SEMAI: Tim mahasiswa Universitas Tidar yang masuk dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Rabu (13/9) sore, tengah menyemai bibit manggis kaki ganda (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU).
SEMAI: Tim mahasiswa Universitas Tidar yang masuk dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Rabu (13/9) sore, tengah menyemai bibit manggis kaki ganda (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU).

Manggis umumnya hanya menghasilkan buah saat usia pohon mencapai 5-10 tahun. Namun, di tangan  mahasiswa Universitas Tidar (Untidar), bibit manggis kaki ganda diklaim bisa berbuah hanya dengan usia pohon 2 tahun.

MAHASISWA cerdas itu tergabung dalam  Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Untidar. PKM beranggotakan 3 mahasiswa. Yakni, Ardika Ageng Samudra selaku ketua; dengan dua anggota:  Fisiela Fikta Arunia dan Sri Windiyani.

Ketiganya meneliti bibit manggis yang mampu meningkatkan hasil panen. Hasilnya,  mereka  menemukan fakta bahwa bibit hasil sambung pucuk dengan batang bawah berumur 2 tahun, sudah bisa berbuah 1 tahun sejak disambung.

Bibit manggis kaki ganda dibuat menggunakan cara sambung pucuk. Yakni,  menggabungkan dua batang bibit manggis untuk menunjang serapan nutrisi dua kali lebih banyak dan pertumbuhannya cepat.

Penggabungan bibit manggis yang digunakan adalah bibit manggis unggul dalam berbuah; dengan bibit manggis yang baik dalam beradaptasi dengan tanah dan tahan penyakit akar.

Bibit manggis unggul yang menghasilkan buah—baik dari segi kuantitas maupun kualitas—menjadi batang atas. Juga bibit manggis yang mampu beradaptasi dengan berbagai jenis tanah dan penyakit akar menjadi batang bawah. “Batang tanaman manggis yang cenderung berbentuk pipih, saat disambung antara batang atas dan batang bawah, harus sebidang. Untuk itu, dibutuhkan keterampilan,”  jelas Ketua PKM Untidar, Ardika Ageng Samudra.

Memilih media bibit manggis sebagai media sambung pucuk, menurut Ardika, tingkat kesulitannya tinggi dibandingkan tanaman lainnya. Ardika mengaku, timnya telah mencoba pada tanaman durian, kelengkeng, duku, maupun sawo.

“Namun, ujicoba tersebut kurang berhasil. Kemudian, kami mencoba terhadap pohon manggis, ternyata berhasil,” ungkap mahasiswa semester 7 jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Untidar itu.

Ardika menambahkan, dari hasil perhitungan keuntungan yang didapat, mencapai 50 persen dari harga jual. “Bibit biasa seharga Rp 5.000 saja dan sekarang kami buat agar nilai jual bertambah dengan sambung pucuk bibit manggis sebagai daya tarik tersendiri. Harga bibit manggis kaki ganda, kami jual Rp. 50.000. Harga ini jelas menambah keuntungan bagi pengembang atau petani bibit pohon.” Saat ini, klaim Ardika, bibit temuannya sudah dipasarkan di daerah Sumberan, Salaman, Kabupaten Magelang.

Ardika menjelaskan, PKM tim-nya termasuk dari 12 PKM yang berangkat dalam monev eksternal di Unnes Semarang, bulan lalu.  Presentasi PKM Untidar, kata Ardika, menarik perhatian Tim Monev,  hingga akhirnya 3 bibit dibawa tim, sebagai wujud produk. Sedangkan dua bibit dibeli oleh Tim Monev. (agus.hadianto/isk)