2.251 Mahasiswa UPGRIS Membatik Celup

326
PECAHKAN MURI: Sebanyak 2.251 mahasiswa baru UPGRIS membatik dengan teknik ikat celup di halaman kampus IV, Rabu (13/9) (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG).
PECAHKAN MURI: Sebanyak 2.251 mahasiswa baru UPGRIS membatik dengan teknik ikat celup di halaman kampus IV, Rabu (13/9) (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG – Sebanyak 2.251 mahasiswa baru Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) berhasil memecahkan rekor MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) membatik dengan teknik ikat celup dengan peserta terbanyak di Lapangan Kampus IV UPGRIS, Rabu (13/9) kemarin.

Rektor UPGRIS, Dr Muhdi, mengatakan, jika pemecahan rekor MURI yang diciptakan mahasiswanya tersebut bukanlah sekadar rekor. Namun bisa menjadi saran edukasi dan sosialiasi kepada masyarakat luas mengenai keragaman batik agar lebih dicintai.

“Saya harap bukan hanya memecahkan rekor saja, namun bisa menjadi edukasi kepada masyarakat luas jika batik itu tetap keren. Bahkan generasi muda yang memakai pun tidak akan kehilangan gaya mudanya, karena batik cocok digunakan siapa saja,” tegasnya.

Disinggung banyaknya rekor MURI yang diciptakan oleh UPGRIS, pihaknya mengaku sama sekali tak pernah menargetkan. Karena setiap ada pemecaham rekor baru, adalah insiasi atau ide dari mahasiswanya.”Kalau target tidak ada, kadang pernah kosong dalam setahun, namun kadang ada aja ide-ide yang muncul sehingga rekor bisa tercipta,” ucapnya.

Ia sangat mengapresiasi dan siap menjembatani ide kreatif dan positif dari mahasiwa UPGRIS. Bahkan Muhdi juga mendukung aspirasi para mahasiswa yang dimotori badan eksekutif mahasiswa (BEM) untuk membuat aturan UPGRIS berbatik. “Nantinya pada setiap Kamis, mahasiswa akan memakai batik,” ujarnya.

Senior Manager MURI, Widayati, mengatakan, para mahasiswa UPGRIS berhasil memecahkan catatan rekor sebelumnya yang dilakukan 1.532 peserta Jawajawijava di Jakarta pada 19 Februari 2011 lalu. “Rekor baru ini tercipta setelah dilakukan verifikasi dan penghitungan, hasilnya bisa memecahkan rektor serupa pada tahun 2011 lalu,” katanya. (den/aro)