KENDAL – Sekolah Dasar (SD) Universal Ananda, yang berlokasi di Jalan Saribaru 37 Desa Purwokerto, Kecamatan Patebon, Kendal tergolong sekolah yang memiliki segudang prestasi. Sekolah swasta yang baru membuka penerimaan murid pada tahun 2008 silam ini tak pernah ketinggalan dalam mengikuti ajang perlombaan baik tingkat lokal Kendal hingga Nasional.

Prestasi yang ditorehkan para siswa-siswi di sekolah ini juga sangat membanggakan. Sebut saja Muhammad Ilham Santoso, siswa kelas 5 SD Universal itu menyabet peringkat kedua even olahraga taekwondo Provinsi Jawa Tengah. Kemudian ajang Kejuaraan Kemenham CUP 2017 juga sukses menyabet medali emas.

Tak hanya itu, murid lain, Jevri Setiawan, siswa yang sekarang duduk dibangku kelas 6 ini juga sukses meraih berbagai prestasi dalam ajang kejuaraan kesenian bermain keyboard dengan cara ditutupi matanya.

Sederet prestasi akademik lainya, murid sekolah ini menyabet juara lomba O2SN mata pelajaran matematika tingkat Kabupetan tahun 2016. Sebelumnya, siswanya juga melaju sampai tingkat propinsi Jawa Tengah mata pelajaran IPA ditahun 2015.

Dengan segudang prestasi ini, Kepala Sekolah SD Universal Ananda, Budi Wahyono mengakui akan tampil dalam perlombaan Sekolah Berprestasi Menuju Kendal Permata Pantura. Bahkan, pada kejuaraan yang diselenggarakan Jawa Pos Radar Semarang dan Pemkab Kendal ini, Budi tampil menjadi peserta lomba tiga kategori.

“Kami akan ikut di tiga kategori yaitu Sekolah Berprestasi Akademik, Kategori Berprestasi, Sekolah Berprestasi Seni dan Budaya. Jadi setiap ada perlombaan pasti kita ikut baik yang diselenggarakan kedinasan maupun swasta,” tegas Budi kepada Jawa Pos Radar Semarang Selasa (12/9) kemarin.

Menurutnya, untuk mencetak siswa-siswi yang berprestasi, pihaknya selalu memberikan dukungan dan motivasi kepada guru maupun muridnya. Selain itu, pihaknya juga menambah kegiatan ekstrakurikuler baik olahraga maupun akademik. Termasuk kegiatan pengamatan langsung dilapangan terkait ilmu pendidikan IPA.

“Jadi disini kita ada cocok tanam, seperti bayam, kangkung, kacang hijau, empon-empon, kecambah. Ini untuk penelitian, mengamati pertumbuhanya. Jadi kita lakukan semacam eksperimen sederhana. Pembelajaran ini dilakukan sejak dini,” jelasnya. (mha/bas)