Siswa Belajar Di Tengah Kebisingan dan Polusi

549
MEMPRIHATINKAN: Para siswa SD N 2 Protomulyo, Kecamatan Kaliwungu Selatan belajar di tengah proyek tol Semarang-Batang (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG).
MEMPRIHATINKAN: Para siswa SD N 2 Protomulyo, Kecamatan Kaliwungu Selatan belajar di tengah proyek tol Semarang-Batang (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG).

KENDAL—Para siswa di SD Negeri 2 Protomulyo, Kecamatan Kaliwungu Selatan, meminta agar segera direlokasi. Pasalnya para siswa sudah sangat terganggu dengan proyek pembangunan Tol Semarang-Batang.

Siswa mengeluhkan selain bising akibat suara alat berat proyek. Selain itu para siswa setiap hari juga mengeluhkan debu  dari proses pengurukan lahan tol.  Hal tersebut jelas menganggu konsentrasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar di ruang kelas. Tidak hanya siswa guru juga mengeluhkan debu yang masuk ke ruangan.

Aisyah, salah satu siswa SD 2 Protmulyo, Kelas VI mengaku tidak bisa fokus pelajaran karena suara truk dan alat berat dari pembangunan tol. Debu yang berhamburan mengakibatkan ia dan teman-temannya mengalami gangguan pernafasan.

“Kami berharap, segera pindah ke tempat baru yang bebas debu dan suara bising. Sebab, banyak debu yang masuk dan suara bising kendaraan proyek jadi tidak bisa konsentrasi belajar. Padahal kami kelas VI harus mempersiapkan materi pelajaran untuk persiapan Ujian Nasioanal,” kata Aisyah, kemarin (11/9).

Menanggapi hal tersebut, Kabid Pendidikan SD dan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kendal, Sri Bagus Darmoyo jika pihak pelaksana proyek Tol Semarang-Batang yakni PT Waskita sudah mencarikan tempat relokasi sementara agar kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak terganggu.

“Tempat relokasi dijanjikan akan dicarikan oleh PT Waskita. Kami sudah mengajukan Rencana Anggaran Belanja (RAB) untuk biaya pemindahan ke lokasi sementara. Sudah kami ajukan, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” tandasnya.

Dikatakannya, di Kendal ada empat SD dan satu SMP di yang terdampak proyek jalan tol Batang Semarang. Yakni SD 2 Protomuly (Kaliwungu Selaran), SD Sumbersari (Kecamatan Ngampel) dan dua sekolah di Sumberagung (Weleri). Satu SMP adalah SMP 2 Pegandon.

“Untuk lokasi pengganti sudah sekolah disiapkan pemerintah daerah. Dari Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) katanya akan segera membangun, setelah lokasi mendapatkan persetujuan dari bagian aset. Namun pihaknya sudah meminta kepada pelaksana proyek, agar sekolah jangan dibongkar sebelum sekolah pengganti selesai dibangun,” tandasnya.

Sementara itu Humas PT Waskita seksi empat, Totok Suharto menjelaskan pihaknya sampai saat ini belum menerima pengajuan relokasi sekolah ke tempat sementara. Sehingga PT Waskita tidak bisa merelokasi siswa.

“Prosedurnya, sekolah mengajukan relokasi dulu yakni selain RAB juga tempatnya. Diajukan ke Dinas, baru dari dinas nanti diajukan kepada kami PT Waskita. Baru PT Waskita bisa merealisasi. Sebab tidak mungkin kami mencarikan tempat relokasi sewa sementara,” tandasnya.

Perihal pengamanan proyek tol, pihaknya sudah menerapkan keselamatan 3K (Keamanan, Kenyamanan, Kesehatan). Jika ada anak-anak sekolah yang bermain dilokasi proyek, ia mengaku ada petugas yang selalu berjaga dan melarang siswa agar pergi.

Tapi panatauan di lapangan, 3K tersebut tidak diterapkan. Bahkan banyak para siswa yang saat istirahat bermain-main di lokasi proyek. Namun tidak ada satupun pekerja PT Waskita yang mengingatkan siswa.

Kasminah,65, wali siswa mengaku selain mengganggu KBM, kesehatan siswa juga terganggu. Banyak siswa, termasuk cucunya sekolah yang menderita sakit batuk, diare, dan Infeski Saluran Pernafasan Akut (Ispa) lantaran debu yang dihasilkan proyek.

“Hampir setiap bulan, saya harus memeriksakan cucu saya ke dokter karena batuk dan radang tenggorokan lantaran debu proyek tol. Tidak hanya anak-anak, saya sendiri juga sering batuk, jadi sama-sama priksa. Kata dokter, batuk akibat alergi debu,”   keluh Kasminah, 65, kemarin. (bud/zal)