PENYULUHAN : Anggota DPR RI dari Fraksi PKB, H Fathan Subchi di sela mengisi acara penyuluhan penempatan tenaga kerja bagi pelajar di MAN Demak, kemarin (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
PENYULUHAN : Anggota DPR RI dari Fraksi PKB, H Fathan Subchi di sela mengisi acara penyuluhan penempatan tenaga kerja bagi pelajar di MAN Demak, kemarin (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

DEMAK-Dunia kerja sekarang dinilai masih diwarnai ketidakterampilan para pekerja, baik di sektor formal maupun informal. Bahkan, ada kecenderungan para pencari kerja masih banyak yang memburu bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Padahal, masih banyak profesi lainnya yang dapat menjamin kesejahteraan.

Demikian mengemuka dalam kegiatan penyuluhan penempatan tenaga kerja dalam negeri yang digelar Direktorat Ketenagakerjaan Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) RI di Aula MAN Demak, Jalan Jogoloyo, Kota Demak, kemarin.

Anggota DPR RI dari Fraksi PKB, H Fathan Subchi mengatakan, banyaknya para pemuda yang ingin menjadi PNS menjadi fenomena yang perlu perhatian khusus. Mereka menganggap menjadi PNS dapat lebih sejahtera dibandingkan pekerjaan lainnya. “Kami lihat, masih banyak yang bermimpi bisa menjadi PNS. Padahal, masih banyak profesi lainnya yang dapat membuat sukses,” kata wakil rakyat dari dapil Demak, Kudus dan Jepara ini.

Lowongan pekerjaan yang tidak seimbang dengan jumlah pencari kerja memang menjadi persoalan. Bahkan, dapat diilustrasikan, dari 100 ribu lowongan kerja misalnya, yang daftar bisa mencapai 1 juta orang.

“Karena itu, perlu solusi bagaimana kesiapan kaum muda dalam memasuki dunia kerja. Yang dibutuhkan adalah keterampilan (skill). Dan, kita lihat kelemahan kita di dunia kerja adalah diisi oleh tenaga yang tidak terampil,” katanya.

Di perguruan tinggi juga masih ada ketimpangan lulusan yang terampil dan tidak terampil. “Karena itu, semangat menjadi modal untuk berkompetisi,” ujar Fathan.

Sekretaris DPC PKB Demak, Zayinul Fata mengatakan, merujuk indeks nasional terkait angka pertumbuhan ekonomi berkisar antara 5 sampai 6 persen. Meski demikian, tingkat kemiskinan masih bertengger di angka 10 persen dengan jumlah pengangguran sekitar 4 persen. “Melihat kondisi ini, tentu harus ada upaya bagaimana penempatan tenaga kerja produktif bisa tepat sesuai keahliannya. Jangan sampai ada yang menganggur,” kata Zayin, ketua panitia.

Kasubdit Penempatan Tenaga Kerja Kemenaker RI, Timbul Panggabean menambahkan, masih tingginya pengangguran menjadi perhatian khusus pemerintah, utamanya Kemenaker. Sebab, 60 persen yang menganggur masih usia muda dengan pendidikan menengah ke bawah. “Persoalan lain adalah lowongan kerja yang terbatas. Disinilah perlu dibangun karakter atau sikap yang positif, inovatif dan produktif,” kata dia.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Demak, Eko Pringgolaksito mengungkapkan, ada kecenderungan tenaga kerja di Demak didominasi pekerja perempuan. Sedangkan, yang laki laki justru mengurusi rumah tangga. “Yang laki laki (suami) bertugas antar jemput istri yang bekerja sambil momong anak. Kita belum tahu penyebab fenomena ini,” katanya. (hib/ida)