SAHHH: Dedi Saputro saat menjalani ijab qobul dengan Dika Agustin Mahatmaya di Mapolsek Semarang Selatan, Kamis (14/9). Prosesi disaksikan oleh Kapolsek dan anggota keluarga (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang).
SAHHH: Dedi Saputro saat menjalani ijab qobul dengan Dika Agustin Mahatmaya di Mapolsek Semarang Selatan, Kamis (14/9). Prosesi disaksikan oleh Kapolsek dan anggota keluarga (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang).

SEMARANG – Suasana haru menyelimuti ruangan Mapolsek Semarang Selatan, Kamis (14/9) kemarin. Tahanan bernama Dedi Saputro, 32, lah yang menciptakan suasana tersebut. Ya, dia menikahi kekasihnya, Dika Agustin Mahatmaya, 20, saat terjerat masalah. Ijab qobul pun dilaksanakan di aula Mapolsek.

Upacara sakral itu disaksikan oleh kedua belah pihak keluarga serta dengan pengawalan pihak kepolisian, termasuk Kapolsek Semarang Selatan, Kompol Dedy Mulyadi. Dedi menikahi Dika yang sudah hamil delapan bulan itu, dengan mas kawin seperangkat alat salat.

Dedi yang mengenakan baju warna putih dan peci hitam itu dengan lancar mengucapkan kalimat ijab qobul kepada penghulu dari KUA Semarang Selatan. Orang tua Dedi sempat histeris melihat anaknya itu terpaksa melangsungkan pernikahan di kantor polisi.

Sementara, Dika nampak mengenakan kebaya merah muda itu terlihat tegar duduk disamping Dedi, meski sesekali mengusap air mata. “Rasanya campur aduk, bahagia sekaligus sedih. Saya sangat menyesal sekali dengan apa yang sudah saya perbuat,” terang Dedi warga Wonodri Kopen itu.

Usai ijab qobul, Dedi pun berpamitan untuk kembali lagi ke sel tahanan, sembari mengecup mesra kening istrinya tersebut. Dia harus menjalani hukuman atas perbuatannya.

“Rencana pernikahan sudah sejak 3 bulan lalu, undangan pernikahan sudah disebar sebelum saya tertangkap,” ujar pria yang mengaku berprofesi sebagai pak ogah itu.

Untuk diketahui, Dedi merupakan tahanan kasus pencurian genset di sebuah kios di Pasar Peterongan Semarang, pada 31 Agustus lalu bersama rekannya, Ahmad Wijayanto 31. Mereka berdua terancam pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan, dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

“Saya mengizinkan upacara pernikahan di Polsek, selama tidak mengganggu penyidikan. Tapi bagaimanapun juga upacara pernikahan adalah ibadah, dan polisi memberikan izin wujud humanisme,” pungkas Kapolsek. (tsa/zal)