84 Persen Anak SD-SMA Pernah Alami Bullying

475
CEGAH BULLYING: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat meluncurkan Rumah Duta Revolusi Mental di bilangan Simongan Raya, Semarang Barat (Abdul Mughis/Jawa Pos Radar Semarang).
CEGAH BULLYING: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat meluncurkan Rumah Duta Revolusi Mental di bilangan Simongan Raya, Semarang Barat (Abdul Mughis/Jawa Pos Radar Semarang).

SEMARANG-Masih tingginya angka bullying dan kekerasan khususnya terhadap anak dan perempuan mengundang keprihatinan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi. Guna meminimalisasi kejadian tersebut, Jumat (15/9) kemarin, wali kota me-launching tempat yang bernama Rumah Duta Revolusi Mental (RDRM) yang terletak di bilangan Simongan Raya, Semarang Barat.

Menurut wali kota, RDRM merupakan wujud program peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat, kesejahteraan sosial, dan kualitas pendidikan, serta pemberdayaan perempuan dalam bidang kesehatan mental dan psikososial dengan menggunakan sistem informasi teknologi maupun bertatap muka secara langsung. Rumah Duta Revolusi Mental merupakan hasil kerja sama Pusat Pelayanan Terpadu Seruni, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dan TP PKK.

“Saya tidak menutup mata di Kota Semarang kekerasan terhadap anak maupun perempuan masih ada. Hal ini dikarenakan masyarakat masih menilai seseorang hanya dari segi fisiknya saja. Bahkan data yang ada pada Dinas Pemberdayaan Perempuan menunjukkan 84 persen anak SD sampai SMA pernah mengalami bullying,” ujar Hendi, sapaan akrab wali kota.

Wali kota berharap keberadaan Rumah Duta Revolusi Mental menjadi bagian awal upaya Pemerintah Kota Semarang untuk mengurangi angka kejadian kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Di dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang memanfaatkan keberadaan Rumah Duta Revolusi Mental, Pemkot Semarang menyediakan fasilitas pendukung yang nyaman dan lengkap, di antaranya ruang  konseling psikologi, Ruang Konseling Anak, Ruang Konseling Hukum, Ruang IT, Ruang Meeting, dan dapur serta halaman yang cukup luas.

Selain itu, menyediakan 2 Konselor Psikolog dengan 3 tenaga pembantu, serta 1 Konselor Hukum dengan 1 tenaga pembantu yang siap untuk melayani di Rumah Duta Revolusi Mental ini.

Program-program yang bisa diakses masyarakat secara gratis di dalam RDRM, yakni Restoratif Justice Program, Moral and Character Education Program, Public Mental Health Program, Community Development Program, Action Research, dan Human Resource Development Program.

Guna memperkuat RDRM, wali kota juga meluncurkan Program Geber Septi (Gerakan Bersama Sekolah Semarang Peduli dan Tanggap Bullying), yang sudah diiniasi pada 17 Februari 2016, saat Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang dilantik.

Geber Septi merupakan layanan konsultasi pencegahan serta penanganan kasus bullying berbasis teknologi, yang dapat diakses melalui alamat website gebersepti.semarangkota.go.id. Dalam website tersebut baik orang tua, siswa, bahkan guru dapat melakukan konsultasi secara online terkait permasalahan yang dihadapi secara gratis tanpa perlu takut identitasnya bocor sampai keluar.

Harapan wali kota, dengan adanya RDRM dan Geber Septi setidaknya dapat memutus mata rantai bullying di lingkungan sekolah dan tindak kekerasan lainnya, baik yang berbentuk fisik maupun kekerasan mental, khususnya terhadap anak dan perempuan di Kota Semarang. (amu/aro)