BIKIN KUMUH: Petugas Satpol PP Kota Semarang saat membongkar bangunan semi permanen yang berdiri di bantaran sungai sepanjang Jalan Petudungan (Abdul Mughis/Jawa Pos Radar Semarang).
BIKIN KUMUH: Petugas Satpol PP Kota Semarang saat membongkar bangunan semi permanen yang berdiri di bantaran sungai sepanjang Jalan Petudungan (Abdul Mughis/Jawa Pos Radar Semarang).

SEMARANG – Sejumlah bangunan semi permanen, maupun rumah bedeng terbuat dari kayu papan di sepanjang Jalan Petudungan RT 2 RW 8  Kelurahan Jagalan, Kecamatan Semarang Tengah, dibongkar tim Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang, Senin (11/9).

Dengan mengerahkan puluhan aparat, hunian liar yang berdiri di tepi bantaran sungai tersebut langsung dirobohkan. Para penghuni bangunan liar tersebut sempat melakukan penolakan, tapi akhirnya mereka tidak bisa berbuat banyak.

“Hari ini, kami menertibkan sebanyak sembilan orang yang menghuni rumah liar di sepanjang bantaran sungai Jalan Petundungan,” kata Kepala Satpol PP Kota Semarang, Endro Pudyo Martantono, kemarin.

Dikatakannya, rumah liar tersebut dihuni oleh sejumlah gelandangan dan pemulung yang merupakan warga pendatang di Kota Semarang. “Mereka bukan warga Semarang, melainkan mereka datang dari berbagai daerah, seperti Demak dan Purwodadi,” kata Endro.

Keberadaan para gelandangan dan pemulung tersebut dinilai melanggar Peraturan Daerah (Perda) Kota Semarang, karena mereka mendirikan bangunan di wilayah terlarang yakni bantaran sungai. Selain itu, mereka juga dinilai membuat ‘sampah kota’ karena kawasan tersebut menjadi kumuh dan semrawut. “Kami lakukan pendataan, selanjutnya mereka kami kirim ke Resos Among Jiwo Ngaliyan. Tetapi bila mereka memilih pulang ke kampung halaman dipersilakan,” tambah Endro.

Lebih lanjut dijelaskan, keberadaan para gelandangan dan pemulung di kawasan Jalan Petudungan sudah beberapa kali ditertibkan sejak tiga tahun terakhir. Namun mereka kembali lagi mendirikan rumah-rumah liar. “Kami juga minta peran serta masyarakat dan perangkat wilayah setempat untuk bisa aktif bersama-sama mencegah adanya hunian maupun PKL liar,” katanya.

Sementara itu, pemulung HR, 45, mengaku datang di Kota Semarang bermaksud mengadu nasib untuk sekadar bertahan hidup demi keluarga. Awalnya, ia diajak teman sekampung untuk bekerja mencari nafkah dengan cara memunguti sampah. “Saya hidup dari memunguti sampah, menjual bekas sampah. Yang penting tidak mencuri,” kata pria asal Purwodadi itu.

Terpisah, di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, atau kurang lebih 13 km dari pusat Kota Semarang, terdapat permukiman liar yang dihuni ratusan pemulung yang datang dari berbagai daerah. Diperkirakan ada kurang lebih 150 kepala keluarga menetap di rumah-rumah bedeng kawasan TPA Jatibarang Semarang tersebut.

Terdapat papan bertulis “permukiman pemulung”, dilengkapi musala kecil, dan MCK. Di kala siang, rumah-rumah itu terlihat sepi, karena para penghuninya bekerja memungut sampah di areal TPA Jatibarang. Tetapi di kala malam, suasana permukiman tersebut ramai layaknya permukiman padat penduduk. “Ada kurang lebih 150 KK. Paling banyak berasal dari Purwodadi dan Boyolali,” kata salah satu pemulung di lokasi tersebut. (amu/zal)