SADIS: Tersangka pembunuhan pengusaha garmen yang dibekuk saat gelar perkara di RS Bhayangkara Semarang, kemarin (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
SADIS: Tersangka pembunuhan pengusaha garmen yang dibekuk saat gelar perkara di RS Bhayangkara Semarang, kemarin (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG- Pelaku pembunuhan sadis terhadap pasangan suami istri (pasutri) pemilik pabrik garmen di Benhill, Jakarta berhasil dibekuk. Penangkapan dilakukan oleh tim gabungan Subdit III Resmob dan Subdit VI Ranmor Polda Metro Jaya dibantu tim Jatanras Polda Jateng beserta Unit Resmob Polres Grobogan di wilayah hukum Polres Grobogan. Penangkapan ini terjadi Selasa (12/9) di Hotel dan Karaoke Harmoni Indah sekitar pukul 19.00. Ketiga tersangka dibekuk saat sedang berfoya-foya di tempat karaoke tersebut.

Kasubdit VI Ranmor Polda Metro Jaya, AKBP Antonius Agus Rahmanto, menjelaskan, kronologi penangkapan berawal dari terungkapnya identitas korban pasutri atas nama Husni Zarkasih dan Zakiya Husni Masrur oleh Tim Inafis Polres Grobogan. Kemudian dilakukan penyidikan dan penyelidikan terhadap saksi-saksi, hasilnya mengerucut dan mengarah pada orang terdekat korban.

“Dua di antara tersangka sangat dekat dengan korban, karena bekerja di pabrik garmen milik korban,” ungkap Agus saat gelar perkara di RS Bhayangkara Semarang, Rabu (13/9).

Diketahui, korban merupakan pemilik salah satu pabrik garmen Alton Kids yang berada di Tangerang, Banten. Dua tersangka di antaranya merupakan mantan pegawai korban, yakni Ahmad Zulkifli alias Zul alias AZ bekerja selama 20 tahun sebagai sopir pribadi merangkap sopir pabrik, dan Sutarto alias ST 46, yang telah 30 tahun bekerja sebagai buruh di pabrik garmen tersebut. Sedangkan Engkus Kuswara alias EK 33, adalah kuli bangunan, namun pernah bekerja sebagai buruh pabrik garmen tersebut.

Pembunuhan ini didasari rasa dendam Zul dan ST yang tidak mendapat pesangon setelah pabrik garmen Alton Kids ditutup oleh Husni Zarkasih sekitar dua bulan yang lalu.

Di rumah kontrakan Zul yang ada di daerah Petukangan Selatan, Jakarta Selatan, ketiga tersangka merencanakan aksinya. Dari keterangan tersangka ST, Zul mengajak dirinya dan EK datang ke rumahnya untuk berbincang-bincang. Kemudian, Zul mengajak keduanya untuk pergi ke rumah korban dengan tujuan meminta pesangon.

Diungkapkan oleh ST, ia dan tersangka lain hanya berencana untuk melakukan tindak perampokan jika korban tidak mau memberikan pesangon. “Jadi, si Zul itu awalnya ngajak untuk minta pesangon, dalam artian hanya ke rumah untuk bertamu. Kalau korban tidak mau (memberi pesangon) barulah mereka melakukan aksi perampokan, tapi kejadian dilapangan tidak demikian,” jelas Agus.

Dalam perencanaannya, ketiga tersangka telah menyiapkan sejumlah alat seperti 2 potong besi, sarung tangan, penutup muka, lakban dan kabel tis. Ketiganya datang ke rumah korban di Jalan Pengairan Nomor 21 RT 11 RW 06, Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat dengan menggunakan dua sepeda motor.

Sesampainya di rumah korban, yakni Minggu (10/9) sekitar pukul 18.00, Zul, EK dan ST datang dengan modus awal bertamu. Zul yang pertama mengetuk pintu dan dibukakan oleh istri korban, Zakiya Husni Masrur, justru langsung menyerang korban hingga jatuh. Saat eksekusi itu, Zakiya masih mengenakan mukena selesai salat maghrib. Sedangkan suaminya, Husni, sedang di masjid menjadi imam di sana.

