Dari Jualan di Pinggir Jalan, Kini Punya Dua Store

Yoga Muda Aditya, Mantan Karyawan Bank yang Pilih Bisnis Dessert

2502
BIDIK ANAK MUDA: Yoga Muda Aditya dan store Loffle Pop Up Dessert di bilangan Pleburan Barat, Semarang Selatan (REYNI ADELINA BARUS/JAWA POS RADAR SEMARANG).
BIDIK ANAK MUDA: Yoga Muda Aditya dan store Loffle Pop Up Dessert di bilangan Pleburan Barat, Semarang Selatan (REYNI ADELINA BARUS/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Yoga Muda Aditya awalnya hanya berjualan dessert di atas meja lipat selama bulan puasa bersama temannya. Namun kini dia sudah memiliki dua store kuliner pencuci mulut yang diberi nama Loffle Pop Up Dessert ini. Seperti apa?

REYUNI ADELINA BARUS

BIASANYA menu pencuci mulut atau yang sering disebut dessert bisa kita temui di restoran-restoran mewah yang menyajikan menu utamanya lengkap dengan appetizer. Tetapi, tidak hanya di restoran mewah, di Semarang juga ada kafe yang khusus menyediakan dessert pada menu hidangannya, Loffle Pop Up Dessert.

Kafe yang kali pertama dibuka pada 30 Agustus 2015 ini berhasil menarik perhatian masyarakat Semarang, khususnya kawula muda pecinta dessert. Dengan mengusung konsep yang cheerfull dan dynamic, membuat tempat ini menjadi salah satu house of dessert favorit di Kota Semarang. Bahkan tahun ini, Loffle yang tadinya hanya dibuka di bilangan Jalan Tirto Agung, Pedalangan, sudah memiliki store kedua, di bilangan Jalan Pleburan Barat, Semarang yang baru dibuka pada akhir Agustus lalu.

Tapi di balik kepopuleran yang dicapai Loffle saat ini, sebelum berbentuk kafe yang nyaman, Yoga Muda Aditya selaku pemilik hanya berjualan dessert di pinggir jalan.

“Awalnya aku cuma jualan di pinggir jalan, di meja lipat gitu waktu bulan puasa di Taman Tirto Agung,” kenang pria yang akrab disapa Yoga ini.

“Jadi, niat awal emang cuma mau jualan buat menu buka puasa gitu, makanya kita pilih dessert. Dan ternyata dapat respons yang positif, akhirnya memutuskan untuk buka store,” tambahnya.

Bersama Adila, temannya, Yoga mulai merintis bisnis ini dari nol dengan modal hasil berjualan selama bulan puasa, dan tabungan selama masih bekerja sebagai Relationship Officer di BII Maybank sejak 2012-2014.

Untuk pemilihan nama brand, Yoga mengaku Loffle tidak memiliki arti yang khusus. Ia merasa nama Loffle adalah nama yang pas untuk bisnis mereka karena terdengar trendy dan anak muda banget.

 “Nggak ada arti khusus sih, bukan dari bahasa luar juga. Cuma Loffle tuh kayak mudah diucapkan, enak didengar juga. Semangatnya sih, semoga dari nama itu kafe ini jadi mudah diingat masyarakat,” papar alumnus Universitas Telkom ini.

Selain nama, konsep juga merupakan aspek yang cukup penting dalam usaha seperti ini. Karena merasa dekat dengan kehidupan anak muda, Yoga memilih konsep yang bisa menarik perhatian anak-anak muda, khususnya Kota Semarang.

“Untuk konsepnya sebenarnya yang di-downtown (Pleburan, Semarang bawah) sama yang di-uptown (Tirto Agung, Semarang atas) punya konsep yang berbeda, tapi masih berada pada garis yang sama, bahwa Loffle itu taste-nya lebih ke kesederhanaan. Simpel dan dynamic, jadi mengikuti tren anak muda,” jelas Yoga.

“Kalau dilihat-lihat, kafe ini nggak punya banyak warna. Cuma putih, hitam, sama kuning. Jadi, semuanya simpel kayak gitu. Cuma kalo store yang di bawah konsepnya lebih minimalis,” tambahnya.

Yoga mengungkapkan, bisnis yang awalnya hanya dijalankan selama bulan puasa ini tidak disangkanya bisa menjadi cukup dikenal. “Jadi setelah lebaran, aku sama Adila kepikiran, kenapa nggak dilanjutin aja bisnis ini. Mumpung responsnya juga positif kan dari masyarakat. Akhirnya, kita memutuskan untuk buka store,” ujar pria asli Semarang ini.

Dua tahun setelah menekuni bisnis ini, Yoga dan Adila memutuskan untuk membuka cabang baru. “Ya, kalau dalam berbisnis kan strateginya emang harus growing, jadi di tahun yang kedua ini kita strateginya emang ekspansi bisnis, makanya akhirnya buka cabang pertama di Semarang,” jelas Yoga.

Dalam berbisnis, tentu ada hambatan atau tantangan yang harus dihadapi. Yoga mengaku, tantangan utama yang dihadapinya ketika merintis bisnis ini adalah background-nya yang tidak punya pengalaman dalam menjalankan bisnis kafe dan sejenisnya.

Selain itu, Yoga mengatakan bahwa dia dan temannya tidak punya konsultan bisnis yang bisa mengarahkan mereka dalam mengembangkan bisnis sejenis ini.

“Jadi, karena nggak ada background bisnis sebelumnya, kita berdua learning by doing. Belajar sambil menjalankan bisnis. Karena itu, kadang kita terkendala, kayak sumber daya manusia misalnya. Kita nyari-nyari tahu gimana sih cara merekrut karyawan yang bagus, cara me-manage karyawan juga trial dan error, terus masalah pasar juga sempat jadi kendala karena kita belum pernah bisnis di Semarang,” papar Yoga.

Meskipun tidak punya pengalaman bisnis sebelumnya, Yoga membuktikan bahwa Loffle tetap bisa berkembang. Dia melakukan banyak promosi melalui internet, seperti media sosial dan website. Karena dua media promosi tersebut dekat dengan target pasar, yakni anak muda.

Sejauh ini, omzet yang dihasilkan selama dua tahun cukup memuaskan. “Ini kan kita masih tahun kedua ya, untuk omzetnya sendiri kurang lebih Rp 600 juta-Rp 800 juta per tahun,” ungkap Yoga.

Meskipun demikian, Yoga tetap berusaha melakukan inovasi-inovasi agar usahanya terus berkembang.

“Kalau untuk inovasi, karena kita bergerak di bidang makanan, pasti menu itu udah yang paling utama. Jadi, kita regurally, mengadakan riset gitu untuk inovasi menu. Biasanya, kita adaptasi dari luar. Dessert apa sih yang lagi hype, terus kita lakukan inovasi dengan menyesuaikan selera lokal,” papar Yoga.

“Sedangkan untuk menghadapi persaingan dengan kafe-kafe sejenis, karena kita juga bukan termasuk yang paling murah, jadi kita memberikan pelayanan yang terbaik. Kita kasih kartu khusus untuk pelanggan yang loyal, intinya kita kasih reward sih, biar pelanggannya juga jadi senang,” jelasnya.

Berkat usaha dan kerja kerasnya, Loffle mendapatkan beberapa penghargaan, di antaranya penghargaan The Best Merchant untuk penukaran poin terbesar dari Telkomsel, kemudian menjadi Top 3 The Best Dessert di Semarang, dan juga Top 20 Merchant Terpopuler di Semarang. (*/aro)