DOKUMEN IZIN USAHA: Kepala Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Magelang, Joko Budiyono, menyerahkan Surat Izin Tempat Usaha (SITU) kepada 20 pedagang di Pasar Rejowinangun, Jum’at (15/9) kemarin (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU).
DOKUMEN IZIN USAHA: Kepala Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Magelang, Joko Budiyono, menyerahkan Surat Izin Tempat Usaha (SITU) kepada 20 pedagang di Pasar Rejowinangun, Jum’at (15/9) kemarin (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU).

Jumlah pedagang di Pasar Rejowinangun yang telah mengantongi Surat Izin Tempat Usaha (SITU) hanya 20 pedagang, dari total keseluruhan pedagang sebanyak 3.450 orang. Mengapa?

KEPALA Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Magelang, Joko Budiyono, menyampaikan, SITU merupakan surat legalitas pedagang yang menempati los dan kios di pasar induk.

Menurut Joko, SITU dirintis sejak  tiga tahun lalu.  “Surat izin ini merupakan implementasi dari Perda No 6/2011 tentang Pengelolaan Pasar Tradisional, Penataan dan Pembinaan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern.” Begitu pula implementasi dari Perwal No 8/2014 tentang Tata Cara Pengajuan Permohonan SITU/surat izin penempatan pedagang tradisional.

Joko menjelaskan, rintisan SITU sudah lama, tapi baru terealisasi sekarang. Kendati demikian, kata Joko, baru 20 SITU yang dikeluarkan untuk pedagang yang menempati los Pasar Rejowinangun. “Targetnya, semua pedagang ke depan harus memiliki SITU, kecuali yang menempati lesehan. Tapi, untuk tahun ini, kita selesaikan dulu yang 432 pedagang.”

SITU dikeluarkan oleh Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP). Prosesnya, pedagang mengajukan permohonan ke UPT Pasar Rejowinangun dan dilanjut ke DPMPTSP. Sebelum SITU dikeluarkan, Disperindag memberikan rekomendasi terlebih dahulu. Setelah jadi, langsung diserahkan ke pedagang.

“Proses pengajuan bersifat gratis. Syarat pengajuan, pedagang harus jelas status daftar penempatannya dan sudah lunas retribusi. Sejauh ini, sudah masuk pengajuan sebanyak 432 pedagang dan ditarget rampung akhir tahun ini.”

Dikatakan, total jumlah pedagang di Pasar Rejowinangun sekitar 3.450 pedagang. Rinciannya,  254 menempati kios, 1.896 pedagang menempati los, dan 2.065 lesehan.

Mengapa banyak pedagang yang belum memiliki SITU? Sejumlah pedagang mengaku tidak tahu apa itu SITU. “Apa itu SITU? Dari dulu, nenek saya dagang di sini, nggak perlu surat izin. Yang penting terdaftar di Unit Dinas Pasar dan rajin bayar retribusi, beres,” kata seorang pedagang yang menolak menyebut namanya.

Ia menduga, sosialisasi yang dilakukan dinas terkait SITU sangat minim, sehingga banyak pedagang yang tidak tahu harus mengurus dokumen SITU. “Sebaiknya semua pedagang dikumpulkan dan diberi pengarahan.”

Pedagang lainnya, Siti, 56, menuturkan belum mengurus SITU karena prosesnya ribet. Bagi dirinya yang sudah berumur,  mengurus surat-surat ke dinas terkait tidak percaya diri. “Wah, yo wegah nek ngurus-ngurus ndadak mlebu kantor,” ucapnya. Ia mengusulkan agar petugas Dinas Pasar atau paguyuban pedagang proaktif mendatangi pedagang dan mengajukan perizinan secara kolektif. “Nek ngaten, nggih kulo setuju. Mboten sah repot.” (cr3/isk)