Kemudian ST dan EK membantu Zul dengan mengikat korban, serta membenturkan kepala korban ke lantai, lalu korban diseret ke kamar pembantu dan dihabisi menggunakan besi yang telah dibawa sebelumnya di bagian kepala. Korban yang tewas mengalami retak di bagian kepala itu, kemudian dibungkus oleh pelaku menggunakan bed cover.

Mengetahui suami korban Husni Zarkasih belum pulang dari masjid, Zul bergegas menunggunya di balik pintu garasi rumah tersebut. Saat Husni pulang melewati pintu garasi, seketika itu Zul menghantamkan besi ke bagian belakang kepala korban hingga jatuh tersungkur.

Tak lama, EK dan ST menyusul untuk membantu Zul membawa korban yang pada saat itu belum tewas dan melakukan perlawanan, kemudian dihabisi di dalam rumah oleh ketiganya. Setelah mengikat dan membungkus kedua korban menggunakan bed cover, tersangka memasukkan mayatnya ke bagasi mobil Altis milik korban. Sebelum mengakhiri aksinya, para tersangka menjarah barang berharga korban.

“Setelah memasukkan mayat, barulah kami menguras harta korban mulai dari sertifikat-sertifikat, uang tunai, perhiasan hingga handphone dan lainnya,” imbuhnya.

Para tersangka yang sebelumnya datang menggunakan sepeda motor, kemudian membawa dua sepeda motornya untuk dititipkan. Setelah itu, sedianya mayat korban beserta barang bukti mobil Altis akan ditinggal di rumah korban yang ada di Pekalongan. Namun mereka berubah pikiran dan mengarah ke Purbalingga untuk membuang mayatnya di Sungai Klawing, Purbalingga.

Usai membuang mayat, ketiga tersangka sempat kebingungan akan pergi kemana, dan memutuskan untuk menjual barang bukti emas di daerah Kudus. Setelah itu, usai dilakukan penyisiran dan koordinasi bersama dengan tim Jatanras Polda Jateng dan Unit Resmob Polres Grobogan, ketiga tersangka berhasil diamankan saat sedang foya-foya di karaoke yang ada di Hotel Harmoni Indah.

Namun pada saat pengembangan untuk pencarian barang bukti, salah satu di antara tersangka, yakni Zul melakukan perlawanan dan berusaha melarikan diri. Bahkan tembakan peringatan polisi, tak dihiraukan Zul, hingga petugas melakukan penembakan terarah, terukur dan prosedur. Zul pun tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit karena kehabisan darah.

“Mereka kan ditangkap dalam kondisi mabuk, jadi reaksinya tidak banyak, tapi saat pengembangan untuk mencari di mana penadah barang bukti emas yang dijual, Zul berusaha melarikan diri. Akhirnya, kami berikan tembakan secara terarah dan terukur, namun nyawanya tidak selamat,” bebernya didampingi Kasubdit III Resmob Polda Metro Jaya, AKBP Aris Supriyono.

Dari penangkapan tersangka pembunuhan itu, barang bukti yang diamankan, di antaranya 1 unit mobil Altis warna silver bernopol B 2161 SBE, uang tunai Rp 100 juta, 15 jam tangan berbagai merek, tiga unit kamera, beberapa sertifikat tanah, 6 buku tabungan, beberapa lembar cek, 7 unit HP, 4 buah BPKB dan dua buah cincin besar. Kedua tersangka akan dijerat pasal 365 jo 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati.

Tersangka ST mengaku ikut dalam aksi tersebut karena sakit hati dengan korban yang membuatnya kehilangan pekerjaan dan tidak memberikan pesangon. ST yang telah bekerja di pabrik garmen milik korban selama 30 tahun itu, mengaku menyesali perbuatannya dan meminta maaf kepada keluarga dan anak-anak korban yang usianya sama dengan lama dia bekerja.

“Sakit hati, karena nggak diberikan pesangon waktu pabrik tutup dua bulan lalu. Tapi saya menyesal dan meminta maaf kepada keluarga dan anak-anak korban,” ujarnya sambil tertunduk.

Diketahui, kedua korban memang tinggal berdua di rumahnya. Sebab, anak-anaknya telah berkeluarga. Namun menurut keterangan saksi penghuni kos yang berada di lantai 2 memang sempat mendengar ada kegaduhan sekitar pukul 19.00 di rumah itu, tetapi tidak mengira bahwa terjadi pembunuhan dan perampokan. (tsa/mg45/aro)