Samsu Hidayat (AHMAD ZAINUDIN/JAWA POS RADAR KEDU).
Samsu Hidayat (AHMAD ZAINUDIN/JAWA POS RADAR KEDU).

Harga kayu albasia di tingkat petani maupun pengolah (depo) terus merosot. Memasuki kuartal 3 tahun 2017,  kayu albasia dari petani/log berbagai grade merosot Rp 200-250 ribu rupiah per kubik dari harga normal.

SEMENTARA kayu balken produksi depo, juga turun diangka serupa. Tak hanya petani dan depo yang terdampak. Puluhan industri pengolahan barecore juga gulung tikar karena  kesulitan mencari bahan baku. “Dampaknya sistemik, petani hilang tabungan andalan, pabrik besar sulit jual, industri barecore banyak yang tutup karena rugi,” jelas Owner Depo Kayu  asal Simanis, Desa Pecekelan, Sapruan, H. Samsu Hidayat, kemarin.

Dikatakan, sejauh ini belum ada prediksi kapan harga kayu akan naik. Yang pasti, harga kayu yang terus turun dikhawatirkan membuat petani dan pengolah frustasi. Dampak jangka panjang, petani enggan menanam dan pengolah gulung tikar, karena sulit menjual barang. Ujung-ujungnya, Wonosobo akan kehilangan salah satu komoditas ekspor yang menjadi andalan selama ini. “Sejauh ini, komoditas ekspor Wonosobo setahu saya baru kayu dan teh. Kalau kondisinya terus seperti ini, bisa jadi petani tidak mau lagi menanam. Dan, besok tidak ada ekspor kayu dari Wonosobo lagi.”

Penyebab merosotnya harga kayu, konon karena harga kayu produksi Indonesia kalah murah dengan kayu asal Vietnam. Alhasil, buyer besar mancanegara lebih memilih kayu Vietnam. Selain harga, faktor jarak—khususnya untuk buyer dari Tiongkok—menganggap Vietnam lebih ekonomis. Sebab, jaraknya lebih dekat.

Samsu melanjutkan, selain harga jual merosot, kualitas kayu yang diminta buyer atau pabrik besar juga meningkat gradenya.  “Makin hari bisnis kayu albasia makin sulit.” Selain depo dan petani, industri barecore kondisinya juga sama. Mereka kesulitan mencari bahan baku (dari pabrik). Juga  harus kesulitan pula saat menjual barecore jadi ke pabrik. Akibatnya,  banyak pemilik barecore yang pilih  tutup sementara.  (cr2/isk)