Kekeringan, Warga Pringapus dan Pegandon Krisis Air Bersih

397
ANTRE : Warga Dusun Lagerang tengah mengantre pembagian air bersih dari BPBD Kabupaten Semarang, kemarin (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
ANTRE : Warga Dusun Lagerang tengah mengantre pembagian air bersih dari BPBD Kabupaten Semarang, kemarin (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

UNGARAN–Dampak musim kemarau di Kabupaten Semarang semakin meluas. Beberapa wilayah mulai terjadi krisis air bersih. Bahkan di Kecamatan Pringapus, warga mengantre dropping air bersih hingga semalam.

“Sejak malam hingga pagi ini, masih antre pembagian air bersih,” ujar Sohibul, 57, warga Dusun Legarang Desa Jatirunggo, Kecamatan Pringapus, Rabu (13/9) kemarin.

Dusun Legarang merupakan wilayah yang paling parah terkena dampak musim kemarau tahun ini. Warga di wilayah tersebut hanya mengandalkan dropping air bersih dari Pemkab Semarang untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Dikatakan Sohibul, kelangkaan air bersih sudah terjadi sejak 1 bulan terakhir.

Ratusan jerigen, sejak Selasa malam (12/9) kemarin, sudah berbaris rapi di depan rumah seorang warga di Dusun Legarang. Hal senada diungkapkan oleh Partini, 49, warga Desa Jatirunggo. Senasib dengan Sohibul, Supartini juga sudah mengantrekan jerigennya sejak Selasa tengah malam. “Untuk masak dan kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Dikatakan Supartini, setiap warga dijatah dua jirigen berukuran 50 liter. Air bersih tersebut khusus digunakan untuk keperluan masak. “Untuk mandi masih ada dari sungai meski airnya juga sangat sedikit, namun cukup kalau untuk mandi,” ujarnya.

Hal serupa juga terjadi di Desa pekuncen Kecamatan Pegandon Kabupaten Kendal. Mereka merasa sedikit lega lantaran mendapat dropping air bersih dari BPBD Kendal. Maklum saja, air bersih di desa ini sudah mulai sulit didapatkan dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari terpaksa membeli Rp 5 ribu per galon.

Droping air bersih bantuan Pemkab Kendal ke Desa Pekuncen Kendal dilakukan pada Rabu (13/09) kemarin. Terlihat, sejumlah warga Desa pekuncen Kecamatan Pegandon Kendal ini berlarian saat mengetahui truk tangki air bersih dari BPBD Kendal datang ke desanya.

Meski tertatih-tatih, warga yang sebagian kakek dan nenek ini membawa ember untuk mendapatkan air bersih dari bantuan pemerintah. Bantuan air sebanyak 2 truk tangki inipun langsung habis dalam sekejap.

Suwanto mengakui lega dengan adanya bantuan tersebut. Menurutnya, sekarang warga Pekuncen mulai resah lantaran kesulitan mendapat air bersih. Untuk mendapatkan air bersih, warga setempat harus dengan cara membeli. “Ya beli, Rp 5 ribu satu galon, itu hanya untuk memasak dan mencuci berkakas piring gelas. Kalau untuk mandi cuci pakaian ya paling tidak butuhnya lebih dari satu galon,” ungkapnya.

Diakuinya, sumber mata air diwilayah Pekuncen sekarang ini semakin berkurang karena mengalami kekeringan akibat musim kemarau. Sehingga, bisa dipastikan ketika musim kemarau, wilayah tersebut selalu mengalami krisis air bersih. “Setiap musim kemarau Desa Pekuncen selalu kekurangan air bersih. Sumur mulai mengering dan hanya bisa diambil airnya tiga ember saja,” keluhnya.

Sehingga dengan adanya bantuan ini bisa mengurangi beban warga Desa Pekuncen. Masyarakat berharap, adanya donatur atau bantuan lain yang bisa melakukan hal sama baik di Desa Pekuncen maupun wilayah lain yang mengalami krisis air bersih.

Sementara, Kepala BPBD Kendal Sulistyo menjelaskan setidaknya ada tujuh kecamatan dan 17 desa di Kabupaten Kendal yang mulai kekurangan air bersih. Sedangkan penyaluran air bersih telah dilakukan di dua desa di Kabupaten Kendal. “Kami baru melakukan dropping air bersih di dua desa, di Ngampel dan Pekuncen Pegandon. Dropping air bersih ini dilakukan jika ada permintaan dari desa untuk mengirimkan bantuan,” ungkapnya.

Lanjut Sulistyo menjelaskan, BPBD selalu menyiapkan dua truk tangki untuk setiap pengiriman bantuan air bersih yang dibagikan merata ke seluruh warga yang terdampak kekeringan. Sebagai antisipasi, pihaknya mendorong terhadap desa yang rawan kekeringan supaya bisa menganggarkan tandon air dari dana desa. “Harapan kami, desa-desa yang rawan kekeringan bisa membangun tandon air. Supaya pada saat dilakukan dropping air bersih bisa cepat dilakukan dan bisa menampung lebih banyak pasokan air bersih,” harapnya. (ewb/mha/ida)