu. Kalau saya mendatangi wilayah Semarang Kota Rp 100 ribu. Kalau di luar wilayah Semarang Kota Rp 150 ribu, dan  kalau pakai video durasi 1 menit tambah Rp 10 ribu,” paparnya.

Selain menentukan tarif, Ica juga menetapkan beberapa peraturan, seperti makanan yang akan dicicipi harus halal, untuk promosi jualan foto dan caption ditentukan oleh klien, untuk tarif Rp 100 ribu, foto akan diposting sebanyak 4 kali.

Melihat perkembangannya yang cukup baik sebagai Food-grammer,  Ica berencana akan merambah ke dunia Youtube untuk mengulas makanan yang telah dicicipi lebih dalam.  Sebab, menurutnya, Youtube menjadi andalan tahun ini untuk mengeksplor segala hal, termasuk dunia kuliner. (mg42/aro)