Ratusan Pedagang Pasar Suruh Protes Relokasi

313
AUDIENSI : Ratusan pedagang Pasar Suruh mendatangi DPRD Kabupaten Semarang untuk mengadukan perihal rencana Pemkab Semarang hendak memindah lokasi pasar, kemarin (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
AUDIENSI : Ratusan pedagang Pasar Suruh mendatangi DPRD Kabupaten Semarang untuk mengadukan perihal rencana Pemkab Semarang hendak memindah lokasi pasar, kemarin (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

UNGARAN–Ratusan pedagang Pasar Suruh menggerudug DPRD Kabupaten Semarang, Selasa (12/9) kemarin. Mereka memprotes rencana Pemkab Semarang yang akan merelokasi Pasar Suruh.

Salah satu pedagang Pasar Suruh yang ikut dalam aksi tersebut, Amin Kholifah, 55, mengatakan bahwa semua pedagang pasar enggan direlokasi. “Tuntutan pedagang, semua pasar dibangun boleh tetapi tidak dipindah,” ujar Amin.

Saat ini ada 400 lebih pedagang di Pasar Suruh. Dikatakan Amin, kesemuanya menolak apabila direlokasi dari pasar yang strategis tersebut. “Alasan tidak mau pindah karena tempatnya strategis. Tempat yang baru jauh, tidak ada infrastruktur, dekat dengan sungai serta tidak ada kendaraan lewat,” katanya.

Amin yang merupakan warga Desa Suruh Kecamatan Suruh tersebut setiap hari berjualan perhiasan di pasar tersebut. Ia yakin, apabila dilakukan relokasi, hal itu akan mempengaruhi usahanya. “Kalau dipindah bagaimana dengan pelanggan kami? Mencari pelanggan itu sangat susah,” katanya.

Seperti direncanakan sebelumnya, Pasar Suruh akan direlokasi oleh Pemkab Semarang ke tempat yang lebih luas. Saat ini luas Pasar Suruh hanya 4000 meter persegi, hendak direlokasi di lahan seluas 15 ribu meter persegi. Para pedagang lebih setuju jika Pasar Suruh yang ada saat ini, dilakukan revitalisasi.

Menurut para pedagang, beberapa bagian bangunan di pasar tersebut memang perlu dilakukan rehab. Seperti bagian wajah pasar yang perlu diperbaiki, bagian belakang pasar yang perlu direvitalisasi.

Selain itu, menghilangkan kesan kumuh di pasar tersebut. “Relokasi sementara, kita mintanya tidak dipindah jauh dari lokasi pasar yang direhap. Harapan kami hanya di geser,” katanya. Kedatangan ratusan pedagang tersebut ditemui langsung oleh semua pimpinan DPRD Kabupaten Semarang.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Semarang, Said Riswanto mengatakan alasan Pemkab Semarang merelokasi pasar disebabkan lokasi yang sudah tidak representatif. “Respon pemerintah sebenarnya sudah benar, karena melihat kondisi pasar yang kecil dan pedagang yang banyak serta parkiran yang sempit,” kata Said.

Persoalan lain yaitu berdekatan dengan exit tol Salatiga. Sebagaimana dikhawatirkan, dengan kondisi ramainya pasar akan menjadi titik kemacetan. “Kalaupun tidak setuju dipindah ya nanti akan direvitalisasi,” kata Said.

Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu berharap, melalui revitalisasi Pasar Suruh dapat mengubah wajah Kecamatan Suruh menjadi lebih baik. “Cuma karena Pemkab Semarang sosialisasinya belum matang dan masyarakat dihadapkan pada persoalan jangka pendek, mereka memilih untuk tidak pindah,” katanya.

Menurut Said, penolakan pindah dari pedagang tersebut sangat beralasan. Para pedagang harus memulai lagi dari awal bagaimana mencari pelanggan. “Ini merupakan keputusan yang sama dari masyarakat Suruh khususnya masyarakat yang langsung menerima efek dari relokasi. Keputusannya pasar suruh tidak dipindah,” katanya.

Meski tidak dipindah, lanjutnya, wajah Pasar Suruh harus dibenahi. Seperti perluasan lahan parkir, pembenahan akses masuk ke pasar supaya lebih sejajar dengan jalan. “Pasar harus dibuat lebih bersih lagi,” ujarnya.

Selain itu, Said juga berharap revitalisasi pasar harus memperhatikan akses pengunjung. “Pintu masuk pasar tidak hanya empat, kalau bisa lebih dari itu supaya masyarakat bisa masuk dari segala arah, juga penerangan serta tidak bocor,” kata Said.

Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Semarang Bambang Kusriyanto mengatakan Pemkab Semarang terlalu terburu-buru memindahkan para pedagang Pasar Suruh ke pasar yang baru. “Butuh waktu tidak hanya dalam hitungan bulan atau ketemu dua kali langsung relokasi,” ujarnya.

Bambang yang akrab disapa Krebo tersebut mengatakan luasan lahan pasar yang baru yaitu 15.000 meter persegi, sedangkan pasar yang lama hanya memiliki luas 4.000 meter persegi. Letak pasar yang baru, menurutnya tidak terlalu jauh dari yang lama hanya sedikit masuk ke dalam. “Pemkab sebenarnya ingin melakukan penataan Pasar Suruh, tetapi kesannya mendadak tanpa sosialisasi yang berlanjut dengan para pedagang,” katanya.

Dijelaskan Krebo, sejak awal DPRD Kabupaten Semarang tidak memiliki rencana untuk menyetujui pemindahan Pasar Suruh. “Tahun ini (2017), kami sudah menganggarkan DED (Detail Engineering Design), Rp 200 juta dan pada APBD tahun 2018 baru kami anggarkan pembangunannya sebesar Rp 8 miliar ditambah dana dari pusat,” ujarnya. (ewb/ida)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here