BATIK KHAS KOTA DINGIN: Batik khas Wonosobo dijual di House of Batik. Gerai ini diperuntukkan bagi pembatik batik Wonosobo yang ingin memasarkan produknya (ZAIN ZAINUDIN/JAWA POS RADAR KEDU).
BATIK KHAS KOTA DINGIN: Batik khas Wonosobo dijual di House of Batik. Gerai ini diperuntukkan bagi pembatik batik Wonosobo yang ingin memasarkan produknya (ZAIN ZAINUDIN/JAWA POS RADAR KEDU).

WONOSOBO–Gelisah melihat pembatik kesulitan memasarkan produknya, pelaku batik Wonosobo, Lilis Handayani, berinisiatif membuka House of Batik I&I. Perempuan yang juga menjabat sebagai Kepala Puskesmas I Wonosobo itu optimistis, House of Batik mampu menjawab kegelisahan para pembatik. Utamanya, soal pemasaran.

House of Batik difungsikan untuk menampung produksi batik Wonosobo. “Ide dasar kami, ingin ada wadah yang menaungi pembatik, sekaligus yang menjualkan batik hasil produksinya, maka didirikanlah House of Batik I&I ini.”

Sebelumnya, kata Lilis, Pemkab sudah memiliki wadah semacam itu. Hanya saja belum maksimal. Dengan House of Batik, diharapkan mampu menjawab problem pemasaran yang selama ini masih menjadi kendala utama para pembatik.

Lilis mengatakan, batik Wonosobo layak go internasional. Sebut saja batik bertemakan keindahan alam dan hasil bumi Wonosobo. Seperti gambar perempuan yang sedang memetik buah carica, kreasi tanaman purwaceng, sunrise Sikunir, dan Dieng. “Sedikitnya ada 15 klaster batik Wonosobo yang sudah tergabung. Semoga perjuangan kami melestarikan batik bisa mendatangkan berkah untuk kami semua.”

Langkah Lilis mendirikan House of Batik mendapat sambutan positif. Ketua Dewan Kesenian Daerah (DKD) Wonosobo, Heri Purwanto, menilai bahwa potensi pasar batik masih sangat terbuka. “Prospek ke depannya juga bagus. Apalagi adanya House of Batik ini. Semoga bisa memudahkan para pembatik memasarkan produknya.” (cr2/isk)